Belum hilang rasa kecemasan dan ketakutan akan Tsunami di Padang, Gunung Talang yang berketinggian 2.800 meter diatas permukaan laut, yang terletak di kabupeten Solok, meletus Selasa dini hari sekitar 03.42 WIB. Letusan Gunung Talang ini bersifat freatik, artinya hanya mengeluarkan material di permukaannya, berupa abu vulkanik namun cukup untuk menutupi jalan-jalan, ladang, hingga perkebunan teh di sekeliling gunung
Pihak Vulkanologi sumbar, menghimbau agar masyarakat mengungsi paling tidak sejauh 1km dari pusat letusan. Sampai pukul 12.20 siang, sudah terjadi lima kali letusan terjadi dan 4 nagari dinyatakan berstatus awas (Level III) yaitu : Bukit Batu dalam, Bukit Sileh, Batu Bajanjang dan Batu Hanya. Dan alhamdulillah masyarakat dinagari ini sudah mengungsi.
Sedikit Data Gunung Talang
Sejarah Letusan
1833 - Korthals melihat suatu letusan dari Padang dalam Oktober 1833, berupa tiang asap tebal dan batu membara, yang disemburkan dari kawahnya (Junghunhn,1853, p.1243). Neumann van Padang ( 1951, p.29 ) menganggapnya sebagai esplosi normal dalam kawah parasit. 1843 - Kern ( 1845, p.94 ) melaporkan terjadi letusan pada 21 Oktober. 1845 - Stumpe menggambarkan tiang asap raksasa berwarna hitam yang besar pada 22 April, hinggga rakyat menjadi panik karenanya. Letusannya terjadi juga dari kawah parasit (Junghuhn, 1853 p.1243 ). 1883 - Verbeek ( 1883, p.505 ) menyebut – nyebut adanya dua buah rekahan dengan jurus timurlaut-baratdaya.Yang giat adalah rekahan sebelah selatan. Neumann van Padang ( 1951,p.29 ) mencantumkannya juga sebagai letusan dari kawah parasit. 1963 - Kenaikan kegiatan 1967 - Seorang pengamat gunungapi melaporkan, bahwa pada 10 Oktober terdapat kenaikan kegiatan tembusan fumarola pada sebuah celah sepanjang lk 800 m selebar 10 hingga 50 m dengan jurus timurlaut. Kegiatan utamanya terjadi pada 7 lubang utama,lk 200 m dibawah puncak. Tidak terjadi letusan ( Kusumadinata, 1967, p.3 ). 1972 - Tidak ada hal yang menyolok. Suhu mataair panas batu barjanjang pada 9 September adalah 58oC (55oC dalam Juni 1952 dan 61oC dalam Nopember 1967 ). 1981 - 23 Maret terdengar suara gemuruh dan asap tebal serta bau belerang kuat, yang sebelumnya didahului oleh adanya gempa yang terjadi sejak Agustus 1980 hingga Maret 1981
|
Lapangan fumarola |
Juni 1952 |
Nop. 1967 |
9 Sept 1972 |
Okt 2001 |
| 1. Gadang Atas I |
95oC |
96oC |
95o, 80oC |
115 o C |
| 2. Gadang Atas II |
95oC |
96oC |
92o, 94o, 94oC |
110 o C |
| 3. Belerang Tanah |
97oC |
86oC |
93 o , 88o, 94oC |
100 o C |
Karakter Letusan Letusan bersifat explosive
Periode Letusan Periode letusan tidak jelas, pada abad 19 periode letusan hampir 10 tahun, namun pada abad 20 tidak ada letusan besar yang berarti, yang terjadi hanya beberapa kali kenaikan kegempaan yang disertai adanya hembusan asap yang berbau belerang kuat di sekitar kawah.
MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI
Sistim Pemantauan Pemantauan kegiatan G. Talang dilakukan di pos PGA G. Talang yang terdapat di daerah Batu Barjanjang pada posisi 100o 42’ 10” ketinggian 1393,93 m dpl. Kegiatan pemantauan berupa pemantauan seismik (kegempaan) yang menerus selama 24 jam, dengan seismometer PS - 2 Kinemetrik sistim pancar dan sensor diletakan di lereng G. Talang pada bagian atas dari mata air panas.
Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran suhu air panas, fumarola dan solfatara serta pengamatan warna asap, tinggi asap dan kekuatan hembusannya, yang dilakukan secara rutin dan dilaporkan setiap hari ke Direktorat vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui SSB.
Pemantauan secara berkala (kegempaan deformasi) dilakukan disaat-saat gunungapi mengalami peningkatan, misal kegempaan, seperti pada tahun 2001.
Peta Daerah Bahaya Dalam mengantisipasi sebelum terjadinya bencana letusan gunungapi, khususnya G. Talang, Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, telah menerbitkan Peta Daerah Bahaya, yang bertujuan untuk memberikan petunjuk kemana arah bahaya dan kemana tempat menghindar/mengungsi bila terjadi letusan G. Talang, yang terbagi menjadi, Daerah Bahaya dan Daerah Waspada.
Daerah Bahaya adalah daerah yang mudah terjangkau oleh hasil letusan Gunungapi seperti oleh aliran lava, aliran piroklastik dan oleh jatuhan batu pijar, sedangkan daerah Waspada adalah daerah yang kemungkinan terlanda terutama oleh akibat sekunder, yaitu aliran lahar.
Daerah bahaya berada di sekitar puncak mulai dari ketingian 1300 sampai ke puncak, termasuk sebagian desa Kubang Kacik, Bale Ateh dan Batu Barjanjang, meliputi seluas 76,1 km2.
Daerah Waspada tersebar dari ketinggian 1200, pada radius 8 km dari puncak, menyebar ke sungai yang berhulu di G. Talang diantaranya mengikuti lembah sungai Muara Gauang, dan Bt. Sumani, termasuk sebagian Kecamatan Lembang Jaya, meliputi Nagari Koto Anau, Batubanyak, Koto Lawas, Kampung Batu dan Simpang Tanjung nan Ampek, seluruh nagari di Kecamatan G. Talang dan sebagian Kecamatan Bukit Sundi, Kubung dan Singkarak.
Dikutip dari berbagai Sumber |
1. Mangungsi Ditulis oleh SaidiBandaro pada Rabu, 13 April 2005 Kampuang urang rumah ambo di Simpang Tanjung nan ampek, kaluarga di sinan alah pai mangungsi sajak jam 4 subuah hari salasa , manuruik kaba dari kampuang urang lah banyak nan mangungsi ka simpang tj nan IV, manuruik berita di ANTV tadi pagi frekwensi gempa nan tajadi dek gunuang alah bakurang dari satiok 15 menit jadi 1 jam, mudah-mudahan di kampuang kito ndak tajadi bancano nan labiah gadang | 2. Urang Kec. Gunung Talang Ditulis oleh bagindosati pada Senin, 18 April 2005 Ambo Urang Talang, tapeknyo Dsn, Aro Talang. Kec. Gunung Talang. Kondisi terakhir di Kec. Gunung Talang tu baa kolah. Kok bisa saketek cimbuak manggambarkan kaadaan Dsn Aro Talang tu. rasonya tajawek tanyo. Sabaik salamoko hub. Telp. ambo jo kaluarga di sinan indak bisa. Tarimo kasih |
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |