|
Pituah |
Manjago aia muko Hiasan nan ndak bapunyo Samo rancak jo basyukur Nan jadi hiasan sanak nan lai |
|
|
Capital Building-nya Bukittinggi |
|
|
|
|
Written by Wirnita Eska, Dipl. Tourism, M.M
|
|
Saturday, 23 July 2005 |
|
 
Jam Gadang, sebagai landmark Bukittinggi sudah populer sejak zaman kolonial Belanda. Jam ini berdiri kokoh dan megah di tengah Taman beton Sabai nan Aluih persis di depan Gedung Pertemuan DR Muhammad Hatta (dulu, Gedung Tri Arga).
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) Dr. Meutia Hatta Swasono medio Juni lalu pernah menyatakan, Bagaimana cara pengembalian nilai Jam Gadang, karena menurut Bung Hatta Jam itu yang membentuk kedisiplinan. Dulu keluarga Bung Hatta menjalani usaha Jasa Pengiriman melalui orderan dari Belanda yang sangat terkenal sangat tepat waktu dengan memanfaatkan alat angkut pedati dan bendi. Agar tidak mengecewakan, maka Bung Hatta melihat ke Jam Gadang sebagai patokan, tutur Putri sulung Bung Hatta ini
Bagi warga Bukittinggi Jam Gadang adalah penunjuk waktu yang setia selain dijadikan semacam alat pengukur jarak. Sekarang nasibnya sebagai Landmark Bukittinggi atau sebagai penunjuk, dan yang menonjol di Bukittinggi jadi terancam dengan rencana Pemko Bukittinggi membangun Pusat Perbelanjaan Modern dibekas Kantor Bupati Agam tepatnya di samping kiri Jam Gadang. Sementara dengan puncak bangunan Hotel di dekatnya dan puncak bangunan perkantoran Bank disampingnya nyaris menghilangkan nilai landmark.
Tidak tanggung-tanggung rencana pembangunan Pusat Perbelanjaan Modern tersebut cukup membuat silau insan pariwisata dan pencinta peninggalan bangunan bersejarah, karena dibangun berlantai empat dengan basement (ruang bawah tanah) dengan ketinggian 20 meter. Selama ini diyatakan bahwa Lobang Jepang Panorama yang direvitalisasi dan bermasalah tersebut jalur Lobangnya sampai kearea bawah tanah Jam Gadang. sehingga dapat berakibat buruk pada kondisi yang ada. Penggalian kebawah tanah akan membahayakan bagi bangunan yang berada di kiri kanan rencana pembangunan Pusat Perbelanjaan Modern tersebut.
Barangkali perlu belajar menghargai nilai-nilai sejarah dan keunikan seperti yang dilakukan masyarakat dan pemerintah Washington DC terhadap bangunan tua Capital Building yang berbentuk seperti mesjid. Bangunan tua itu merupakan landmark di negara tersebut. Tidak boleh ada bangunan apapun yang berada di kawasan tersebut melebihi tingginya Capital Building. Investor asal Jepang membuat bangunan di dekat area Capital Building dengan bangunan bertingkat dari bawah tanah atau basement karena kondisi tanahnya sangat memungkinkan. Begitu juga di Bali, bangunan-bangunan bertingkat tidak boleh melebihi pohon kelapa.
Jam Gadang dalam sejarahnya, dihadiahkan Ratu Belanda kepada Controleur Roock Maker. Jam tersebut buatan Jerman sangat besar di datangkan dari Rotterdam Negeri Belanda dan tiba di Indonesia melalui pelabuhan Teluk Bayur pada tanggal 5 Oktober 1926. Jam Gadang sangat unik, tanda waktunya berangka Romawi dan angka empat tertulis IIII bukan IV sebagaimana lazimnya angka Romawi yang kita kenal. Pada bagian roda gigi yang terbuat dari tembaga dan besi kuningan terdapat tulisan cetak timbul B Vortmann, Recklinghousen - 1926, di dindingnya juga terdapat tulisan Aba B Vortmann T fabrik L.W Germany Roock Maker berkeinginan meletakkan jam tersebut ditempat umum pada daerah perbukitan agar dapat dilihat oleh tentara Belanda yang sedang bertugas.
Bangunan puncak menara Jam Gadang dibuat sedemikian tinggi dengan maksud dapat dipergunakan tentara Belanda sebagai tempat pengintaian gerak-gerik pengikut Imam Bonjol semasa Perang Paderi.
Jam Gadang dibangunan tidak lama setelah kedatangannya yaitu pada akhir tahun 1926 dengan Architect dalam bahasa Belanda opzichter bernama Yazid Abidin lelaki energik yang berasal dari Koto Gadang Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam. Peletakan batu pertama bangunan itu dilakukan oleh anak Roock Maker yang berusia 6 tahun. Pemborong bangunan Jam Gadang adalah Haji Moran berasal dari daerah Birugo Bukittinggi. Menurut penuturan anak laki-laki tertua Moran, bernama H Ali Moran St. Palindih mengatakan, Dalam pelaksanaan pengerjaan bangunan Jam Gadang, Moran mengerjakan bangunan yang di rancang opzichter Yazid Abidin. Sebagai mandor Moran menunjuk Dt Gigi Ameh, orang Birugo yang sudah lama bekerja dengannya. Bangunan Jam Gadang dibuat tanpa menggunakan besi penyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur dan pasir putih. Adonan itu dipakai sebagai perekat batu-batu, baik untuk fondasi atau dasar kerangka bangunan maupun untuk dinding bangunan. Bangunan beton tersebut, berbentuk empat persegi, di bagian atasnya berdiameter 80 cm. Tinggi keseluruhan bangunan Jam Gadang 36 meter berukuran denah dasar 9 X 7 meter.
Atap bangunan Jam Gadang mengalami beberapa kali perubahan. Pada awalnya atap bangunan itu dibentuk seperti bola, diatasnya diletakkan sebuah patung ayam jantan sedang berkokok. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, atap Jam Gadang mengalami perubahan, yaitu dibuat seperti trapesium atau nasi bungkus. Kemudian kembali terjadi perubahan atap berbentuk tanduk kerbau yang melambangkan adat Minangkabau, sebagaimana yang terlihat dalam keadaan sekarang yang kita harapkan menghargai nilai-nilai historis yang terkandung didalamnya dengan tidak lagi merubah dari bentuk asal semula
Untuk merencanakan pembangunan Pusat Perbelanjaan Modern dibekas Kantor Bupati Agam, barangkali Pemko Bukittinggi janganlah berdalih mengacu ke Perda (peraturan Daerah) yang kebanyakan dibuat berdasarkan kepentingan, karena sudah dibuat Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) 2004-2014, Rencana Tata Ruang Wilayah 2003-2013. Kalau toh alasan kenapa bangunan Hotel dan Bank dekat Jam Gadang diberi izin pada kepemimpinan Pemerintah yang tidak patuh dimasa lalu, kanapa Pemko sekarang mengulang kembali kesalahan, bila perlu bertindak tegas memancung ketinggian bangunan hanya untuk 12 meter saja. Barangkali Pemko Bukittinggi perlu mengkaji ulang rencana Pembangunan Pusat Perbelanjaan Modern dibekas kantor Bupati Agam tersebut yang melibatkan masyarakat dengan tidak meninggalkan pendapat anak perantauan Bukittinggi sebagai Rakyat Nagari yang diketahui banyak mendapatkan pengakuan prestise kelimuan dan kemapanan dari berbagai Negara dan daerah di Nusantara.
(Wirnita Eska, Dipl. Tourism, M.M, Pemerhati Pariwisata Sumbar padang ekspress
Trackback(0)
|
|
Last Updated ( Saturday, 23 July 2005 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Online Sekarang |
|
We have 15 guests and 20 members online |
|