|
Page 1 of 13 Setelah tulisan mengenai ibadah Haji yang menjadikan Artikel yang sering dibaca (Top Tens) pada situs cimbuak. Satu lagi persembahan tulisan mengenai Ibadah Haji, yaitu Rajutan Kisah di Tanah Suci. Ada 170 Catatan Menarik dari Mamak/Bapak  Darwis dalam menunaikan Ibadah Haji. Dan Tulisan ini di buat berdasarkan domisili beliau yaitu di Bogor. Selamat Membaca (Team Cimbuak)  Â
DAFTARÂ ISI
KATA PENGANTAR BAB – 1. PERSIAPAN & KEBERANGKATAN 1. Kota Madya Bogor 2. K.B.I.H. 3. KLOTER. 4. Seperti mau camping kegunung 5. Lambaian tangan anak cucu 6. Asrama haji Bekasi 7. T a s  Nyawa  8. Mandi ihram pada jam 12,00 malam  9. Saudi Air  Â
BAB – 2.  U M U M 10. Imigrasi di Jeddah 11. Perkiraan suhu yang meleset 12. Kebudayaan Insya-Allah  13. Bahasa Indonesia   14. Bahasa Inggeris  15. Bahasa Daerah  16. Bahasa A r a b . 17. Tabloid /harian berbahasa Indonesia 18. Barang-barang buatan China 19. Hebat orang Turki 20. Indonesia Banyak 21. Kopiah mulai hilang. 22. Shalat jenazah 23. Dinamika kelompok. 24. Modernisasi fiqih haji 25. Kapan dimulai tanggal ?  Â
BAB – 3. KALAU TUHAN MENGHENDAKI 26. Reumatik dan pengapuran  27. Siti Rahmah yang tetap ceria 28. Keajaiban alat pendengar 29. Luput dari kecelakaan 30. Orang tua yanbg istimewa 31. Diabetes yang tahu diri 32. Suatu kecerobohan 33. H.P. masuk lobang W.C. 34. Syorga Muzdhalifah 35. Jangan sombong
BAB – 4. AGAK LUCU DAN LUAR BIASA 36. Orang Bogor pembawa hujan 37. Jam – Jam di Maktab 38. Tampak Aurat 39. Kencing dipagar 40. Suara yang nikmat 41. Dibuang sayang 42. Sang Merah Putih Dibelakang 43. Irama batuk bak kolintang 44. Membaca Al-Qur’an sambil ngobrol 45. Menggunakan AC dimusim dingin 46. Dendeng daging bertebaran 47. Thawaf ditengkuk 48. Zam – zam untuk wudhu’ 49. Kebiasaan jelekÂ
BAB – 5.  M A K A N A N 50. Dua buah restoran si Doel. 51. Restroran Betawi 52. Restoran Padang 53. Makanan kaki lima 54. Kasir Restoran orang Turki 55. Dua kelas nasi campur 56. Gulai Onta 57. Restoran India 58. Roti dari sorghum 59. Banyak buah-buahan 60. Banyak makanan gratis 61. Sambal bawaan 62. Memasak di maktab 63. Chilli Powder 64. Air putih 65. Indo, Super, Pop mie 66. Makanan termahal didunia 67. Restoran Mia – Mia di Madinah 68. Hadian makan siang dari Saudi Air 69. Tidak makan dari pagi 70. Cara makan orang Arab.Â
BAB – 6. PERBEDAAN KHILAFIYAH 71. Saidina Muhammad 72. Mikat di Jeddah 73. Azan shalat Jum’at 74. Azan shalat subuh 75. Do’a q u n u t 76. Bacaan Basmallah 77. Mencuci batu pelempar 78. Shalat wajib di Mina 79. Waktu khotbah Arafah 80. Perluasan wilayah Mina 81. Sekitar gamis 82. Bilal langsung jadi imam 83. Dilarang menghadap Ka’bah 84. Do’a syukur selesai haji 85. Tak ada gunanya umrah sunat 86. Dzikir terpimpin di Arafah 87. Zikir dan do’a setelah shalat jamaah 88. Perbedaan antara Masjidilharam dan Masjid Nabawi
BAB – 7. SAFARI WUQUF – JAMARAT 89. Rencana yang mengerikan 90. Tenda Arafah 91. Tumbuhnya pelan 92. Tidur di Muzdhalifah 93. System angkutan taraduddi 94. Botol gas meledak 95. Kemah di Mina 96. Kecelakaan pada hari NAHAR 97. Boleh diwakilkan 98. Melempar ketiga jumrah 99. Tiduran dijalan dan pengemis 100. Mandi di Mina 101. Mencari batu pelempar di Mina 102. Berhaji dengan mobil pribadiÂ
BAB – 8. IBADAH DI MASJIDILHARAM 102. Shalat wajib 103. Ulangan komando oleh bilal 104. Shalat dilantai bawah tanah 105. Shalat dilantai atas (atap) 106. Shalat tahajjut 107. Taktik mencari tempat 108. Jum’at pertama di Masjidilharam 109. Laki-laki dan wanita campur-aduk. 110. Sujud dipunggung isteri 111. Shalat selesai thawaf 112. Berkenalan dengan teman sebelah 113. Mencium Hajar Aswad 114. Thawaf dilantai atas 115. Sa’i dilantai dua 116. Membaca Al-Qur’an 117. Jamaah Indonesia jadi sasaran 118. Suka duka kloter awal, tengah dan akhirÂ
BAB – 9. BERZIARAH KE JEDDAH 119. Pemandangan Mekah – Jeddah 120. Taman bunga yang indah 121. Gerbang Toll 122. Tempat qishash 123. Makam Siti Hawa 124. Resiko rombongan besar 125. Menyaksikan air mancur dari jauh 126. Sepeda Nabi Adam 127. Mesjid Ar-Rahmah 128. Tak ada makan malam 129. Air dari lereng batu 130. Kota internasionalÂ
BAB – 10. BER-ARBAIN KE MADINAH 131. Jalan bebas hambatan 132. Pemandangan yang menarik 133. Batu pencegah debu 134. Makan diperjalanan 135. Mesjid Nabawi 136. Maktab di Madinah 137. Suhu dimusim dingin 138. Pembagian yang tidak proporsional 139. Makam Nabi dan Raudah 140. Shalat diatap 141. Batas posisi imam 142. Kelompok ceramah 143. Antara azan dan iqamah 144. Latihan shalat wajib 145. Suka duka lift 146. Benteng Kandagh 147. Tujuh Mesjid 148. Pasar kurma 149. Angkat sendiriÂ
BAB – 11. KERAGAMAN PRAKTEK SHALAT 150. Tangan Lurus Saja 151. Tangan dilipat waktu I’tidal 152. Gerakan telunjuk 153. Duduk diatas kedua telapak kaki 154. Duduk diatas kedua tumit 155. Duduk antara dua sujud terlalu cepat 156. Duduk seperti tasyahut akhir 157. Melarang orang lewatÂ
BAB – 12. H A L  LAIN-LAIN 158. H.P. Yang kurang canggih 159. Tak ada keropak 160. Banyak mesjid kecil-kecil 161. Tipe manajerial K.B.I.H. 162. Hadiah Raja Fahd 163. Tidur di Maktab 164. Cuci pakaian di Maktab 165. Obat terpaksa dihemat 166. Obat semi natural 167. Menyembelih onta 168. Jatah hati onta 169. Angkot di Mekah 170. Main kartu pakai taruhanÂ
                                 Â
PENGANTAR
Pada musim haji awal tahun 2004 ini atas izin dan rahmat Allah SWT penulis berkesempatan menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Ini adalah kesempatan yang kedua kalinya, setelah yang pertama tahun 1993, kurang lebih sepuluh tahun sebelumnya. Dalam kesempatan yang kedua ini, penulis berusaha membuat catatan harian tentang kejadian yang dianggap penting pada hari itu, baik yang langsung dialami sendiri, yang dilihat, didengar, maupun yang dibaca dan yang ditanyakan pada orang lain. Â Pada mulanya catatan-catatan ini hanyalah berupa diary biasa untuk kenang-kenangan pribadi, tapi kemudian penulis rasakan bahwa ada baiknya informasi ini disebar luaskan dalam bentuk kumpulan tulisan/buku. Sebab cukup banyak isinya yang merupakan hal-hal baru, yang belum diperkirakan sebelumnya dan yang belum disebut-sebut dalam program latihan manasik haji sebelum berangkat. Sehingga buku ini mungkin akan bermanfaat sebagai persiapan bagi orang-orang yang berniat untuk menunaikan ibadah haji pada tahun-tahun yang akan datang. Siapa tahu anda akan mengalami hal yang sama, atau akan mendapat pengalaman yang lebih kaya lagi. Â Agar lebih bersifat informatif, maka catatan ini tidak lagi saya bagi atas kapan waktu terjadinya akan tetapi berdasarkan atas topik atau sifatnya, seperti dapat anda saksikan pada daftar isi dari buku ini. Mudah-mudahan catatan ini ada manfaatnya bagi para pembaca untuk mengetahui secara lebih mendetail apa yang mungkin akan dialami, dirasakan atau disaksikan dan didengar dalam menunaikan ibadah haji ditanah suci.
PENDAHULUAN
Ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima , yang diwajibkan kepada kaum muslimin dan muslimat yang telah memenuhi syarat untuk melaksanakannya sekali dalam seumur hidup. Persyaratan tersebut adalah: beragama Islam, sudah dewasa, berakal sehat, merdeka (bukan budak) dan berkemampuan. Yang terberat dari syarat tersebut adalah mengenai kemampuan (istithah), terutama bagi jamaah Indonesia yang jauh dari tanah suci. Kekayaan atau keuangannya harus mampu untuk membayar ongkos naik haji (ONH) dan belanja sanak keluarga yang ditinggal dirumah.  Namun kenyataan di Indonesia saat ini, walaupun seseorang telah memenuhi persyaratan tersebut diatas, belum tentu dia bisa pergi haji. Sebab sesuai dengan perkembangan, jumlah manusia yang ingin naik haji ketanah suci semakin banyak, sehingga sudah melebihi kapasitas pelayanan yang tersedia. Pembatasan terpaksa harus dilakukan dengan menetapkan quota untuk setiap negara berdasarkan jumlah kaum muslimin dinegara tersebut. Jadi agar benar-benar dapat direalisasikan “berhaji†, syarat-syarat seperti tersebut diatas, harus ditambah satu lagi dengan “dapat jatahâ€.  Sebaliknya ada kaum mislimin yang sudah sanggup,bahkan kekayaannya sudah jauh melebihi dari hanya sekedar untuk yang diperlukan pergi haji, akan tetapi dia belum ada niat atau rencana untuk itu. Suka mengundur-ngundur waktu, bahkan ada yang merencanakan, nanti saja kalau sudah tua. Hal ini berbahaya, mempunyai risiko yang tinggi, sebab apabila seseorang sudah berkesanggupan, maka ibadah haji sudah menjadi rukun Islam banginya. artinya belum syah Islamnya, sebelum dia pergi haji. Kalau sementara itu dia meninggal dunia, maka dia meninggal bukan sebagai orang Islam. Rasulullah S.A.W dalam sebuah hadist bersabda bahwa orang seperti itu dapat memilih meninggal sebagai orang Yahudi atau sebagai orang Nasrani.  Pelaksanaan ibadah haji di Indonesia diurus oleh Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Bimbingan Haji, Departemen Agama. Dasar penyelenggaraan yang terakhir adalah Undang-Undang No. 17, tahun 1999. Dalam Undang-Undang itu antara lain dicantumkan kewajiban Pemerintah menyiapkan dan menerbitkan pedoman manasik dan panduan perjalanan haji. Biaya perjalanan haji yang harus distor oleh jamaah, atau yang dikenal dengan ongkos naik haji (O.N.H.) besarnya ditetapkan oleh Pemerintah setiap tahun . Ada pula perusahaan-perusahaan swasta yang menawarkan fasilitas yang istimewa, yang dikenal dengan ONH Plus, jauh lebih mahal biayanya. Biasanya ONH itu selalu bertambah naik setiap tahun, seiring dengan inflasi, kenaikan kurs dollar Amerika dan sebagainya.  Umumnya orang mengeluhkan bahwa ONH di Indonesia ini terlalu tinggi dibanding dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunai dan Thailand. Tingginya ONH dari Indonesia mungkin disebabkan oleh karena mengurus keberangkatan terlalu banyak jamaah, dalam waktu singkat dari segenap pelosok Indonesia yang sangat luas,penyelenggaraannya tidak mudah. Ditambah lagi dengan pesawat terbang carteran yang diisi hanya sekali jalan saja, tentunya akan menambah biaya. Walaupun demikian, jumlah jamaah haji dari Indonesia selalu bertambah dan selalu melebihi quota, sebagai pertanda semakin membaiknya ekonomi dan kesadaran beragama dari muslim Indonesia.  Untuk memperbesar peluang mendapatkan haji mabrur, maka ada baiknya bagi seseorang yang bermaksud pergi menunaikan ibadah haji terlebih dahulu memperdalam pengetahuannya tentang ibadah haji itu. Dengan demikian maka diharapkan dia akan lebih menghayati setiap kegiatan ibadah haji yang dilaksanakan ditanah suci, semuanya dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Dari setiap ibadah yang dilakukan itu, baik yang termasuk rukun,wajib maupun sunnah haji, hendaknya diketahui latar belakangnya, dalil-dalilnya, cara melaksanakannya, hikmahnya dan manfaatnya terkait dengan peningkatan ketaqwaan.  Kita pergi menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci adalah dalam rangka memenuhi panggilan Allah SWT. Perintah Allah SWT terhadap ummat manusia untuk melaksanakan ibadah haji, pertama kali disampaikan melalui Nabi Ibrahim AS, segera setelah Ibrahim AS dan anaknya Ismael AS selesai membangun Ka’bah hampir 4000 tahun yang lewat (Al-Hajj, ayat 27). Dan wahyu Illahi yang mewajibkan ummat Islam untuk berhaji (Al-Baqarah,ayat 196), diterima oleh Rasulullah Muhammad SAW pada tahun ke-enam Hijriyah.  Kalau kita renungkan dengan mendalam ketentuan-ketentuan yang dikerjakan dalam ibadah haji, mulai dari memakai pakaian ihram , wuquf di Arafah, melempar jumrah, thawaf keliling Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwa dan thahallul, maka kita akan merasakan bahwa “panggilan†Allah SWT itu adalah untuk lebih dekat kepada-Nya, meningkatkan ketaqwaan , pendalaman tauhid dengan cara napak tilas sebagian jejak Nabi Ibrahim AS menurut petunjuk dari Rasulullah SWT.  Ada empat Rukun Haji yang harus dilaksanakan untuk syahnya ibadah haji yaitu: memakai pakaian ihram, wuquf di Arafah, thawaf ifadhah keliling Ka’bah dan sa’i antara Shafa dan Marwa. Kalau satu saja diantara rukun haji tersebut tidak dilaksanakan, maka hajinya tidak syah. Rukun haji tak dapat diganti dengan dam atau denda, seperti halnya wajib haji, kelonggaran hanya bagi yang sakit dapat dilakukan dengan bantuan tandu. Sementara yang termasuk pada wajib haji (bila tidak dilakukan dapat diganti dengan dam) ada 8 kegiatan yaitu: Berpakaian ihram dari Miqat (tempat tertentu yang telah ditetapkan), wuquf di Arafah hingga tenggelam matahari pada hari Arafah. mabid (singgah sebentar) di Muzdhalifah, melempar jumrah, bermalam di Mina, menyembelih hewan qurban, mencukur rambut dan melaksanakan thawaf wadha’ atau thawaf perpisahan pada saat akan meninggalkan Mekah.  Sementara kegiatan-kegiatan lainnya adalah berstatus sunnat, baik dikerjakan kalah ada waktu dan kesempatan, tak ada pengaruhnya terhadap keabsahan ibadah haji bila tak sempat dilakukan. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah : membaca thalbiyah, membaca do’a setelah thalbiyah, do’a , zikir dan sebagainya diwaktu thawaf dan sa’i, shalat sunnat di Makam Ibrahim dan Hijir Ismael, berdo’a di Multazam, meminum air zam-zam setelah thawaf, berjalan cepat pada tiga putaran pertama thawaf, berlari-lari kecil antara dua warna hijau waktu sa’i naik kebukit Shafa dan Marwa, berdo’a dan membaca taqbir pada waktu melempar jumrah.  Bila dilihat kegiatan-kegiatan yang menjadi rukun, wajib dan sunnat haji tersebut diatas, tidak ada termasuk “mencium Hajar Aswadâ€. Walaupun sebagian ada yang berkeyakinan bahwa mencium Hajar Aswad itu termasuk sunnat, akan tetapi janganlah sampai dipaksakan . Hanya untuk melaksanakan ibadah “sunnatâ€, kita harus berbuat dosa dengan menyikut,menyingkirkan bahkan menginjak orang lain , justru di Baitullah, Rumah Allah. Sebaliknya cukup banyak diantara kegiatan sunnah tersebut yang perlu dilaksanakan karena hikmahnya langsung dihayati bahkan merasuk kedalam kalbu, seperti membaca kalimat thalbiyah, berdo’a di Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah), zikir dan do’a dengan penghayatan penuh selagi thawaf dan sebagainya.  Melaksanakan ibadah haji, janganlah hanya sekedar melaksanakan perintah, tampa memahami dan menghayati makna dan pesan-pesan yang terkandung didalam apa yang dikerjakan dalam ibadah tersebut. Untuk itu persiapan yang perlu diadakan sebelum pergi haji, tidaklah cukup hanya sebatas persiapan materiel yang cukup dan kesehatan yang memadai, tetapi juga persiapan pengetahuan yang mendalam tentang arti dan makna dari ketentuan-ketentuan ibadah haji itu. Keperluan tersebut tidaklah cukup bila hanya diharapkan dari mengikuti manasik haji sebelum berangkat, hendaknya dari jauh sebelumnya telah dimulai dengan membaca buku-buku haji yang sekarang sudah banyak tersedia. Termasuk buku ini, yang khusus membicarakan apa saja yang dapat dialami, didengar, dilihat, dibaca, ditanyakan dan sebagainya selama menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
|