Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan ado samo dimakan
Nan indak samo dicari
Kok Jauah kana mangana
Kok dakek jalang manjalang
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Menjadi PKL Digusur-gusur, Pilih Banting Setir Jadi Pencopet... PDF Print E-mail
Written by Admin   
Friday, 29 July 2005

PARDI (29) tidak seperti kebanyakan penjahat yang ada. Wajahnya lugu dan kerap tersenyum meski baru ditangkap polisi. Raut mukanya tidak tampak bersedih, seperti sandiwara yang biasa ditunjukkan penjahat ketika tertangkap. Ketika dicecar dengan berbagai pertanyaan pun, dia menjawab dengan lancar tanpa ada kesan menutup-nutupi.

APA gunanya saya tutup-tutupi. Saya memang salah karena nyopet, tetapi saya lakukan itu karena enggak ada pilihan. Anak saya perlu susu, istri perlu makan, sedangkan jualan saya digusur terus," cerita Pardi dengan kalimat yang lancar saat ditemui, Kamis (19/5), di ruang Satuan Reserse Mobil Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya.

Pardi yang hanya tamatan SMP ini memang sebelumnya seorang pedagang kaki lima (PKL). Selain berjualan pakaian di pinggiran Pasar Baru, Jakarta Pusat, Pardi sebelumnya juga menjadi pedagang kain keliling ke kampung-kampung. Dagangannya di Pasar Baru digusur aparat Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) DKI Jakarta.

Meski begitu, Pardi tidak mudah menyerah. Dia jalani kehidupan sebagai pedagang kain keliling dengan sisa modal Rp 1,7 juta. Lelaki keturunan Cirebon-Sumatera Barat itu, yang tinggal di kawasan Jembatan Dua, Jakarta Barat, kemudian memilih berdagang pakaian secara keliling karena beberapa kali modal dagangannya terkuras karena penggusuran.

Selama lebih dari tiga bulan berdagang secara kredit itu ia tekuni. Penghasilannya tidak tentu. Pernah sehari dapat Rp 50.000, tetapi lebih sering tidak dapat apa-apa. "Banyak orang ambil dagangan susah bayar, saya enggak bisa memaksa," katanya. Lama-lama modal pokok dagangannya ikut termakan. Sampai akhirnya Pardi kehabisan modal dan tak sanggup lagi memborong pakaian untuk dikreditkan.

"Saya punya dua anak, yang satu meninggal. Yang satunya lagi minum susunya kuat. Saya tidak punya uang untuk beli susu," kata Pardi, yang tanpa diduga ketika dia terjepit itu ada seorang teman pedagang yang menawarinya "bekerja". Pardi yang sedang panik mau saja diajak apalagi pasti bisa mendapat uang minimal Rp 50.000 per hari.

Dari titik inilah, perjalanan hidup Pardi menjadi pencopet dimulai. Waktu itu sekitar bulan Januari 2005. Sebagai pemain baru yang belum banyak pengalaman, tentunya tugas Pardi tidak terlalu berat. Ia kala itu hanya ikut-ikutan teman-teman lain naik bus, membayar seperti penumpang lain, berdiri di dekat pintu, dan berusaha menghalang-halangi penumpang yang mau naik atau turun. Mudah kan? Untuk "pekerjaan" sepele itu, Pardi mendapatkan uang Rp 50.000 setiap hari.

HARI berganti hari, minggu berganti minggu. Pardi yang tadinya hanya ikut-ikutan sudah mulai di lepas sendiri ke lapangan. Tetapi, Pardi tidak perlu khawatir. Ia sudah tahu di mana teman-temannya berkumpul.

Begitu dia pergi dari rumah dan berpamitan hendak pergi berdagang, pangkalan tujuan Pardi adalah di sebuah halte di depan Sarinah, Jalan MH Thamrin. Di tempat ini pada jam-jam tertentu Pardi akan bertemu dengan teman seprofesinya.

Mereka bisa membongkar pasang anggota komplotan sesuka hati. Ada yang berperan mengambil dompet dan telepon seluler, tetapi ada pula yang hanya menghalang-halangi penumpang. Para kondektur dan kernet bus umumnya mengenali mereka.

Kisah pilu yang memaksa Pardi menjadi pencopet juga dialami Ruslan (41), warga Bawah Stasiun, Pintu Air, Juanda, Jakarta Pusat. Lelaki keturunan Jakarta-Padang ini sebelum menjadi pencopet berdagang di Pasar Tanah Abang.

Selagi dagangannya ramai, Pasar Tanah Abang terbakar. Sebagai PKL, tentu saja Ruslan menanggung penderitaan juga karena lahan yang biasa digunakan PKL diambil alih untuk pedagang resmi yang kiosnya terbakar.

Dengan berat hati Ruslan pun berpindah berdagang di Pasar Baru. Di sini pun dia tidak mudah. Lelaki lulusan SMP yang kini memiliki empat anak itu harus berebut lahan dengan pedagang lain dan sering digusur petugas. Kalau sudah demikian, pilihan tinggal dua: mencari pinjaman modal atau beralih profesi lain. Dalam jepitan kehidupan yang makin sulit itu karena tidak mungkin mendapatkan pinjaman modal ditambah harapan untuk berdagang lagi makin sempit, Ruslan memilih beralih profesi. Pada saat dia bingung hendak bekerja apa, datanglah Andi, sang "dewa penolong".

"Waktu itu dia bilang, 'enggak usah bingung'. Saya bilang enggak bingung bagaimana kalau anak istri saya enggak bisa makan. Lalu Andi bilang, 'kalau cuma makan, kamu ikut aku, keluargamu juga bisa makan'," kata Ruslan.

Mulai saat itu Ruslan ikut dengan Andi. Pada awalnya tugas Ruslan sama dengan tugas Pardi, yaitu menghalang-halangi penumpang. Lama-lama Ruslan merasa keenakan dan mahir mencopet. Ruslan, Pardi, dan komplotan pencopet lain biasa berkumpul di Halte Sarinah.

Mereka biasa beroperasi pukul 08.00-10.00 dan sore pukul 17.00-19.00. Waktu seperti itu adalah jam pulang kerja sehingga banyak penumpang lengah. Dalam satu hari mereka bisa dapat Rp 50.000-Rp 150.000.

Di Jakarta ini tidak cuma Pardi dan Ruslan yang sebelumnya menjadi PKL kini beralih menjadi pencopet. Ali (teman mereka yang belum tertangkap) dulu juga mantan PKL di Tanah Abang dan Pasar Baru yang bangkrut karena terus kena gusur. Ajo, teman mereka, juga seorang pencopet yang dulunya PKL di Cililitan, Jakarta Timur.

Kejahatan memang erat kaitannya dengan kehidupan sosial masyarakatnya. Kejahatan akan tumbuh subur manakala pemerintah tidak lagi memerhatikan warganya untuk mencari makan, mengais rezeki dengan cara halal.

Sepanjang pemerintah hanya memikirkan persoalan ketertiban tanpa peduli dengan nasib orang-orang tergusur, tidak aneh bila kejahatan di Ibu Kota terus meningkat. (HERMAS EFENDI PRABOWO)

Sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/20/metro/1762617.htm
Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Friday, 29 July 2005 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 14 guests and 18 members online
Generated in 1.32168 Seconds