Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Balabiah ancak ancak
Bakurang sio sio
Diagak mangko diagiah
Dibaliak mangko dibalah
Bayang bayang sapanjang badan
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Mak Saleha Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh admin   
Jumat, 09 September 2005

Image
DENGAN pencahayaan terang benderang, teknik kamera yang dinamik dalam ketinggian berbeda-beda, sistem suara jernih dan stereofonik, suasana salat tarawih di Masjidil Haram sampai kepada kita di Indonesia secara sangat realistik dan begitu cantik pada saat yang sama sehingga seakan-akan kita di sana.

RCTI membukakan bagi kita kesempatan menyerap alunan Quran lewat suara imam yang bening dan indah, menyaksikan ratusan saf melingkari Ka'bah di bawah bulan sabit yang tersangkut di langit yang biru hitam bagaikan berbisik-bisik dengan tujuh menara menjulang tinggi. Yang tak sampai pada kita hanya aroma masjid seisinya dan suhu musim dingin lembah Makkah al- Mukarramah pada malam hari bulan puasa ini.

Bilamana kamera dari menara timur laut membidik ke arah barat daya, hadirlah pemandangan yang membentang ke Ka'bah sampai ke sebalik Masjidil Haram. Tampaklah pintu Ka'bah, sudut Hajar Aswad samar-samar dan Multazam di antaranya, di depan Maqam Ibrahim. Ratusan ritu jamaah dalam baris berjajar berbentuk bulat telur tegak teratur, rukuk dan sujud bersamaan, kemudian bersimpuh tenang-tenang.

Jamaah pada seperempat layar monitor televisi sebelah kiri bawah tampak menghitam, sedangkan selebihnya pada tiga perempat layar memutih. Gugusan warna hitam itu adalah Abaya, semacam mantel tipis yang dikenakan jamaah perempuan. Mereka mendapat tempat kira-kira 30 meter di depan Multazam. Pada baris depan saf kaum perempuan itu, di titik paling kanan sekali di perbatasan saf dengan kaum laki-laki, duduklah bersimpuh Mak Saleha, sekitar 70 tahun
umurnya.

Titik itu adalah tempat salat Mak Saleha, sudah enam tahun lamanya. Batu marmer seluas persimpuhan dua lututnya berjajar itu seolah-olah sudah jadi kapling permanennya untuk salat magrib dan isya. Di luar musim haji, teman-temannya jika mencari Mak Saleha, ya di titik lokasi itulah.

Image Mak-SALEHA Setiap kali ditayangkan siaran langsung salat tarawih di Masjidil Haram, mata saya tertuju pada deretan saf berwarna hitam paling depan di seberang Multazam, titik paling kanan di perbatasan warna putih. Saya bayangkan Mak Saleha bersujud di situ. Masih di sanakah Mak Saleha Ramadhan ini?

Mak Saleha yang berbadan kecil, tingginya kira-kira 1,50 m, bila berjalan terbungkuk-bungkuk, adalah salah satu dari beberapa puluh orang "penghuni gelap" di Masjidil Haram yang tak punya izin bertempat tinggal di Jazirah Arabia itu, dan sudah bertekad tinggal di masjid itu sampai mati. Selepas menunaikan ibadah haji pada 1987, Mak Saleha nekat tak balik ke Medan dan bertahan tinggal di Masjidil Haram, tidur berpindah-pindah dari satu sudut ke sudut lain.

Tiga Ramadhan yang lalu, Ati dan saya ketemu Mak Saleha di pelataran marmer Masjidil Haram selepas tarawih, pada 10 hari penutup bulan puasa. Mekah luar biasa ramai waktu itu, praktis sama dengan musim haji. Orang-orang merindukan malam seribu bulan di Masjidil Haram. Orang-orang tawaf dan sa'i berdesakan seperti mi rebus bergerak dalam panci. Sewa hotel naik lima kali lipat. Beda mencolok dengan musim haji cuma satu, yaitu anak-anak yang luar biasa banyaknya. Memang mereka sedang libur sekolah ikut orangtua mereka.

Di tengah keramaian manusia itu saya bersalaman dengan Mak Saleha. Ati, istri saya, sudah kenal duluan dan tahu kisahnya melalui Bundo, yang bermukim di Mekah lebih dari 20 tahun lamanya.

Mak Saleha dari Medan, asal Minang. Suaminya almarhum guru SD. Dia berjualan kain dan barang perhiasan emas dari pintu ke pintu. Mereka tak punya anak. Ada anak angkat, sudah dikawinkan dan beranak pinak. Perselisihan dalam
keluarga menyebabkan Mak Saleha merasa sebatang kara di dunia ini. Dia naik haji 1987, dan nekat tak pulang. Dia menetap di Masjidil Haram.

Image Mak-SALEHA Mak Saleha tahu bahwa tanpa izamah dia tak boleh berdiam di Arab Saudi. Tapi dalam kesebatangkaraannya di dunia ini, dia merasa sangat tenteram di Masjidil Haram, sampai tak lagi dapat izin salat dari Yang Empunya Masjid dan disalatkan orang di depan Ka'bah.

Menurut kisahnya, banyak juga "penghuni gelap" di masjid itu seperti Mak Saleha yang dikejar-kejar. Bahkan ketika berbelanja di luar kawasan masjid, dia pernah ditangkap polisi sekali. Tapi lolos. Sembilan belas gerbang, seluruh lekuk dan sudut Masjidil Haram dikenalnya baik. Petugas-petugas kebersihan masjid tahu Mak Saleha. Mereka tak menggaduhnya, bahkan sayang padanya.

Menjelang salat magrib, Bundo membawakan nasi bungkus, diselundupkan dalam lengan bajunya yang lapang. Pakaian kotornya dicucikan Bundo. Mak Saleha tak pernah minta-minta, tapi rezekinya lapang. Banyak saja jamaah yang memberinya riyal dan dolar tanpa diminta.

Tapi sebaiknya saya kini beristigfar karena sudah dua kali memakai istilah "penghuni gelap" mengenai Mak Saleha. Bukankah ini istilah keimigrasian versi dunia kita? Posisi Mak Saleha yang sudah enam tahun bermukim di Masjidil Haram tampaknya seizin Allah, Pemilik Rumah Agung itu, dan kalau begitu yang pantas statusnya adalah "penghuni terang".

Lihatlah, ada saja seorang perempuan tua lain, Bundo, yang menyediakan nasi bungkus, obat bila sakit, mencucikan baju, dan mengirimkan suratnya ke Medan. Ada saja rezekinya berupa uang masuk selama itu. Ditangkap polisi Mekah yang lugas itu, malah lepas. Cuma yang tak jelas bagi saya kini masih hidupkah dia?

Seraya menatap layar monitor televisi siaran langsung tarawih Masjidil Haram, menyimak surah Ali Imran yang begitu merdu dilantunkan serta menenangkan perasaan, saya bertanya pada diri sendiri. Masihkah Ramadhan ini Mak Saleha tarawih di depan Multazam?

Taufiq Ismail, Penyair dan budayawan
[Kolom, Gatra Edisi 12 tahun ke dua, Halaman 100, 3 Februari 1996]

Sumber : http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=12710

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

Terakhir kali diperbaharui ( Jumat, 09 September 2005 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 7 dari 50 (4 Unik)
Peak: 31
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: Ibo Mamanciang Tangih

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 37 ) Anggota 37
 Tamu ( 7 ) Tamu 7
  Total  44
 Angoota ( 6,512 ) Angoota  6,512


Statistik
Agg Baru  yanjavanica
Hari Ini 27
Minggu Ini 94
Bulan Ini 349
Tahun ini 2,616
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 7 pengunjung dan 37 anggota yang online
User Terbaru

docter_cinta

Terdaftar pada
2008-05-16 07:56:57

Pengunjung: 3014713