Rajutan Kisah di Tanah Suci PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. MS   
Tuesday, 11 October 2005
Article Index
Rajutan Kisah di Tanah Suci
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13

BAB – 1 PERSIAPAN DAN KEBERANGKATAN

1. Kotamadya Bogor
 Sebagai penduduk Cimanggu Kecil, Kelurahan Ciwaringin Kecamatan Bogor Tengah, kami mendaftarkan untuk pergi haji pada Kanwil Departemen Agama Kotamadya Bogor. Walikota Bogor waktu itu baru saja mendapat penghargaan dari Departemen Agama Republik Indonesia sebagai Kotamadya terbaik dalam pengurusan jamaah haji untuk tahun 2003. Kemudian saya rasakan bahwa pelayanan terhadap jamaah haji Kodya Bogor ini, mulai dari persiapan keberangkatan sampai pada kedatangan memang diorganisir dan dikelola dengan baik, disiplin dan teratur.
 Keberangkatan dari Mesjid Raya Bogor naik bus menuju asrama haji Propinsi Jawa Barat di Bekasi sangat lancar. Semua jamaah satu kloter yang terdiri dari 10 rombongan terlebih dahulu dikumpulkan didalam Mesjid Raya, tanpa pengantar. Kemudian dipanggil menurut rombongan, satu persatu berbaris naik bus dengan teratur tanpa berebut. Sementara barang-barang telah dikumpulkan sehari sebelumnya dan diurus tersendiri. Demikian pula dengan kepulangan jamaah haji, mulai dari penyambutan di Bandara Soekarno-Hatta, transportasi menuju Bogor sampai bubar di halaman Balai Kota Bogor, semuanya memuaskan.

2. K.B.I.H
 Adalah akronim dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji, dikelola oleh institusi swasta yang pada umumnya berbentuk yayasan. Setiap jamaah calon haji tergabung dalam KBIH tertentu sesuai pilihannya sendiri. Kami satu rombongan keluarga yang terdiri dari 7 orang mengikuti salah satu KBIH yang cukup terkenal di Kotamadya Bog or. Keberadaan KBIH ini sangat membantu Departemen Agama dalam mengelola pelaksanaan ibadah haji setiap tahun. Demikian pula setiap jamaah calon haji sangat terbantu oleh adanya pengelola KBIH ini. Semua yang diperlukan oleh jamaah untuk proses keberangkatan ke tanah suci , diurus oleh KBIH. Seperti urusan dengan Pemda, Jawatan Agama, Dinas Kesehatan, termasuk urusan Surat Kesehatan, Pasport dan surat-surat penting lainnya, jamaah tinggal terima bersih dari KBIH.
Bimbingan pelatihan manasik haji telah dilakukan oleh KBIH beberapa kali semenjak jauh hari sebelum keberangkatan , termasuk pembentukan kelompok dan rombongan dan perkenalan silaturrahmi antar jamaah, terutama yang berada dalam satu kelompok/rombongan. Pelaksanaan ibadah haji di tanah suci Makkah dan pelaksanaan shalat Arbain di Madinah serta ziarah dan ibadah-ibadah lainnya, termasuk bimbingan di maktab/tempat penginapan semua dilaksanakan oleh KBIH terkait. Jadi mengenai keberadaan KBIH ini memang sangat diperlukan oleh setiap jamaah haji.

3. K.L.O.T.E.R
Kependekan dari Kelompok Terbang. Bukan berarti bahwa ada beberapa pesawat terbang yang terbang dalam satu kelompok, akan tetapi adalah kelompok jamaah haji yang terbang menggunakan satu pesawat. Jamaah calon haji Indonesia dibagi atas kloter-kloter tersebut. Oleh karena pesawat terbang yang digunakan adalah tipe Boeing 747, maka satu kloter terdiri dari + 450 orang. Setiap kloter dipimpin oleh seorang ketua kloter dengan beberapa orang stafnya dalam bidang kesehatan, bimbingan, administrasi dan lain-lain. Satu kloter terbagi atas 10 rombongan @  45 orang dan dipimpin oleh seorang Ketua Rombongan yang selanjutnya dipendekkan dengan KAROM. Setiap rombongan terdiri dari 4 regu @ 11 orang, dipimpin oleh seorang Ketua Regu yang disingkat dengan KARU.
 Keberadaan rombongan dan regu sudah dimulai dari KBIH masing-masing. Satu kloter berasal dari beberapa buah KBIH. Seperti kloter kami berasal dari 5 buah KBIH. Jumlah jamaah dari masing-masing KBIH tidak sama. Ada yang banyak  ada yang sedikit, bahkan ada yang tidak sampai satu rombongan. Jumlah jamaah KBIH yang banyak juga tidak persis sama dengan kelipatan 45. Akibatnya akan ada rombongan yang anggotanya berasal dari beberapa KBIH. Digabung menjadi satu untuk mencukupkan 45 orang.
 Kelemahan dari rombongan yang berasal dari beberapa KBIH ini adalah bahwa perkenalan antara sesama anggota baru dimulai dari setelah rombongan itu terbentuk beberapa hari sebelum berangkat. Sedangkan rombongan yang anggotanya utuh berasal dari satu KBIH, sudah saling mengenal dari sejak lama dalam acara-acara yang dilakukan oleh setiap KBIH tersebut. Demikian pula baik KAROM maupun KARU sudah mulai berfungsi sejak jauh sebelumnya dalam KBIH terkait.

4. Seperti Mau Camping Ke Gunung         
 Pada salah satu acara manasik yang dilakukan pada KBIH kami, dibagikan sebuah daftar yang terdiri dari dua lembar kertas fotocopy berisikan nama-nama barang yang perlu dibawa oleh jamaah haji berikut dengan berapa jumlah masing-masingnya. Seperti : kain ihram 2 lembar, pakaian dalam, celana biasa, celana putih, baju koko, baju hangat (karena musim dingin), sarung, sandal, sepatu, sampai kepada gunting kuku, peniti, jarum/benang, dan lain-lain sebagainya.
 Jamaah yang patuh mengikuti “petunjuk” tersebut , maka isi kopernya akan padat sekali, bahkan bagi yang juga membawa perlengkapan makanan dan bahan makanan, maka dengan tas-tas tentengan pun menjadi padat, penuh, sesak. Termasuk saya dan istri saya, walaupun ini sudah menjadi keberangkatan yang kedua, tetap saja mematuhi “petunjuk’ tersebut, untuk mengurangi resiko. Seperti mau camping ke gunung saja, segala-galanya harus dibawa dari rumah.
 Sampai di Mekah (kami termasuk gelombang kedua, ke Mekah dulu baru ke Medinah), kami ditempatkan  pada sebuah hotel 13 lantai didaerah Misfalah, kurang lebih 1,5 km dari Masjidilharam. Mulai dari depan hotel kami sampai sampai ke mesjid penuh dengan pertokoan dan pedagang kaki lima, apa saja ada dijual disitu. Dan harganya tidak mahal, living cost atau uang saku yang kita terima cukup banyak untuk berbelanja makanan dan perlengkapan yang diperlukan. Restoran Indonesia banyak, makanan Indonesia dikaki lima juga banyak dan murah, bahan mentah mulai dari terong, buncis, bayam sampai pada cabe bubuk ada dijual. Hanya santan untuk membuat gulai yang tidak ada. Ternyata barang bawaan yang banyak itu tidak saja menyusahkan waktu berangkat, tapi juga waktu mau pulang kembali ke Indonesia. Sebab mau ditinggal sayang, mau dibawa pulang tidak cukup tempat.

5. Lambaian Tangan Anak Cucu
 Waktu keluar dari Masjid Raya Bogor untuk naik bus satu per-satu, kami dapat pada barisan yang agak didepan, sehingga sampai diatas bus masih bebas mau duduk dimana, sebab masih banyak kursi yang belum terisi . Secara spontan saja atas kehendak Allah SWT kami memilih duduk disebelah kiri bus. Setelah bus penuh dan mulai bergerak kami melihat keluar jendela memperhatikan para pengantar yang penuh sesak  berdempetan pada pinggiran jalan yang sempit didepan mesjid itu. Adalah merupakan suatu kenikmatan yang tak berhingga ketika pandangan kami bertemu dengan beberapa orang anak-cucu yang ikut mengantar tadi pagi. Walaupun yang terlihat hanya lambaian tangan dan wajah mereka saja , karena berjubelnya manusia . Tentunya mereka sudah berdiri disitu selama 2 jam lebih ,sebab kami sampai di Mesjid Raya kira-kira jam 5.00 pagi  dan bus berangkat lewat sedikit dari jam 7.00 .Kalau kami waktu itu  memilih duduk disebelah kanan bus, tentunya mereka tidak akan dapat melihat kami dan alangkah kecewanya mereka, kalau demikian …! Saya  merasakan ini merupakan suatu rahmat Allah SWT kepada kami waktu keberangkatan ini. Semoga demikian selanjutnya sampai kepulangan  kembali nanti setelah selesai menunaikan ibadah haji di tanah suci.

6. Asrama Haji Bekasi
 Karena Kodya Bogor termasuk wilayah Propinsi Jawa Barat, maka kami dibawa ke asrama haji Bekasi, bukan ke Pondok Gede di Jakarta. Penerimaan dan pelayanan di asrama cukup memuaskan, bagus, cepat dan lancar. Tidak banyak prosedur, karena sebagian telah diurus secara kolektif oleh KBIH atau PPIH, Bogor. Acara di mulai dengan penyerahan resmi  jamaah kloter kami dari PPIH Bogor kepada PPIH Jawa Barat ; yang diisi dengan pidato sambutan-sambutan dan petunjuk yang diperlukan oleh para jamaah. Pemeriksaan kesehatan berjalan lancar dan cepat, karena ada 3 pintu yang dibuka sekaligus. Kamar tidur diisi dengan 6 buah dipan bertingkat ,jadi satu kamar ada 12 orang, terpisah antara wanita dan pria. Kamar mandi/wc bersih, cuma tetap saja antre, karena banyaknya jamaah . Karena bertepatan dengan hari Jum’at, maka kami shalat Jum’at dimasjid asrama yang tidak terlalu besar, namun pelatarannya luas dan pakai atap.

7. Tas Nyawa
 Setiap jamaah diberi tas kecil untuk tempat dokumen penting seperti pasport, buku kesehatan, boarding pas, dan lain-lain, termasuk obat-obatan jika diperlukan sewaktu-waktu. Pada bagian depan dan belakang tas itu ada laci. Supaya mudah dikenal pada bagian depan ada photo yang bersangkutan ukuran besar. Sebagian jamaah menamakan tas itu dengan “Tas Nyawa”, karena begitu pentingnya . Cuma ada kelemahan dari tas itu , yaitu tali tas pengantung ke leher terlalu kecil dan ikatannya dengan tas tidak terlalu kuat.
 Kelemahan ini dimanfaatkan oleh para pedagang kaki lima di asrama Bekasi dengan menambahkan tali baru pada tas tersebut yang lebih lebar dan kuat, juga dapat di fungsikan sebagai ikat pinggang. Harganya cuma Rp 5.000,- termasuk ongkos pasang. Hampir semua jamaah menggunakan kesempatan ini, takut nanti Tas Nyawa mereka hilang dalam kondisi berdesakan di tanah suci.

8. Mandi Ihram Jam 12.00 Malam
 Pada sore harinya diumumkan bahwa keberangkatan besok ke bandara Soekarno-Hatta direncanakan jam 3.45 dini hari. Para jamaah sudah harus bersiap-siap 1 atau 2 jam sebelumnya, karena butuh waktu untuk mengurus barang-barang bawaan. Juga diumumkan bahwa jamaah akan berihram di Jeddah, namun karena sulit untuk mandi dan waktu tidak cukup di airport Jeddah nantinya, maka para jamaah dianjurkan untuk mandi ihram di asrama sebelum berangkat. Maka mengingat sudah harus siap berangkat sekitar jam 2.00 malam, maka saya coba mulai tidur segera setelah shalat Isya dan makan malam. Namun karena pikiran tidak tenang , dan ramai dalam satu kamar saya sulit tidur.
 Saya ada diberi obat oleh dokter supaya dapat tidur nyenyak, tapi saya tidak meminumnya, takut nanti ketiduran . Setelah jam 12.00 malam belum juga tertidur, maka saya putuskan untuk mandi ihram, mumpung kamar mandi masih sepi. Jadi praktis malam itu saya tidak tidur, jam 2.00 malam semua jamaah sudah siap  dan ternyata bus juga sudah siap sedia untuk berangkat. Namun karena jamaah berjumlah 450 orang, tentu membutuhkan  waktu untuk mengurusnya. Harus dipastikan dulu bahwa semua sudah ada dalam bus, tidak ada yang ketinggalan dan baru bus boleh berangkat. Namun pengumuman yang kami dengar kemudian adalah bahwa keberangkatan ke airport diundur sampai jam 6.15 nanti, karena pesawat Saudi Air yang akan membawa kami terlambat  datang.  Seterusnya kami masuk Bandara lewat pintu belakang, lansung keruangan tunggu. Setelah kami duduk-duduk di ruang tunggu sekian lama, ternyata pesawat masih juga belum mendarat. Kami semua sempat cemas mengapa terlambat sekali kedatangan pesawat Arab Saudi tersebut. Akhirnya setelah pesawat datang dan ada pengumuman bahwa pesawat akan take off pada pukul 10.30 siang, barulah perasaan menjadi senang. Ketika ada yang menanyakan mengapa pesawat terlambat mendapat jawaban sebagai berikut;  “Siapa bilang terlambat, memang inilah jadwal penerbangan kami,  malahan lebih cepat beberapa menit dari schedul” . Entah dimana letaknya “miss informasi” ini, tapi telah menyebabkan saya tidak tidur semalaman dan mandi ihram  pada jam 12.00 malam.

9. Saudi Air
 Saya dan istri pernah naik pesawat dari maskapai penerbangan Saudi Air Lines ini, satu kali dulu , hampir 15 tahun yang lalu dalam penerbangan dari Roma ke Paris. Sebenarnya di Jakarta , kami membeli tiket Thay Air Ways dengan route penerbangan Jakarta- Bangkok- Roma –Paris. Tapi entah apa sebabnya di Roma harus ganti pesawat, kami tidak mengerti . Kesan saya pertama pada waktu itu adalah mengenai lambang pesawat berupa; dua buah pedang yang disilangkan dan pohon kurma diatasnya. Pikiran saya waktu itu mengatakan : “memang orang Arab ini hobbinya berkelahi atau berperang saja, sampai pedang dijadikan lambang pesawat”. Kemudian setelah saya mulai dan terus mendalami ilmu agama, barulah saya sadar bahwa lambang itu tepat sekali. Hidup ini memang penuh perjuangan dan peperangan. Dan peperangan yang paling dahsyat adalah melawan hawa nafsu atau hasutan setan. Setiap azan dan iqamah selalu dikumandangkan “haiyyaalal fallah”  marilah mencapai kemenangan, atau memenangkan peperangan.
 Penerbangan dengan Saudi Air saat ini menuju tanah suci, berbeda dengan penerbangan yang kami alami dulu. Sekarang pesawatnya lebih bersih, pramugarinya orang Indonesia dan makanan yang dihidangkan cocok dengan selera orang Indonesia



Last Updated ( Tuesday, 18 October 2005 )
 
< Prev   Next >




Powered By PageCache
Generated in 0.03997 Seconds