Rajutan Kisah di Tanah Suci PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. MS   
Tuesday, 11 October 2005
Article Index
Rajutan Kisah di Tanah Suci
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13

BAB  12. HAL  LAIN  -  LAIN

158. H.P. Yang Kurang Canggih
Sesuai dengan kemajuan dibidang komunikasi/ telekomunikasi, sekarang ini, telephon sudah bisa dikantongi. Baik di Mekah maupun di Madinah, tidak sedikit jamaah yang mengantongi telephon (H.P.) kedalam mesjid. Memang tidak ada larangan. Yang dilarang membawa kamera. Tapi kalau H.P. juga dilarang tak masalah, menyembunyikannya mudah. Jadi sedang asyik melaksanakan shalat tidak jarang kita diganggu oleh suara H.P. Orang yang menelepon entah dari Indonesia atau dari mana, tentu tidak mengetahui bahwa yang dipanggil lagi shalat. Bunyi telepon itu tidak saja mengganggu orang sekitar, tentu lebih menggu lagi yang empunyanya. Walaupun bunyi H.P.itu masih kalah dari bunyi batuk, tapi karena iramanya lain, maka mengganggu juga. Lain kali hendaknya teknologi H.P. ini dapat ditingkatkan lagi. Cara mematikannya dibuat lebih mudah, dapat dilakukan dengan meraba-raba kantong saja , atau lebih canggih lagi, dia bisa mati sendiri kalau sipenerima lagi shalat.

159. Tak Ada Keropak
Tidak hanya di Masjidilharam dan Masjid Nabawi tidak ada keropak, dimanjid-masjid lainpun tak ada keropak, baik yang diedarkan kjeliling maupun yang diletakkan didepan pintu. Ini berbeda sekali dengan kebiasaan kita di Indonesia. Keropak tersebut di Indonesia sangat berperan untuk biaya pengelolaan rutin dari sebuah mesjid. Di Arab Saudi ini kemungkinan biaya/anggaran untuk keperluan semua mesjid, apakah rutin atau pembangunan , ditanggung oleh pemerintah atau oleh orang-orang kaya, saya tidak tahu. Tapi yang jelas tak ada peluang bagi kita kalau ingin berinfak agak ala kadarnya untuk pengelolaan atau pembangunan m,esjid di Mekah dan di Madinah, sebab tak ada sarana untuk itu.

160. Banyak Mesjid Kecil – Kecil
Yang jelas disekitar maktab kami di Mekah, namanya daerah Misfalah, banyak mesjid kecil-kecil. Ada yang berupa bangunan khusus mempunyai pekarangan, ada pula yang menempel pada bangunan hotel, atau berdempet dengan pertokoan, tetapi ciri mesjidnya tetap ada yaitu ada kubah dan ada menara, walaupun mesjidnya kecil. Setahu saya didaerah Misfalah itu saja ada 6 buiah mesjid kecil-kecil. Pada semua mesjid itu selalu tempat pria dan wanita dipisah. Ada mesjid yang melaksaanakan semua shalat wajib lima waktu, ada yang hanya menyelenggarakan shalat magrib dan isya saja. Dan pada umumnya tidak menyelenggarakan shalat Jumat.

161. Tipe Manajerial  K.B.I.H
Saya rasa belum ada semacam pedoman yang standard bagaimana mengelola sebuah K.B.I.H. (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji), yang pada umumnya dikelola oleh sebuah yayasan. Pada kloter kami saja ada 5 K.B.I.H. yang bergabung dalam satu kloter. Karena merasakan ada perbedaan manajerial antara satu K.B.I.H. dengan yang alin, maka saya tertarik untuk mendalami masalah tersebut. Dari informasi yang saya peroleh pada K.B.I.H. yang tergabung dalam kloter kami, dan menanya pula pada K.B.I.H. lain dimana ada teman saya, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa ada tiga macam tipe atau cara pengelolaan K.B.I.H., yaitu :

a. Tipe terbuka/demokrasi.
Apa saja program kegiatan yang akan dilaksanakan, umpamanya: pergi thawaf, melempar jumrah, berziarah, ceramah agama dan sedbagainya, disepakati bersama terlebih dahulu. Kapan akan dikerjakan, apa acaranya, bagaiman caranya, biaya yang diperlukan dan sebagainya. Manajemen keuangan juga terbuka, misalnya membeli hewan ternak untuk dam, tidak hanya ketua rombongan yang boleh ikut, anggotapun kalau ada ya ng mau, boleh ikut. Jelas berapa ekor unta dan kambing yang dibeli dan berapa harganya. Penggunaan uang yang dikumpulkan dari jamaah, apakah untuk basis, sopir, tips, tukang angkat dan sebagainya semuanya ada perincian dan laporan tertulis.

b. Tipe setengah terbuka/ semi demokrasi.
   Segala sesuatu diputuskan dalam rapat terbatas, antara ketua, ketua rombongan dan ketua regu. Lalu ketua regu meneruskannya kepada para jamaah. Pengelolaan keuangan dilakukan oleh pengurus, tapi laporan terperinci tentang uang masuk dan uang keluar ada tertulis dan dapat diketahui olleh semua jamaah.

c. Tipe tertutup/otoriter.
Segala sesuatu diputuskan oleh ketua, diberitahukan kepada ketua rombongan dan ketua regu. Ketua rombongan mengamankan keputusan tersebut dan ketua regu mengumumkan kepada semua jamaah. Fungsi ketua rombongan dan ketua regu adalah sebagai penyambung lidah ketua Pengelolaan keuangan tertutup, tak ada laporan.

162. Hadiah Raja Fahd
Pada waktu kami wuquf di Arafah, ada pengumuman dari kloterbahwa akan ada hadiah dari Raja Fahd. Jamaah agar bersiap-siap untuk menerimanya. Saya pikir ini tentu hadiah penting, kalau tidak tentu tidak akan diumumkan > Pada waktu kami telah memulai zikir bersama, datanglah para petugas membawa kardus-kardus besar, yang tentunya berisikan hadiah dari Raja tersebut. Tapi ditumpuk saja dulu,nanti akan dibagikan oleh ketua robongan  dan ketua regu yang bersangkutan. Setelah kemudian hadiah itu dibagikan , ternyata isinya sebuah tas kecil mungil, warna hitam, cantik, pakai ruitsleting. Setelah dibuka ternyata isinya memang yang akan sangat diperlukan setelah thahallul nanti di Mina. Isinya pisau cukur dengan satu pisau cadangan, sikat gigi dan odol kecil,sabun mandi ukuran kecil beserta kream untuk cukur. Setelah saya renungkan ini merupakan perintah terselubung agar setelah thahallul nanti bercukur habis saja sampai botak. Sebab tak ada gunting dan sisir.

163. Tidur di Maktab
Dulu tahun l993 tidur dimaktab tidak pakai divan, sekarang pakai divan seperti dihotel. Tapi dulu antara suami dan isteri tidak dipisah, kami sekamar 12 orang atau 6 keluarga. Dalam kamar itu dibuat 6 buah kamar kecil seluas dua lembar kasur, batas antara kamar adalah tas barang bawaan. Sekarang ini antara wanita dan pria dipisah. Kesulitannya adalah waktu makan, yang memasak kan ibu-ibu, jadi makan ditempat ibu-ibu. Dapur yang ada dibagian bapak-bapak sering nganggur.  Saya dan isteri saya bertada pada lantai yang berbeda, walaupun bedanya hanya satu lantai saja, tetap saja ada kesulitan dalam hal makan, penyediaan makanan air minum dan sebagainya.

164. Cuci Pakaian di Maktab
Biasanya para jamaah haji mencuci sendiri pakaian mereka di maktab, tak ada yang di-wassery-kan. Fasilitas untuk itu memang ada, kecuali ember plastik dan sabun harus beli sendiri. Lantai jemuran ada diatap, yang menyebabkan bertambahnya frequensi pemakaian lift, sebab orang dilantai bawah perlu pula keatas untuk menjemur kain cucian. Kondisi ini sudah diperhitungkan dari Bogor dengan membawa jepitan kain jemuran. Diatap itu anginnya kencang, kalau kain jemuran sempat diterbangkan angin tak akan ketemu lagi. Ternyata disini banyak yang menjual jepitan kain itu, harganya murah lagi.

165. Obat Terpaksa Dihemat
Setiap kloter selalu dilengkapi dengan tenaga medist (dua orang dokter dan beberapa orang perawat. Tim kesehatan ini menjadikan kamar tempat tidur mereka sekaligus merangkap sebagai ruang praktek. Bagi yang tidak sakit parah,langsung datang kekamar tersebut untuk diperiksa dan dikasi obat. Jamaah yang sakitnya agak payah dikunjungi oleh dokter secara periodik. Malah pernah sekali ada yang mengumumkan bahwa dokter datang, siapa yang sakit melapor. Saya perhatikan cukup payah juga kerjanya tim kesehatan ini, baik dokternya maupun perawatnya.Bayangkan 450 orang jamaah boleh dikatakan tak ada yang tak sakit, sekurang-kurangnya flu, batuk atau sakit kerongkongan. Saya sempat datang berobat dua kali, mereka kelihatan ramah dan gembira. Saya diberi obat untuk dua hari saja, sebab obat perlu dihemat katanya, karena persediaan sangat terbatas. Memang bisa minta tambahan persediaan obat, tapi dikasi sedikit-sedikit. Nanti kalau ternyata belum sembuh, tambah lagi katanya.

166. Obat Semi Natural
Karena jumlah obat terbatas, dan hampir semua jamaah kena serangan batuk, maka dokter kloter kami (namanya tidak saya sebut disini, karena belum minta izin), mempunyai resep khusus untuk obat batuk yang membandel. Caranya begini: Ambil air panas mendidih satu gelas, tetesin dengan minyak angin 1 – 4 tetes, tergantung kekerasan minyak angin itu dan kesanggupan pernafasan yang sakit. Kemudian uap yang keluar dari air panas itu, dihirup dal;am-dalam melalui mulut dan hidung. Agar uap tidak menyebar ketempat lain pakailah selubung dengan mukena. Tetap dihirup uap itu dalam selubung mukena, sampai sudah agak dingin airnya. Setiap kali menghirup ucapkanlah Allah …..! atau kalimat zikir lainnya. Ternyata kemudian obat semi natural yang agamist tersebut menjadi terkenal, karena memang lega pernapasan dibuatnya. Tidak hanya ibu-ibu, bapak-bapakpun banyak yang mencobanya.

167. Menyembelih Onta
Dalam salah satu ziarah di Mekah, diantara objek yang dikunjungi adalah tempat penyembelihan hewan ternak untuk dam. Sebagian besar jamaah memilih untuk tidak turun dari bus, sebagian kecil ada yang turun melihatilihat disekitarnya (kandang onta, kandang domba, tempat pemotongan, tempat menyayat daging, dan sebagainya). Saya ikut turun, ternyata memang baunya tak sedap. Saya lihat satu barisan onta yang sedang digiring masuk tempat penyembelihan. Saya ikuti barisan onta itu, tapi hanya sampai los daging, saya sudah tak tahan lagi. Tapi anak saya terus melihat sampai onta-onta itu disembelih, sampai pakaiannya banyak kena percikan darah. Katanya sungguh kagum bagaimana melihat onta-onta itu, pasrah saja disembelih lehernya, tampa diikat. Setelah tiba gilirannya, onta itu langsung maju, sampai tukang sembelih yang memegang pisau berlumuran darah ditangannya, pas berada dibawah leher onta itu. Setelah lehernya disabet dengan pisau tajam, darah segera mencurat kedepan banyak sekali. Namun onta itu tetap tenang, tetap berdiri tampa bergerak sampai tenaganya yang terakhir. Kemudian sekalugus ambruk jatuh ketanah dan langsung mati dalam waktu yang sangat singkat.
 Kemudian ada satu onta yang tidak mau disembelih, dia melawan, kelihatan ontanya masih muda. Lalu ada yang bertanya, apakah ada induk onta itu disini? Kalau ada maka letakkanlah onta ini pas dibelakang induknya. Kemudian setelah induknya disembelih, ternyata anak onta inipun patuh mengikuti jejak induknya itu. Sungguh ajaib dan sangat mengharukan.

168. Jatah Hati Onta
Pada waktu mau turun dari bus, ditempat penyembelihan hewan ternak, ada pengumuman bahwa para ibu-ibu yang mau membawa hati onta, supaya mendaftar, akan ada pembagian hati onta secara gratis. Saya pikir tak akan ada yang mau menggunakan kesempatan itu, sebab untuk apa dan mau diapakan. Tetapi ternyata banyak juga peminatnya, sehingga dalam bus jadi berbau agak anyir, waktu mau pulang. Rupanya sampai dimaktab, hati onta itu disayat-sayat dan dijemur. Mungkin nanti kalau sudah kering, bisa dibungkus baik-baik untu dibawa pulang ke Indonesia

169. Angkot Di Mekah
Angkutan kota di Mekah amat diperlukan terutama oleh jamaah yang maktabnya jauh dari Masjidilharam. Jamaah Indonesia ada yang di daerah Aziziyah, kira-kira 5 Km jaraknya dari mesjid. Tak mungkin kalau jalan kaki, walaupun hanya untuk sekali dalam sehari. Dari tempat kami yang hanya 1,5 Km dari Masjidilharam, banyak juga jamaah yang mempergunakan angkot. Tapi ada juga suka dukanya naik angkot  ini . Tarifnya tidak menentu, tergantung situasi dan kondisi. Kalau lagi banyak orang yang membutuhkan, seenaknya saja sopir meminta 5 Rial, tapi kalau sepi hanya 1 Rial. Satu waktu, kembali dari shalat di mesjid, kami sangat lelah, orang ramai sekali. Kami 4 orang naik angkot,yang kebetulan masih ada tempat duduk. Katanya biayanya 3,5 Rial perorang. Masih jauh dari tempat tujuan, angkot itu tiba-tiba berhenti, dan kami semuanya disuruh turun. Diantara orang Indonesia penompang angkot itu ada yang bisa berbahasa Arab, dia tanyakan mengapa berhenti. Jawab sopir itu, dia hanya bisa sampai disitu, sebab dia mau pulang dan mau berbelok kekanan. Maka terpaksalah kami lanjutkan dengan jalan kaki.
 Pada waktu jamaah sangat padat, dan pada waktu hari Jumat, jalan raya mulai dari Misfalah menuju Masjidilharam, ditutup untuk kendaraan, karena penuh dengan pejalan kaki.

170. Main Kartu Pakai Taruhan
Selesai shalat isya pada sebuah mesjid dalam perjalanan pulang saya melihat dari kejauhan beberapa orang duduk melingkar dibalik pagar jalan.  Kelihatannya mereka lagi main kartu, mungkin untuk pengisi waktu. Tapi yang jelas mereka itu bukanlah pekerja atau buruh kasar, semua mereka itu jamaah haji, tapi bukan jamaah Indonesia. Besoknya lagi saya masih melihat pemandangan yang sama. Dan ada seorang jamaah Indonesia yang memperhatikan dari balik pagar. Saya juga ingin melihatnya, setelah saya dekat orang  Indonesia itu mengatakan: Mereka pakai duit pak, kayaknya taruhan, atau berjudi. Masya-Allaaaah !

                                                                                     BOGOR, MARET 2004.  

B I O D A T A

N a m a                    :  Dr.Ir.H.Darwis S.N. MS.
Tanggal  lahir             :   8 April  1934.
Tempat  lahir             :  Palupuh, Bukittinggi, Sumatera Barat.
J a b a t a n              :  Pensiunan Ahli Peneliti Utama, Badan Litbang  Departemen Pertanian.
Alamat rumah           :  Jalan Tentara Pelajar No. BB-5, Cimanggu, Bogor.

Pendidikan  : 
1. Sekolah  Dasar, Palupuh, Bukittinggi, 1948.
2. Sekolah Menengah Pertama, Bukittinggi, 1951.
3. Sekolah Menengah Atas, Bukittinggi,  1954.
4. Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang  1965.
5. S – 2,  Institut Pertanian Bogor, 1981.
6. S – 3,  Institut Pertanian Bogor, 1983.

Latihan Luar Negeri : 
1. Rice Cultivation Research, Jepang 1972 (9 bulan).
2. Agroclimatology, ICRISAT,India 1981 (2 bulan).
3. Nitrogeen Fixation, IRRI, Pilipina 1982  (2 bulan)
4. Research Management, Washington,USA,1985 (1 bulan)

Pengalaman Kerja :
1962 – 1965       :  Asisten Perguruan Tinggi, Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang.
1965 – 1968        :  Dosen/Kepala Bagian Hortikultura, Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang.
Direktur Sekolah Pertanian Menengah Atas, Payakumbuh.
1968 -  1974       :   Kepala Biro SPMP/SPMA, Kepala Biro Perencanaan dan Keja-sama Luarnegeri, Dinas Pertanian Rakyat Sumatera barat Padang.
Dosen, Akademi Pemerintahan Dalam Negeri, Bukittinggi.
1974 – 1979       :   Kepala Lemb.Pusat Penelitian Pertanian, Perwakilan Padang.
Dosen Luarbiasa Fak.Pertanian Unand. Padang.
1979 -  1983      :    Tugas Belajar S-2 dan S-3, Institut Pertanian Bogor.
Pimpinan Program Penelitan Padi wilayah Sumatera
(Lembaga Pusat Penelitian Pertanian, Bogor).
1983 -  1987      :     Kepala Balai Penelitian Kelapa Manado, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 
Dosen Luarbiasa, Fak.Pertanian UNSRAT, Manado.
1987 -  1995      :     Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor.
1995 -  1998      :     Direktur Eksekutif, International Pepper Community, Jakarta.
1999 -  sekarang:   Memasuki masa pensiun.

Organisasi profesi :
1. Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI), pernah sebagai Wakil Ketua-1, Ketua Bidang Hubungan Luarnegeri dan terakhir sebagai Penasehat, Pengurus Pusat.
2. Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI), sebagai anggota Dan pernah sebagai ketua yayasan.
3. Anggota Persatuan Insinyur Indonesia.
4. Anggota International Palm Society.
5. Anggota International Spicies Society.
6. Anggota  Asian Seed Organization.
7. World Meteorology Organization, resource person on Coconut, Indonesia.

P u b l i k a s i :
 Lebih dari 90 judul tulisan ilmiah dan semi ilmiah yang pernah disampaikan pada seminar dalam dan luar negeri, ditulis dalam majalah ilmiah dan semi populer dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris. 
15 buah tulisan ditulis dalam bentuk buku dengan ketebalan bervariasi antara 83 halaman sampai 530 halaman, terutama buku ilmiah dan autobiografi, diterbitkan dalam jumlah terbatas oleh instansi, organisasi, ataupun oleh pribadi.

Kegiatan setelah pensiun :
1. Ketua Dewan Kemakmuran Mesjid (D.K.M.) Miftahuljannah, Komplek Pertanian Cimanggu Kecil, Bogor.
2. Ketua Panitia Pembangunan Taman Pendidikan dan Panti-Yatim Bina Islami, Yayasan Amal Saraso, Bogor.
3. Jadi khatib dan penceramah agama Islam.
4. Menulis tentang agama  Islam.

Status keluarga :
Isteri     :  Rahmah Darwis,
Anak2    :   2 perempuan,  7 laki-laki.
Cucu     :   12 perempuan,  10 laki-laki.

                                                               Bogor,    April     2004


                                                               (H.Darwis S.N.)
 



Last Updated ( Tuesday, 18 October 2005 )
 
< Prev   Next >




Powered By PageCache
Generated in 0.04117 Seconds