Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Pisau gadang pisau tambatu
Dibaok urang ka taluak bayua
Di makan anak dari salido
Rumah gadang basandi batu
Adat basandi alua
Alua nan kaganti rajo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Malin Kundang PDF Print E-mail
Written by D. Zawawi Imron   
Wednesday, 24 August 2005

Ingat Si Malin Kundang? Anak miskin yang pamit pada ibunya untuk ikut saudagar kaya berlayar ke negeri-negeri yang jauh, setelah besar dan menjadi orang suskes ia tak mau mengakui ibunya yang miskin dan renta. Akhirnya ia dikutuk bersama perahunya menjelma jadi batu di dekat pantai Teluk Bayur, Padang, Sumatra Barat.

Itu sebuah legenda, cerita yang berkaitan dengan nama sebuah tempat. Kisah itu dulu sering dikisahkan kepada anak-anak agar tidak durhaka kepada orang tuanya. Cerita itu tentunya tak pernah terjadi, tapi sebagai karya sastra, dongeng itu mengandung kearifan, akhlak mulia, sebuah paham yang merasuk ke dalam kalbu bahwa anak durhaka akan terkutuk.

Suatu ketika, pada awal 2005, beberapa pakar budaya berkumpul di Jakarta untuk membicarakan tentang pentingnya mengolah tradisi. Namun ada seorang pakar yang merasa bahwa nilai-nilai tradisional sudah tidak penting lagi. Alasannya, sang pakar satu ketika memberi putranya buku bacaan "Si Malin Kundang". Sehabis membaca buku itu, si anak berkomentar, ia sangat kasihan pada si Malin Kundang karena anak durhaka itu terkutuk menjelma batu.

"Bukankah cerita ini sudah tidak relevan lagi dengan zaman, karena anak saya tiba-tiba bersimpati kepada si Malin Kundang," kata sang pakar.

Menurut saya, sang putra adalah anak yang cerdas, karena mampu memberi interpretasi yang lain dari ayahnya. Bukankah sebuah karya sastra, termasuk legenda, tidak harus punya tafsir tunggal? Salahkah seorang anak yang merasa kasihan kepada orang yang durhaka? Bukankah seorang yang durhaka, seperti koruptor, pencoleng, penipu, dan orang durhaka lainnya perlu dikasihani?

Rendra pun dalam sajaknya Dengan Kasih Sayang menulis:
Kepada penjahat yang paling laknat
Pandanglah dari jendela hati yang bersih

Dengan demikian, kita tidak bisa memaksa orang lain, bahkan anak sendiri, untuk menginterpretasi karya sastra harus sama dengan interpretasi kita. Tak ada tafsir tunggal terhadap karya sastra. Itulah barangkali, kenapa sutradara terbaik Amerika, Robert Wilson, mau menyutradarai nukilan dari sastra tua Bugis Lagaligo, tapi dengan interpretasi yang lebih segar.

Arifin C. Noer pernah menulis dan menyutradarai lakon Dalam Bayangan Tuhan. Dalam salah satu adegannya, Malin Kundang yang tetap durhaka itu memasukkan ibunya ke dalam sorotan sinar laser sehingga sang ibu menjelma batu atau patung. Kemudian patung ibu itu ia serahkan ke museum sebagai fosil. Di sini Arifin C. Noer telah melakukan olah kreatif, ia lukiskan tragedi kemanusiaan yang menggambarkan si Malin Kundang zaman modern dengan segala kegagahan dan arogansinya menyatakan orang tua yang telah melahirkan dan mengasuhnya sebagai fosil. Antara ibu dan anak sudah terjadi jarak dan jurang budaya yang sedemikian jauh, sejauh ufuk timur dengan ufuk barat.

Olah kreatif yang demikian tidak hanya dilakukan Arifin C. Noer saja. Gus TF Sakai misalnya, dalam novelnya Tambo, telah memanfaatkan tambo (dongeng) Minangkabau dengan tokoh-tokohnya yang dijadikan sebagai media mengungkapkan sikap dan karakter manusia-manusia masa kini. Tiba-tiba tambo menjadi aktual.

Sikap yang demikian adalah sikap kreatif terhadap tradisi atau meminjam istilah Ignas Kleden, "mengolah tradisi dengan cara yang tidak tradisional". Bersikap kreatif terhadap tradisi, tentu saja memerlukan kecerdasan berpikir, membaca dan melakukan lompatan berpikir ke wilayah-wilayah tak terduga. Ibarat orang berlayar, pergi ke laut yang di peta tidak kita temui.

Sikap kreatif terhadap tradisi memerlukan dialog panjang dengan tradisi agar kita bisa melakukan seleksi tentang kemungkinan tradisi itu untuk bisa diolah. Sikap seperti itu untuk mengelak agar tidak apriori alias tidak menjadi Malin Kundang terhadap tradisi. Tradisi yang ternyata tidak berpihak kepada hidup dan kehidupan memang harus dianggap sebagai fosil. Dan perlu dimuseumkan. (*)

Sumber : http://www.jawapos.com
Edisi 14 AGustus 2005

Trackback(0)
Comments (1)add comment

Arif Hidayatullah said:

Harus lebih uptodate
 
report abuse
vote down
vote up
May 05, 2006
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Wednesday, 24 August 2005 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 9 guests and 11 members online
Powered By PageCache
Generated in 0.66420 Seconds