Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Pisau gadang pisau tambatu
Dibaok urang ka taluak bayua
Di makan anak dari salido
Rumah gadang basandi batu
Adat basandi alua
Alua nan kaganti rajo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Etika Orang Minang Semakin Merosot? PDF Print E-mail
Written by Ahmad Syafii Maarif   
Sunday, 26 June 2005
Sesungguhnya kuranglah elok rasanya mengkritik sikap keseharian suku sendiri. Bukankah itu bagaikan menepuk air di dulang, akan tepercik ke muka sendiri?
Tetapi, masalahnya adalah kenyataan semakin banyaknya keluhan perantau Minang yang pulang kampung. Mereka merasakan ada sesuatu yang kurang beres dalam kultur Minang kontemporer, terutama yang berkaitan dengan etika dan tatakrama terhadap tamu.

Seorang dirjen asal Minang pernah mengeluh kepada saya betapa berubahnya masyarakat Minang sekarang; tidak memedulikan tamu, padahal tamu itu datang untuk memberikan bantuan. Ini tidak berarti bahwa tamu itu ingin diperlakukan seperti raja. Tidak! Yang mereka ingin lihat adalah sikap wajar dari masyarakat terhadap kedatangannya.
Kewajaran inilah yang semakin punah dari ranah itu. Mengapa demikian? Tentu perlu penelitian yang komprehensif tentang faktor-faktor penyebab kekurangramahan ini.
Keluhan yang mirip saya terima beberapa hari yang lalu dari seorang petugas PWM [Pimpinan Wilayah Muhammadiyah] Sumatra Barat ketika mengantarkan barang cetakan ke sebuah PDM [Pimpinan Daerah Muhammadiyah] di suatu kota. Bertanyalah ia kepada polisi tentang alamat yang sedang dicari. Yang didapatkan adalah sikap acuh tak acuh dari aparat negara itu, padahal alamat itu benar-benar diperlukannya.
Tidak saja polisi, rakyat biasa pun punya sikap serupa. Tidak terlihat sikap ingin membantu orang yang memerlukan. Tentu tidak semua demikian. Ada saja yang ramah, tetapi merosotnya etika dan tatakrama sudah semakin dirasakan di lingkungan masyarakat yang punya semboyan ''adat basandi syara', syara' basandi Kitabullah.''
Di mana adat, di mana syara', jika hubungan antarmanusia sudah gersang dan tandus? Nilai-nilai budaya berupa keramahan dan sifat suka menolong sudah semakin hilang dan jauh dari sikap umumnya orang Minang. Bukankah adat dan syara' mengajarkan hormat terhadap tamu? Maka, tidaklah mengherankan bila kita menyaksikan kenyataan tentang semakin panjang saja daftar perantau yang tidak betah tinggal agak lama di kampung, padahal ia sangat mencintai tanah kelahirannya. Dan, tidak sedikit di antara mereka yang telah menyisihkan sebagian rezekinya, demi kampung.
Adat ''pulang basamo'' masyarakat Sulit Air misalnya adalah di antara contoh yang menonjol mengenai kecintaan perantau terhadap kampungnya, sekalipun sebagian mereka lahir di perantauan. Tetapi, Minang sekarang sudah seperti sri-gunung; jauh terlihat rancak (cantik), dekat penuh borok. Masyarakat sudah larut dalam pragmatisme-materialistik.
''Adat basandi syara', syara' basandi Kitabullah'' semakin mengawang jauh tinggi di langit, tidak lagi membumi. Ini realitas pahit yang dikeluhkan oleh banyak perantau Minang kepada saya. Bukan karena apa-apa, tetapi semata-mata untuk menunjukkan keprihatinan mereka yang dalam terhadap suasana kampung halamannya yang kehilangan rasa persahabatan yang tulus.
Apakah masjid tidak lagi berfungsi? Masih, tetapi khutbah dan penerangan agama sudah semakin tidak efektif. Agama tidak fungsional dalam menuntun kelakuan umat. Tentu gejala semacam tidak hanya di Minang, tetapi hampir merata di seluruh Tanah Air, bahkan di berbagai pojok dunia Muslim yang sedang jatuh, kehilangan wibawa.
Oleh sebab itu, Minang sebagai bagian dari masyarakat Muslim universal, secepatnya harus bersedia berkaca diri, melihat kekurangan dan kelemahan yang ada, kemudian bulatkan tekad untuk berubah, menuju pencerahan peradaban lahir-batin. Masa depan ranah ini tidak boleh dikorbankan oleh kecenderungan pragmatisme-materialistik, demi raihan kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek.
Korupsi berjamaah di kalangan sementara politisi, jangan diulang lagi pada masa-masa yang akan datang. Ingat senantiasa bahwa Minang adalah wilayah mayoritas Muslim yang tidak boleh larut dalam arus deras sejarah yang serba memukau tetapi menghancurkan nilai-nilai tertinggi dan terdalam yang kita anut selama ini.
Petatah-petitih di kalangan pemuka adat yang padat makna, tidak boleh hanya singgah sebagai perhiasan tutur, tetapi perlu penghayatan yang sungguh-sungguh. Kembali ke surau bermakna kembali kepada akar kultur kita yang Islami, tidak semata-mata untuk belajar mengaji.
Waktu sudah sangat tinggi bagi si Minang untuk berbenah diri, atau terus meluncur menjadi manusia tunamartabat. Perantau akan terus meratap bila perbaikan kualitas hidup secara sungguh-sungguh tidak dimulai sekarang juga, tanpa menunggu dan menanti lagi.

Sumber :http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=202369&kat_id=19

Trackback(0)
Comments (2)add comment

Tamu said:

Rasulullah SAW bersabda,"Seorang Muslim yang baik adalah yang apabila orang lain aman dari gangguan lisan dan tangan nya" Manusia yag baik adalah yang banyak memberi manfaat untuk orang lain,bukan mengharapkan manfaat dari orang lain.apalagi memanfaatkan orang lain untuk kepentingan sendiri dan golongan.Untuk medidik oranglain.mulai lah dengan mendidik diri sendiri.
 
report abuse
vote down
vote up
June 15, 2006
Votes: +0

ranset74 said:

Jalan alah dialiah dek urang lalu, iyo baitu kampung kito "Minangkabau" hari kini.
baa ka aka lai, cantang parenang. Kok urang rantau, inyo pandai maupek sajo, inyo pikie, jo pitih sajo kampuang ko mudah se diuruih. Nan tingga dikampuang baitu pulo, pandai indak, kok pandai lah pulo ka rantau, kabanyakan tingga se nan pakak-pakak. a lah nan ka dibuek dek nan sipakak, yo indak ado doh, salain dari minta sadakah, sampai jo manggadai, anak dijua, kamanakan dijua, a nan laku, urang paralu gala, gala kito jua.

KARANO ITU,

karatau madang dihulu
baputiak babungo balun
marantau bujang dahulu
dirumah panguno balun

oi urang rantau, jaan sampai mati pulo di tanah rantau, pulang lah lai, bangun kampuang, ijan bacurito sajo. bujang lah panguno dikampuang kini.
Tak elok manapuak aie didulang, beko tapacak muko awak surang.


null
 
report abuse
vote down
vote up
October 12, 2006
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 9 guests and 6 members online
Generated in 0.75298 Seconds