|
Padang, Kamis Deputy Chairman Of Earth Sciences-LIPI J Sopaheluwakan mengemukakan, komunitas pakar gempa dan tsunami internasional menyatakan, Kota Padang merupakan daerah yang paling rawan terhadap potensi terjadinya tsunami di dunia. Pengulangan tsunami sekitar 200 tahun ke depan sejak terakhir terjadi tahun 1833.
"Analisa ini bukan isu, isapan jempol atau akal-akalan. Karena, yang memberikan penjelasan itu adalah para ahli dan tidak mungkin mereka bohong. Untuk itu perlu disikapi secara arif dan tidak perlu panik," kata Sopaheluwakan di sela Pertemuan bertajuk "Internasional Meeting on Sumatran Earthquake Challenge" di Padang, Kamis (25/8).
Pertemuan yang berlangsung 24 sampai 28 Agustus itu dilaksanakan atas kerja sama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), California Institute of Technology (Caltech) dan Japan Society for Promotion of Science (JSPS).
Dalam pertemuan itu 60 pakar gempa bumi dan tsunami dari Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Prancis, Taiwan dan Indonesia, khususnya yang tertarik dengan masalah gempa dan tsunami di Sumatera, bertemu untuk mulai memikirkan permasalahan gempa dan tsunami bersama-sama dan langkah-langkah antisipasi di masa datang .
Mereka terdiri atas 35 pakar asing dan 25 pakar dalam negeri. Antara lain memiliki disiplin ilmu paleo-seismik, paleo-tsunami, seismologi, tektonik geodesi, engineering seismologi, earthquake engineering, tsunami early warning system (TWA) modern, dan pakar pendidikan masyarakat untuk masalah gempa dan tsunami.
Menurut Sopaheluwakan, potensi tersebut muncul karena didukung oleh populasi penduduknya yang paling padat dan dengan kondisi sosial ekonomi setempat.
Terkait atas analisa tersebut, menurut Sopaheluwakan, Padang harus mencermati sikap pemerintah Sizuoka (bagian selatan Tokyo) yang siap menunggu gempa dan tsunami dengan berbagai persiapan. Kondisi wilayah Sizuoko sama dengan Padang. Pemerintah di kota itu telah menyiapkan pusat komunikasi, logistik makanan yang disimpan sepuluh tahun serta penjernih air.
"Dengan memperkirakan ketinggian gelombang tsunami setinggi 9 meter, mereka juga membuat gunung-gunung buatan setinggi 11 meter dan memiliki rute evakuasi yang dilengkapi dengan tanda-tanda penyelamatan, serta membangun bendungan," katanya.
Jika tsunami datang, kata Sopaheluwakan, hantaman gelombangnya akan dapat dihambat oleh penahan gelombang dilengkapi dengan "green belt". Di situ, pemerintah membangun sebuah kota pengungsi di belakang pengunungan.
Lebih jauh ia menjelaskan potensi bencana gempa dan tsunami di Padang juga akan merambat ke kabupaten dan kota sekitarnya termasuk Pariaman, terus ke Bengkulu, Anyer, Lampung, dan Pelabuhan Ratu.
"Kita jangan panik, tapi lebih baik salurkan energi was-was itu menjadi persiapan dan setiap saat kita harus siap. Kondisi riilnya Padang memang akan ditimpa tsunami, di mana waktu perulangannya setiap 200 tahun sekali," katanya.
Karenanya Pemko Padang sejak dini harus mulai melakukan berbagai langkah antisipasi antara lain membuat peta evakuasi. Kemudian, tata ruang dibenahi lagi, jalur-jalur pantai diperlebar, dan tetapkan bangunan tinggi yang layak menjadi tempat evakuasi vertikal.
"Bangun menara observasi di kawasan-kawasan yang paling rawan," katanya seraya menambahkan, menara tersebut sekaligus bisa berfungsi sebagai objek pariwisata.
Dengan turut melibatkan seluruh masyarakat, kata Sopaheluwakan, LSM juga perlu dilibatkan untuk memasang poster-poster yang memuat sosialisasi dan pelatihan-pelatihan cara-cara mengatasi bencana.
Sumber: Ant Penulis: Prim
Sumber : http://www.kompas.com/utama/news/0508/25/220803.htm
Trackback(0)
|