|
DESA Tanjung Bungo, Bonjol, salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, pernah 'melahirkan' sosok pahlawan nasional, sekaligus salah satu tokoh Perang Paderi. Beliau adalah Peto Syarif Tuanku Imam Bonjol, tokoh pemuka agama yang cukup berwibawa di desanya. Saat itu, desa yang ditinggali Tuanku Imam Bonjol terlibat dalam pertikaian antara golongan agama yang menginginkan pemurnian kembali ajaran Islam, yang dipelopori oleh Haji Miskin, dengan golongan adat yang tidak menghendaki hal tersebut.
Saat itu, seperti wilayah Indonesia lainnya, Sumatera Barat, khususnya Pasaman, juga dikuasai oleh kolonial Belanda. Oleh karena menyadari kerugian yang ditimbulkan akibat pertikaian antar-saudara ini, maka Peto Syarif berusaha menghentikannya dengan mempersatukan kedua golongan tersebut untuk bersama-sama melawan penjajah Belanda. Usaha beliau berhasil dan sejak itu, peperangan melawan Belanda yang lebih dikenal dengan Perang Paderi (1821-1830), dimulai. Namun sayang, terlalu banyak permasalahan pada kubu Tuanku Imam Bonjol yang akhirnya menyebabkan beliau dan pengikutnya mengalami kekalahan melawan Belanda. Selain dicatat sejarah karena telah 'melahirkan' seorang pahlawan nasional seperti Tuanku Imam Bonjol, Pasaman juga memiliki kenyataan penting lain untuk diketahui. Kenyataan yang juga terkait dengan sejarah tersebut adalah ditemukannya Pasaman sebagai salah satu tempat tinggal nenek moyang bangsa Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya situs peninggalan bersejarah di wilayah ini beberapa tahun lalu. Sayangnya, belum diketahui berasal dari zaman apa situs tersebut berasal. Situs yang terdiri atas beberapa bangunan bekas candi itu, hingga saat ini, masih diteliti oleh para arkeolog. Patut disesali, keberadaan peninggalan bersejarah ini kurang begitu mendapat perhatian masyarakat. Areal sekitar candi Mahligai dan candi Putri Sangkar Bulan, dipenuhi semak belukar. Bangunan candi Mahligai sendiri sekitar delapan tahun lalu telah rata dengan tanah, sedangkan candi Putri Sangkar Bulan nyaris tinggal puing. Proses 'penghancuran' keempat candi (candi Putri Sangkar Bulan terdiri atas tiga bangunan candi) tersebut disebabkan karena adanya proyek pembangunan saluran irigasi di Kecamatan Panti, Pasaman. Jika sektor pariwisata kurang berkembang di Kabupaten Pasaman, tentu bukan merupakan alasan bagi Pemda untuk tidak menggarap potensi wisata yang dimiliki wilayah yang salah satu kecamatannya, Kecamatan Bonjol, dilewati garis khatulistiwa 0 derajat ini. Padahal, pariwisata tidak hanya terkait pada satu sektor saja, melainkan bergantung pada sektor-sektor lainnya. Dapat dikatakan, pariwisata tidak pernah menjadi sektor hulu atau hilir, melainkan berada di tengah-tengah seperti pusaran air yang menghisap sektor lain untuk mendukung keberadaannya. *** Apabila sektor pariwisata kurang 'berbicara' pada aktivitas perekonomian Kabupaten Pasaman, hal itu disebabkan karena selama ini, kontributor utamanya berasal dari sektor pertanian. Setiap tahun, kontribusi sektor pertanian pada kegiatan ekonomi Pasaman, selalu mengungguli sektor lainnya. Seperti pada tahun 1999, pertanian menyumbang Rp 604 milyar lebih dari sekitar Rp 1,4 trilyun rupiah total kegiatan ekonomi Kabupaten Pasaman. Kegiatan ekonomi penduduk Kabupaten Pasaman yang mengandalkan sektor pertanian ditopang dengan jumlah tenaga kerja yang sebagian besar bermata pencaharian di sektor ini. Angkatan kerja di Pasaman yang berusia 10 tahun ke atas, pada tahun 1999 tercatat sebanyak 256.354 jiwa. Dari jumlah itu, 247.294 orang atau sekitar 96 persennya telah bekerja. Dari total penduduk bekerja, 72 persennya bekerja di sektor pertanian. Penghasil rupiah terbesar di sektor pertanian berasal dari subsektor tanaman pangan. Meski demikian, Kabupaten Pasaman lebih dikenal karena produksi kelapa sawitnya, yang merupakan komoditas primadona subsektor perkebunan. Tanaman ini tersebar di 6 kecamatan, antara lain kecamatan Sungai Beremas, Lembah Melintang, Gunung Tuleh, Kinali, Ranah Bantahan, dan Pasaman. Di beberapa wilyah di kecamatan Bonjol dan Rao Mapat Tunggul (dua kecamatan sebelum dimekarkan menjadi kecamatan III Nagari dan Mapat Tunggul), beberapa waktu lalu juga mulai diusahakan untuk penanaman komoditas unggulan ini. Pada tahun 1999, produksi kelapa sawit di Kabupaten Pasaman tercatat 566.957 ton. Jumlah tersebut dipanen dari areal seluas 63.249 hektar. Salah satu kecamatannya yaitu Pasaman, menjadi wilayah penghasil utamanya dengan menyumbang 65 persen dari total produksi. Kawasan Simpang Ampat yang terdapat di kecamatan ini, bahkan dikenal sebagai pusat perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Pasaman. Di samping kelapa sawit, kabupaten terluas di Provinsi Sumatera Barat ini juga dikenal akan produksi minyak nilamnya. Minyak nilam yang dihasilkan Pasaman, selain yang dihasilkan Kepulauan Mentawai, merupakan yang terbaik di dunia. Bahkan, industri minyak nilam yang tergolong industri kecil di wilayah ini, termasuk dalam lima besar industri kecil di wilayahnya. (Palupi P Astuti/ Litbang Kompas) http://www.kompas.com/kompas-cetak/0105/08/NASIONAL/kabu08.htm
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |