|
 DENGAN pencahayaan terang benderang, teknik kamera yang dinamik dalam ketinggian berbeda-beda, sistem suara jernih dan stereofonik, suasana salat tarawih di Masjidil Haram sampai kepada kita di Indonesia secara sangat realistik dan begitu cantik pada saat yang sama sehingga seakan-akan kita di sana.
RCTI membukakan bagi kita kesempatan menyerap alunan Quran lewat suara imam yang bening dan indah, menyaksikan ratusan saf melingkari Ka'bah di bawah bulan sabit yang tersangkut di langit yang biru hitam bagaikan berbisik-bisik dengan tujuh menara menjulang tinggi. Yang tak sampai pada kita hanya aroma masjid seisinya dan suhu musim dingin lembah Makkah al- Mukarramah pada malam hari bulan puasa ini.
Bilamana kamera dari menara timur laut membidik ke arah barat daya, hadirlah pemandangan yang membentang ke Ka'bah sampai ke sebalik Masjidil Haram. Tampaklah pintu Ka'bah, sudut Hajar Aswad samar-samar dan Multazam di antaranya, di depan Maqam Ibrahim. Ratusan ritu jamaah dalam baris berjajar berbentuk bulat telur tegak teratur, rukuk dan sujud bersamaan, kemudian bersimpuh tenang-tenang.
Jamaah pada seperempat layar monitor televisi sebelah kiri bawah tampak menghitam, sedangkan selebihnya pada tiga perempat layar memutih. Gugusan warna hitam itu adalah Abaya, semacam mantel tipis yang dikenakan jamaah perempuan. Mereka mendapat tempat kira-kira 30 meter di depan Multazam. Pada baris depan saf kaum perempuan itu, di titik paling kanan sekali di perbatasan saf dengan kaum laki-laki, duduklah bersimpuh Mak Saleha, sekitar 70 tahun umurnya.
Titik itu adalah tempat salat Mak Saleha, sudah enam tahun lamanya. Batu marmer seluas persimpuhan dua lututnya berjajar itu seolah-olah sudah jadi kapling permanennya untuk salat magrib dan isya. Di luar musim haji, teman-temannya jika mencari Mak Saleha, ya di titik lokasi itulah.
Mak-SALEHA Setiap kali ditayangkan siaran langsung salat tarawih di Masjidil Haram, mata saya tertuju pada deretan saf berwarna hitam paling depan di seberang Multazam, titik paling kanan di perbatasan warna putih. Saya bayangkan Mak Saleha bersujud di situ. Masih di sanakah Mak Saleha Ramadhan ini?
Mak Saleha yang berbadan kecil, tingginya kira-kira 1,50 m, bila berjalan terbungkuk-bungkuk, adalah salah satu dari beberapa puluh orang "penghuni gelap" di Masjidil Haram yang tak punya izin bertempat tinggal di Jazirah Arabia itu, dan sudah bertekad tinggal di masjid itu sampai mati. Selepas menunaikan ibadah haji pada 1987, Mak Saleha nekat tak balik ke Medan dan bertahan tinggal di Masjidil Haram, tidur berpindah-pindah dari satu sudut ke sudut lain.
Tiga Ramadhan yang lalu, Ati dan saya ketemu Mak Saleha di pelataran marmer Masjidil Haram selepas tarawih, pada 10 hari penutup bulan puasa. Mekah luar biasa ramai waktu itu, praktis sama dengan musim haji. Orang-orang merindukan malam seribu bulan di Masjidil Haram. Orang-orang tawaf dan sa'i berdesakan seperti mi rebus bergerak dalam panci. Sewa hotel naik lima kali lipat. Beda mencolok dengan musim haji cuma satu, yaitu anak-anak yang luar biasa banyaknya. Memang mereka sedang libur sekolah ikut orangtua mereka.
Di tengah keramaian manusia itu saya bersalaman dengan Mak Saleha. Ati, istri saya, sudah kenal duluan dan tahu kisahnya melalui Bundo, yang bermukim di Mekah lebih dari 20 tahun lamanya.
Mak Saleha dari Medan, asal Minang. Suaminya almarhum guru SD. Dia berjualan kain dan barang perhiasan emas dari pintu ke pintu. Mereka tak punya anak. Ada anak angkat, sudah dikawinkan dan beranak pinak. Perselisihan dalam keluarga menyebabkan Mak Saleha merasa sebatang kara di dunia ini. Dia naik haji 1987, dan nekat tak pulang. Dia menetap di Masjidil Haram.
Mak-SALEHA Mak Saleha tahu bahwa tanpa izamah dia tak boleh berdiam di Arab Saudi. Tapi dalam kesebatangkaraannya di dunia ini, dia merasa sangat tenteram di Masjidil Haram, sampai tak lagi dapat izin salat dari Yang Empunya Masjid dan disalatkan orang di depan Ka'bah.
Menurut kisahnya, banyak juga "penghuni gelap" di masjid itu seperti Mak Saleha yang dikejar-kejar. Bahkan ketika berbelanja di luar kawasan masjid, dia pernah ditangkap polisi sekali. Tapi lolos. Sembilan belas gerbang, seluruh lekuk dan sudut Masjidil Haram dikenalnya baik. Petugas-petugas kebersihan masjid tahu Mak Saleha. Mereka tak menggaduhnya, bahkan sayang padanya.
Menjelang salat magrib, Bundo membawakan nasi bungkus, diselundupkan dalam lengan bajunya yang lapang. Pakaian kotornya dicucikan Bundo. Mak Saleha tak pernah minta-minta, tapi rezekinya lapang. Banyak saja jamaah yang memberinya riyal dan dolar tanpa diminta.
Tapi sebaiknya saya kini beristigfar karena sudah dua kali memakai istilah "penghuni gelap" mengenai Mak Saleha. Bukankah ini istilah keimigrasian versi dunia kita? Posisi Mak Saleha yang sudah enam tahun bermukim di Masjidil Haram tampaknya seizin Allah, Pemilik Rumah Agung itu, dan kalau begitu yang pantas statusnya adalah "penghuni terang".
Lihatlah, ada saja seorang perempuan tua lain, Bundo, yang menyediakan nasi bungkus, obat bila sakit, mencucikan baju, dan mengirimkan suratnya ke Medan. Ada saja rezekinya berupa uang masuk selama itu. Ditangkap polisi Mekah yang lugas itu, malah lepas. Cuma yang tak jelas bagi saya kini masih hidupkah dia?
Seraya menatap layar monitor televisi siaran langsung tarawih Masjidil Haram, menyimak surah Ali Imran yang begitu merdu dilantunkan serta menenangkan perasaan, saya bertanya pada diri sendiri. Masihkah Ramadhan ini Mak Saleha tarawih di depan Multazam?
Taufiq Ismail, Penyair dan budayawan [Kolom, Gatra Edisi 12 tahun ke dua, Halaman 100, 3 Februari 1996]
Sumber : http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=12710 Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |