|
latiek-latiek tabang ka pinang hinggok di pinang duo-duo satitiek aie dalam pinang
disinan bamain ikan rajo
Ketentuan adat sebagian besar tersimpan di dalam ajaran adat berbentuk kato-pitatah-patiti. Kondisi Minangkabau sedikit berbeda dengan wilayah-wilayah lainnya di Indonesia, terutama begitu menonjolnya budaya tutur dan hampir tiadanya aturan adat yang tertulis. Di dalam kato-pitatah-patiti tersimpan berbagai nilai dari berbagai ajaran agama dan sistem pemerintahan selama berabad-abad lamanya, dan terwariskan dari generasi ke generasi sebagai wujud adat dan budaya masyarakat Minangkabau. Kato-pitatah-patiti yang sampai pada kita saat sekarang ini, merupakan nilai budaya terunggul setelah melalui berbagai seleksi dari berbagai generasi. Itulah inti adat yang kita pakai sebagai sejatinya manusia Minangkabau.
Ajaran adat memiliki bentuk dan rupa yang berbeda-beda. Tanpa pemahaman terhadap struktur kata-kata, agak sulit dalam memahami makna dan maksud dari berbagai ajaran adat tersebut. Penulis menemukan sebuah referensi yang cukup bagus, yang dapat menjelaskan beberapa pemahaman adat tersebut, yaitu buku “Seluk-Beluk Adat Minangkabau†karya Darwis Thaib Dt. Sidi Bandaro, penerbit N.V. Nusantara Bukittinggi-Jakarta tahun 1965. Uraian berikut adalah bersumber dari buku tersebut ditambah dengan beberapa sumber lain yang Penulis miliki.
a. Kato-kato
Adat Minangkabau ialah suatu susunan peraturan hidup yang diatur dengan kato-kato. Adapun kato-kato itu adalah suatu istilah adat yang artinya : serangkaian perkataan yang sekurang-kurangnya terdiri dari dua kalimat pendek, tetapi dalam artinya dan luas pemahamannya. Seperti contoh :
hidup dikandung adat mati dikandung tanah
Pernyataan di atas terdiri dari dua kato, tiap-tiap kato merupakan kalimat pendek. Kato pertama : “hidup dikandung adatâ€; tersusun dari kata-kata pilihan : hidup – dikandung – adat. Maknanya adalah : segala tingkah laku dan perbuatan manusia Minangkabau di dalam lingkungan masyarakat adatnya diatur dalam peraturan-peraturan adat.
b. Pitatah
Pitatah atau pepatah, berasal dari kata tatah, yang maksudnya adalah pahatan atau patokan. Berbagai nilai dan ajaran adat dipahat dalam kato-kato berbentuk pitatah. Seperti kato “hidup dikandung adat†merupakan kato pitatah, yang menjadi sumber peraturan yang mengatur segala hubungan dan sangkutan pergaulan hidup masyarakat Minangkabau.
c. Patiti
Patiti berasal dari titi, yang artinya : diatur secara seksama sehingga betul dan tepat. Sehingga patiti merupakan aturan yang mengatur pelaksanaan adat dengan seksama. Dengan demikian kalau pitatah merupakan pahatan kata yang menjadi norma hukum adat, maka patiti merupakan kaitan peraturan yang mengatur batas-batas pelaksanaan dari pitatah. Misalnya kato pitatah “hidup dikandung adatâ€, maka kato patitinya adalah :
adat hidup tolong menolong adat mati janguak manjanguak karojo baiek baimbauan karojo buruak baambauan
d. Pantun
Dalam memahami pitatah-patiti bagi masyarakat di masa lampau, dilakukan dengan berbagai cara di antaranya dengan menguntai kata ke dalam pantun. Hal ini dilakukan semata untuk memudahkan dalam penghapalan, seperti contoh :
nan merah iyolah sago nan kuriak iyolah kundi nan indah iyolah baso nan baiak iyolah budi
Untuk pantun pitatah dapat dilihat sebagai berikut :
panakiek pisau sirauik patungkek batang lintabuang salodang ambiek ka niru satitiek jadikan lauik sakapa jadikan gunuang alam takambang menjadi guru
Untuk pantun patiti dapat dilihat sebagai berikut :
anak urang koto hilalang poi ka pakan baso malu jo sopan kalau lah hilang hilanglah raso jo pareso
Marilah kita pelajari bagaimana nilai-nilai adat itu tersimpan di dalam kato-kato :
latiek-latiek tabang ka pinang hinggok di pinang duo-duo satitiek aie dalam pinang disinan bamain ikan rajo
Apakah mungkin setitik air di dalam pinang bisa menjadi tempat berenangnya ikan rajo? Perlu pemahaman yang mendalam tentang makna kato patiti tersebut. Seperti yang ditafsirkan oleh berbagai ahli adat : buah pinang berbentuk jantung, sebagai perlambang lubuk hati nurani. Setitik air di dalam buah pinang muda biasanya diambil sepemakan sirih. Setitik air ini merupakan lambang “rasa peri kemanusiaan†di dalam “lubuk hati manusiaâ€. “Ikan rajo†merupakan ibarat sesuatu yang besar, yaitu budi baik. Sehingga makna “ikan rajo bamain di satitiek aie dalam pinang†adalah : budi baik itu hidup dalam rasa peri-kemanusiaan yang terkandung dalam lubuk hati nurani manusia. Bentuk rasa yang berupa budi baik itulah yang dikatakan “raso†menurut adat.
raso tumbuah di dado pareso tumbuah di kapalo
Marilah kita pahami beberapa pantun pitatah-patiti berikut :
karakap madang di hulu baputik alah babuah balun marantau bujang dahulu di kampuang baguno balun
hiu bali balanak bali ikan panjang bali dahulu induak cari dunsanak cari induak samang cari dahulu
dimaa kain kabaju dijaik indaklah sadang lah takana mangko diungkai dimaalah nagari indak kamaju adat sajati tu banalah nan hilang dahan jo rantiang nan bapakai
supayo jarami naknyo takerai larakkan padi ditampuaknyo supayo nagari naknyo salasai latakkan sasuatu di tampaiknyo
anak urang koto hilalang
pai ka pakan baso malu jo sopan kalau lah hilang hilanglah raso jo pareso
rarak limau dek binalu tumbuah sarumpun jo sikasek kalau hilang malu jo sopan umpamo kayu lungga pangabek
28 Juli 2004
Â
Trackback(0)
|