|
1. Articles
KISAH 1000 KELERENG
Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.
 August 17, 2004  ********************************************************************* Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.
Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang- bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil "Tom". Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.
"Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat".
Ia melanjutkan : "Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku".
Lalu mulailah ia menerangkan teori "seribu kelereng" nya." Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting".
"Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini", sambungnya, "dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati".
"Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya".
"Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu".
"Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku berfikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi".
"Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!"
Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar ! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
"Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan". "Lho, ada apa ini...?", tanyanya tersenyum. "Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial", jawabku, "Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng."
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui) Dikutip dari Indonesian groups
********************************************************************* 2. Reflection
Rekan-2 sekalian, masih berapakah kelereng yang tersisa dalam kantong anda ?
Dari setiap satu kelereng yang telah terbuang, apakah yang telah anda dapatkan ?
Apakah ……………….. kesedihan keraguan kebosanan rasa marah putus asa hambatan permusuhan pesimis kegagalan ?
ataukah ………………… kebahagiaan kepercayaan antusias cinta kasih motivasi peluang persahabatan optimis kesuksesan ?
Waktu akan berlalu dengan cepat. Tidak banyak kelereng yang tersisa dalam kantong anda saat ini. Gunakan secara bijak untuk memberikan kebahagiaan yang lebih baik bagi anda sendiri, keluarga, dan lingkungan anda.
Sukses untuk anda !
- Fitri - Moderator
********************************************************************* 3. Personal Development Tips
CARA MENJADI KAYA
Pertanyaan pertama : siapa yang MAU menjadi kaya ? Semua orang pasti akan angkat tangan.
Pertanyaan kedua : siapa yang BERUSAHA untuk menjadi kaya ? Hanya sebagian saja yang angkat tangan
Pertanyaan ketiga : Siapa yang SUDAH kaya ? Jumlah yang angkat tangan lebih sedikit lagi.
Apa yang salah disini ?
Pada pertanyaan pertama, orang hanya ditawari saja suatu keadaan. Tidak sulit, karena mereka tinggal bilang mau atau tidak. Pada pertanyaan kedua, sudah menjurus ke tindakan yang akan anda lakukan untuk mencapai pertanyaan pertama tersebut. Disini orang yang menjawab positif tidak sebanyak di pertanyaan pertama. Bermacam-macam penyebabnya. Mengapa ? Orang mau kaya secara cepat, kalau bisa secara instan tanpa perlu bekerja keras. Alasan kedua, mereka mau bekerja keras, tapi `not in the right track' sehingga kerja keras mereka tidak membuahkan hasil sesuai yang mereka harapkan. Alasan ketiga, mereka tidak tahu, harus mulai darimana. alasan terakhir, mereka merasa cukup hidup yang biasa-biasa saja, tidak perlu terlalu ambisius. "Ora usah ngoyo", begitu kata orang Jawa. Pada pertanyaan ketiga adalah pada hasil, apakah hasil kerja anda di pertanyaan kedua membuahkan hasil yang memuaskan. Hanya orang yang sudah berhasil di pertanyaan kedua yang bisa ikut angkat tangan disini. Sebenarnya, gimana sih cara untuk menjadi kaya, terutama secara mudah kalau bisa ?
Ada beberapa cara lain untuk kaya secara mudah. Yang pertama adalah lahir sebagai anak orang kaya. Jadi berbahagialah anda yang lahir dengan nama belakang Onassis, Walton, atau Rockeffeler. Karena begitu lahir anda cukup angkat tangan untuk menjawab pertanyaan ketiga saja. Bahkan Robert Kiyosaki, dalam salah satu seminarnya pernah mengatakan, pada waktu kecil dia berharap nama keluarganya bukan Kiyosaki, namun Kawasaki. Yang kedua adalah kawin dengan anak orang kaya. Namun apabila anda sudah menikah dan tidak mendapatkan `kesempatan' ini, anda bisa dengan cara ketiga, yaitu mempunyai menantu orang kaya. Masih ada beberapa cara lagi, namun yang berikut ini lebih mengandalkan dewi fortuna, misalnya anda menang undian, atau dapat warisan mendadak dari keluarga anda. Kalau dari semua cara instan tersebut anda tidak berhasil, berarti anda memang harus menggapainya melalui jalur kerja keras.
Di dalam buku pemasaran klasik "Horse Sense" karya Jack Trout dan Al Ries, dikatakan disana ada 3 cara untuk menjadi kaya secara instan, yaitu (1) marry a rich person, (2) steal in nice, legal way; or (3) get to know the right people.
Cara ketiga ini yang menarik. Bertemu dengan orang yang tepat. Kerja keras (hard work) saja tidak menjamin orang menjadi kaya. Perlu juga diimbangi dengan kerja cerdas (smart work). Robert Kiyosaki termasuk beruntung bertemu dengan orang yang tepat, yaitu `Rich Dad'nya. Orang yang tepat adalah orang yang bersedia menjadi mentor kita, serta mau membimbing kita. Tentunya dia sendiri juga sudah kaya, jadi bimbingan yang diberikan bukan cuma teori doang, tapi pengalaman. Pengalaman itu mahal harganya, karena dengan belajar dari pengalaman orang lain anda akan terhindar dari `lubang jebakan' kegagalan. Dengan adanya mentor, proses anda akan lebih cepat daripada jalan sendiri.
Nah, dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti apa sih orang yang tepat itu ? Tidak mudah memang menemukan orang yang tepat. Kalaupun misalnya anda sudah ketemu dengan orangnya, belum tentu juga dia mau membimbing anda. `Orang' yang tepat tidaklah selalu membimbing anda secara langsung, bisa juga teknik, system, prinsip, kisah sukses orang lain, tokoh idola, maupun suatu kebijaksanaan (wisdom). Tidak usah berpikir terlalu rumit, mulailah dari sekitar anda saja. Adakah suatu kebijakan atau seseorang yang sudah sukses yang bisa anda contoh ? Kalau ada, cobalah untuk mengamati bagaimana proses yang dia lakukan selama ini.
Lalu bagaimana mengetahui bahwa prinsip atau mentor yang akan kita contoh itu tepat ? Just Do It, seperti kata Nike. Lakukan saja. Lakukan ini semua secara fleksibel, artinya jika satu mentor tidak sesuai dengan anda cobalah cari mentor lain. Jangan pula takut gagal, karena kita akan lebih banyak belajar dari kegagalan daripada keberhasilan. Tidak ada pula aturan yang melarang anda mempunyai beberapa mentor / prinsip sekaligus. Mungkin dengan merangkum kebijakan-2 tersebut, anda bisa menciptakan suatu prinsip baru yang sesuai dengan anda.
Sukses untuk anda !
- Sonny V. Sutedjo - (Artikel pernah dimuat di Majalah Pengusaha Sep 2003)
********************************************************************* 4. Motivational Quotes
You see, in life, lots of people know what to do, but few people actually do what they know. Knowing is not enough. You must take action ! - Anthony Robbins -
Only those who can see the invisible, can accomplish the imposibble - Patrick Snow -
Effective People are not problem-minded ;they're opportunity minded. They feed opportunities and starve problems - Stephen Covey -
Do the thing you fear to do and keep on doing it … That is the quickest & surest way ever yet discovered to conquer fear - Dale Carnegie -
There are only two tragedies in life : one is not getting what you wants, and the other is getting it - Oscar Wilde -
If you don't throw the dice, you will never land a six - Old Chinese proverb -
Happiness cannot be travelled to, owned, earned, worn or consumed. Happiness is the spiritual experience of living every minute with love, grace, and gratitude." - Denis Waitley -
Success doesn't come to you… you go to it - Marva Collins -
It's not the will to win, but the will to prepare to win that makes the difference - Paul "Bear" Bryant -
Motivation is the art of getting people to do what you want them to do because they want to do it." - Dwight D. Eisenhower -
********************************************************************* 5. From Members To Members
WINNERS VS LOSERS
The Winner says,"It may be difficult but it is possible" The Loser says ,"It may be possible but it is too difficult"
When a Winner make a mistake, he says ,"I was wrong" When a Loser make a mistake, he says ,"It wasn't my fault"
The Winner is always part of the answer The Loser is always part of the problem
Winner chooses what they say Loser say what they chooses
The Winner sees an answer for every problem The Loser sees a problem for every answer
Winner sees the gain Loser sees the pain
The Winner says ,"Let me do it for you" The Loser says ,"That's not my job"
Winners believe in win win Loser believe win for them and someone has to lose
A winner makes commitments A Loser makes promises
Winner sees the potential Loser sees the past
Winner makes it happen Loser wait it happen
A winner creates vision A Loser creates imagination
A winner says "I am doing it" A Loser says "I'll do it"
Which are you ?
Sumber : 1000 Quotes about Life
Kiriman dari Sandra P. Universitas Sam Ratulangi - Menado
Â
Â
MEMBERI HARAPAN KEPADA ORANG LAIN
Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.
Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.
Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.
Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.
"Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan.
Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah."
Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela Dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah. Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.
Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu.
Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat Untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu.
Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatu ya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.
Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!
Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang Membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.
"Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup," kata perawat itu
Dikutip dari BidadariWords
Kiriman dari Surbakti – Medan
******************************************************************** 6. Success Profile BANG SOO HYUN
Barcelona, Spanyol tahun 1992.
Ini adalah saat yang paling berharga yang mungkin hanya lewat sekali saja dalam hidupku. Aku masuk dalam final bulutangkis tunggal putri olimpiade tahun 1992. Sejenak aku merenung. Aku membayangkan diriku sejak kecil yang berlatih bulutangkis. Banyak latihan berat sudah kujalani. Karena bulutangkis pula, aku bisa mengangkat diriku ke percaturan bulutangkis dunia. Tapi, karena bulutangkis pula, aku harus mengorbankan sekolahku, dunia remajaku dan kehidupan sosialku. Hari-hariku hanyalah berlatih, berlatih dan berlatih. Di Korea, sistem pelatihan sangat keras dan disiplin. Suatu pelanggaran kecil sekalipun, akan memperoleh hukuman yang berat. Aku hanya berusaha agar bisa berlatih keras dan mentaati semua aturan yang ada.
Besok, semua penantian itu akan terjawab. Aku ingin sekali meraih gelar tersebut. Rasanya, semua pengorbananku akan terbayar kalau aku bisa menjadi juara.
Dan hari pertandingan itu tibalah ……… Aku memasuki lapangan dengan hati yang tegar. Aku merasa, bahwa aku memang pantas tampil di final. Saat itu, aku adalah pemain tunggal putri peringkat dua dunia. Dan di lapangan seberang, adalah pemain nomor satu dunia yang akan kuhadapi. Dialah Susi Susanti. Susi adalah sahabat karibku di luar lapangan. Tapi di dalam lapangan, aku harus bersikap profesional dan menganggap semua lawan musuh. Hampir tidak ada yang menyangkal bahwa Susi adalah pemain bulutangkis terbaik wanita yang pernah dilahirkan.Gerakannya di lapangan begitu indah, bagaikan orang menari. Tapi aku tidak takut. Aku punya satu kekuatan untuk menghadapinya. Ya, aku adalah satu-satunya pemain di dunia yang pernah mengalahkannya lebih dari dua kali.
Set pertama terasa begitu mudah. Kelemahan Susi yang lambat panas menjadi peluang yang besar bagiku untuk menyerang. Dan memang, akhirnya set pertama berhasil kuraih. Set kedua aku juga cepat menyerang dan memimpin angka sementara. Sampai di tengah-2, tiba-2 Susi merubah permainannya dengan menyerang. Aku menjadi gugup. Tidak biasanya Susi bermain seperti ini. Angka demi angka dia raih. Aku berusaha sekeras mungkin mengejarnya. Tapi aku tidak mampu. Susi merebut set kedua.
Jeda 5 menit sebelum set ketiga. Rasa ketakutan menguasai hatiku. Aku takut sekali kalah. Instruksi pelatih hanya sekedar lewat di telingaku, karena suara hatiku lebih menguasai pikiranku.
Set ketiga dimulai. Susi benar-benar menguasai pertandingan. Aku tidak mampu mengatasinya. Angka merayap naik terus …… dan aku akhirnya KALAH.
Di atas panggung kemenangan, aku berdiri di samping Susi yang menerima medali emas. Susi menangis gembira, sedang aku menangis sedih. Aku merasa hatiku sangat hancur. Aku hanya merasa, semua pengorbananku selama ini sia-sia. Aku memang hanya pantas menjadi pemain nomor dua. Dan mungkin memang hanya sampai disinilah batas kemampuanku. Tidak mungkin aku melangkah menjadi lebih baik lagi.
Aku sempat mempunyai pikiran untuk mengundurkan diri dari bulutangkis, karena merasa sudah mentok. Apalagi dengan adanya kegagalan yang menyakitkan itu. Aku juga berpikir, apa mungkin aku ikut olimpiade lagi 4 tahun kemudian. Aku pasti sudah cukup berumur saat itu. Tapi hati kecilku berkata lain. Hatiku mengatakan bahwa aku AKAN MERAIH EMAS di olimpiade berikutnya. Aku cukup lama memikirkan pertentangan di dalam hatiku ini. Aku bersyukur pula, bahwa pelatih, keluarga dan orang-2 terdekatku memberikan semangat kepadaku. Akhirnya, suara hatikulah yang menang. Dan aku akhirnya kembali berlatih dengan keras.
Waktu demikian cepat berlalu, hingga akhirnya sampailah di tahun 1996. Olimpiade kali ini diadakan di Atlanta, Amerika Serikat. Tidak banyak yang kuingat dalam pertandingan awal. Hingga akhirnya aku kembali harus bertemu Susi di babak semifinal. Aku merasakan motivasi yang luar biasa di dalam hatiku kali ini. Aku berpikir, bahwa kekalahan yang kualami 4 tahun lalu telah memberikan pelajaran berharga. Aku harus memanfaatkan pelajaran tersebut.
Set pertama dimulai. Susi dengan gayanya yang khas mulai mengontrol permainan. Aku melihat ke mata Susi. Dan saat itulah motivasiku kembali berkobar. Aku berpikir, bahwa inilah puncak dari segala kerja keras yang kulakukan selama ini. Motivasi yang tinggi untuk menang benar-benar membakar seluruh diriku. Aku seolah tidak punya rasa capek. Aku mengejar seluruh bola hingga ke sudut-sudut lapangan. Perubahan permainanku ini mengejutkan Susi. Dan satu pukulan terakhir yang tidak bisa dikembalikan Susi membuatku unggul 11-9 di set pertama.
Aku ingat peristiwa empat tahun lalu. Saat itu aku juga unggul di set pertama, namun kalah di dua set berikutnya. Hal ini tidak boleh terjadi lagi. Aku harus KONSISTEN dengan permainanku seperti set pertama.
Set kedua dimulai. Aku kembali menekan dengan cepat. Susi beberapa kali merubah gaya permainan dari cepat ke lambat, kemudian ke cepat lagi, dengan harapan agar aku terpengaruh. Tapi tekadku sudah bulat untuk menang saat itu. Aku tidak memberikan kesempatan bagi Susi untuk berkembang. Satu smes ke belakang membuatku menang di set kedua dengan 11-8. Ya aku menang. Aku kembali melangkah ke final olimpiade.
Aku bersyukur kepada Tuhan, bahwa aku masih diberi kesempatan maju ke final untuk kedua kalinya. Aku tahu, bahwa kesempatan ini adalah yang terakhir. Tidak mungkin aku masih bisa ikut olimpiade empat tahun lagi. Komitmenku untuk menang harus terlaksana.
Di Final, sudah menunggu pemain Indonesia lainnya, Mia Audina. Aku tahu, bahwa Mia pasti mengalami perasaan yang sama seperti diriku empat tahun lalu. Dengan pengalamanku yang lebih senior, posisi Mia adalah underdog. Aku harus memanfaatkan keunggulan ini.
Set pertama dimulai. Aku langsung menekan. Kulihat mata Mia, dan nampak sedikit keraguan disana. Aku tetap konsisten dengan permainan cepatku. Beberapa kali keraguan Mia membuatku meraih angka dengan cepat. Aku menutup set pertama ini dengan 11-6.
Set kedua dimulai. Aku meraih angka-angka pertamaku dengan cepat. Setiap kali satu angka kuraih, aku sengaja berteriak untuk membakar semangatku. Di lain pihak, teriakanku ini memberikan teror mental kepada Mia. Mia nampak grogi di set kedua ini. Beberapa angka kuraih lagi dari kesalahan kecil yang dibuat Mia sendiri. Aku semakin mempercepat permainanku. Dan akhirnya aku berhasil menutup set kedua ini dengan 11-7.
Aku langsung membuat tanda salib di lapangan. "Terima kasih Tuhan, bahwa kau memberikan karunia ini kepadaku". Saat itu aku merasa bahwa semua kesedihanku dan kegundahanku langsung lenyap dengan kemenangan ini. Inilah hasil kerja kerasku selama ini.
Di panggung kehormatan, aku berdiri tegap bersama Mia dan Susi. Sambil mendengarkan lagu kebangsaan Korea diputar, aku menatap ke seluruh penonton. Mereka tidak henti-hentinya memberikan tepuk tangan yang meriah. Aku pun menangis. Ya, tangis kemenangan yang sempat tertunda empat tahun, akhirnya tercurah juga hari itu.
Sejenak aku kembali merenung. Empat tahun yang lalu, aku berdiri di sini sebagai juara kedua. Dan kini empat tahun kemudian, aku berdiri sebagai juara pertama. Tuhan juga menunjukkan arah yang berbeda padaku. Dulu, aku merasa bahwa dengan kekalahan itu, semua hasil latihanku sia-sia belaka. Tapi dengan rahmat Tuhan, aku bisa melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Aku melihat bahwa sebenarnya Tuhan masih bermurah hati dengan memberikan kepadaku waktu `latihan tambahan' sebanyak empat tahun lagi. Aku akhirnya `tidak punya waktu lagi untuk menangis', karena SETIAP DETIK WAKTU YANG KUGUNAKAN UNTUK MENANGIS, BERARTI HILANG PULA WAKTUKU SATU DETIK UNTUK BERLATIH.
Aku merasa, bahwa kekalahanku empat tahun lalu memberikan diriku pelajaran yang sangat berharga. Bukan dari segi teknik permainan, namun kekalahan itu mengajarku tentang KETABAHAN, KEMATANGAN DIRI dan MOTIVASI.
Dan saat ini, diatas panggung ini, aku ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa aku bisa bangkit dari seorang pecundang, untuk berjuang MENJADI SEORANG PEMENANG…………………………………………..
JANGAN TUMPAHKAN TANGISMU PADA SAAT KAU MENGALAMI KEKALAHAN, TAPI TUMPAHKAN KERINGATMU LEBIH BANYAK.
TUMPAHKAN TANGISMU HANYA PADA SAAT KAU BERADA DI PUNCAK KEMENANGAN.
Diterjemahkan oleh Fitri (Moderator) Sumber : World Badminton Forum
********************************************************************* The Acesia Enlightening People & Strategy
*********************************************************************
Sumber : Milis the Acesia
Â
Trackback(0)
|