Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Dek ribuik rabahlah padi
Dicupak Datuak Tumangguang
Hiduik kok tak babudi
Duduak tagak kamari cangguang
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Pesantren Sumatra Barat Cetak Santri Berkualitas PDF Print E-mail
Written by Admin   
Monday, 01 August 2005


Keinginan untuk mewujudkan pesantren (perguruan Islam) yang berbasis budaya Minangkabau menguat kembali. Pesantren diharapkan mampu mencetak tiga pilar yang terintegrasi pada diri seorang santri (anak didik), yakni cendekiawan, alim ulama, dan ninik mamak yang beradat.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatra Barat (Sumbar) M Sayuti Dt Rajo Penghulu pada Seminar dan Lokakarya (semiloka) Pesantren Bersejarah (perguruan Islam) Minangkabau, di aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Model Gulai Bancah, Bukittinggi, Sumbar, Sabtu (18/1).

 

Keinginan yang menguat kembali itu, kata Sayuti, muncul di kalangan ulama, ninik mamak, tokoh pendidik, dan pemerintah, sebab dikhawatirkan generasi muda Minangkabau terseret arus globalisasi sehingga tercerabut dari akarnya.

Dikatakan, masyarakat Minang sejak dahulu dikenal sebagai masyarakat beradat. "Jauh sebelum memeluk agama Islam, masyarakat Minang sudah dikenal sebagai masyarakat beradat."

Sejarah mencatat, tokoh-tokoh Minang yang berkaliber nasional dan internasional yang konsisten menerapkan Adat Basandi Syara, Syara Basandi Kitabullah (ABS, SBK), antara lain, Buya HAMKA, M Natsir, Agus Salim, Bung Hatta, dan Muhammad Yamin.

Di samping berbasis kognisi ABS, SBK, katanya, tokoh-tokoh tersebut memunyai basis kepemimpinan Tungku Tigo Sajarangan dan Tali Tigo Sapilin. Maksudnya diri mereka berdimensi alim ulama, ninik mamak, dan cendekiawan.

Oleh karena itu, Sayuti menyambut baik upaya Pemerintah Provinsi Sumbar menggelorakan semangat kembali ke nagari dan gerakan kembali ke surau. "Kembali ke sistem pemerintahan nagari berarti kita membangun masyarakat hukum adat di Minangkabau. Kembali ke surau berarti kita melaksanakan syariat Islam dengan baik. Ini akan memperkukuh jati diri orang Minangkabau."

Jati diri orang Minangkabau selengkapnya, kata Sayuti, berdasarkan pada filosofi adat basandi syara, syara basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai (agama mengatakan, adat melaksanakan), alam takambang manjadi guru (alam berkembang menjadi guru).

Ditambahkan, untuk mempertahankan budaya Minangkabau, di Sumbar sudah diterapkan kurikulum muatan lokal. "Kurikulum tersebut telah memiliki struktur organisasi pembelajaran," ujarnya. Kurikulum Budaya Alam Minangkabau (BAM) diajarkan mulai sekolah dasar (SD) sampai sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di Sumbar.

Pada kesempatan yang sama Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang Maidir Harun mengatakan, secara historis masyarakat Minangkabau pernah memiliki beberapa surau atau madrasah, yang sekarang lebih populer disebut pesantren (perguruan Islam) yang maju, berkualitas, dan diminati oleh seluruh Kepulauan Nusantara.

"Contohnya, Sumatra Thawalib Padang Panjang, Surau Jembatan Besi Padang Panjang, Diniyah Putri Padang Panjang, Madrasah Thawalib Parabek Bukittinggi, Madrasah Tarbiyah Candung, Bukittinggi, Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho, dan Madras School."

Sementara ulama-ulama yang terkenal adalah Syekh Muhamad Djamil Djambek (1862-1947M), Syekh Sulaiman al Rasuli (1871-1920M), Syekh Muhamad Djamil Djaho (lahir 1875 M), Syekh Haki Abdullah Ahmad (1878-1933 M), Syekh Abdul Karim Amarullah (1879-1949), Syekh Musa Parabek (1882-1963), Syekh Zainuddin Labay, Rahmah al Yunusiyah dan sebagainya.

Ironisnya, meskipun telah mencetak sejarah, kata Guru Besar Sejarah Peradaban Islam pada Fakultas Adab-adab IAIN Imam Bonjol Padang ini, kondisi perkembangan pesantren (perguruan Islam) Minangkabau tidak sepesat di Jawa. "Kini banyak orang tua lebih suka melanjutkan sekolah anaknya ke luar Provinsi Sumbar, seperti Pondok Pesantren Gontor, al Zaitun, Darun Najah, dan sebagainya."

Ia menambahkan, pesantren harus meningkatkan kualitasnya sesuai dengan tujuan pendidikan pesantren di Sumbar, yakni membentuk santri (anak didik) menjadi anggota masyarakat yang mengetahui, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai luhur budaya Minangkabau dan ajaran Islam secara integral.

Semiloka yang ditutup kemarin malam dan diikuti kalangan pesantren (perguruan Islam) se-Sumbar ini, berhasil merumuskan tiga bidang, pertama, pengembangan kurikulum dan sistem pembelajaran pesantren berbasis ABS, SBK, sistem manajemen pesantren profesional, dan pengembangan Unit Pelaksana Teknis Produksi (MI/zayn
 
sumber :PesantrenOnline.Com-Bukittinggi:

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 6 guests and 7 members online
Generated in 1.56454 Seconds