|
Page 10 of 13
BAB–9 BERZIARAH KE JEDDAH
119. Pemandangan Mekah – Jeddah                 Setelah keluar dari kota Mekah, kita segera melewati jalan raya yang mulus, sama dengan Jagorawi Jakarta – Bogor. Jalan melewati lembah dan bukit-bukit kecil yang semuanya terdiri dari pasir dan batu. Perobahan yang amat saya rasakan adalah bahwa disepanjang jalan ini, sudah banyak berdiri kampung-kampung kecil sampai pada kota kecil. Kalau sepuluh tahun yang lewat, banyak yang kosong. Yang mengagumkan pula adalah setiap pembangunan tempat pemukiman baru itu selalu diiringi dengan penanaman pohon, baik dipinggir jalan maupun dipinggir rumah. Bahkan ada pula saya lihat pembangunan hutan kecil, mungkin dimaksudkan sebagai paru-paru kota. Saya tak dapat membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menanam dan memelihara pohon-pohon itu.
120. Taman Bunga Yang Indah Sayang hanya terlihat sepintas saja, dari atas bus yang sedang melaju kencang. Tapi apa yan g saya lihat itu benar-benar menarik perhatian. Pada sebuah kota kecil yang kelihatannya baru dibangun terlihat taman bunga beraneka warna yang sedang mekar. Rupanya design kota sudah diatur demikian rupa sehingga memasukkan masalah keindahan dengan bunga-bungaan. Anehnya bunga itu hampir tidak kelihatan daunnya, hanya bunga saja. Saya rasa jenis bunga seperti itu tidak ada di Indonesia. Tetapi mengapa di Indonesia yang alamnya subur dan air melimpah ini, disetiap kota hampir tak ada taman bunga. Saya hanya pernah melihat sekali disepanjang jalan didalam Kebuin Raya Bogor, sebaris bunga yang sedang mekar, itupun jenis bunga kanna yang memang sangat mudah tumbuhnya dan tidak memerlukan pemeliharaan yang intensif. Rupanya dalam hal ini Pemerintah Arab Saudi tidak mencontoh Indonesia, tapi yang dicontoh adalah Paris. Saya pernah melihat taman bunga yang sama tapi dengan areal yang lebih luas di Paris, terutama dipekarangan istana Versailes
121. Gerbang Toll Perjalanan Mekah – Jeddah – Mekah ini, kecuali waktu dalam kota, hampir seluruhnya menggunakan jalan bebas hambatan, atau kalau di Indonesia namanya jalan toll. Dari pinggiran Laut Merah sekarang sudah ada jalan layang, melintasi kota Jeddah langsung menuju Mekah. Saya jadi teringat jalan layang yang melingkari kota Jakarta, yang juga panjang. Karena sudah terbiasa di Indonesia, saya coba mengamati apakah ada gerbang toll di Mekah- Jeddah ini. Ternyata sama sekali tidak ada gerbang toll. Rupanya jalan bebas hambatan di Saudi Arabia ini, sama dengan di Amerika atau Jepang, juga bebas bayar. Kalau di Jakarta sangat memalukan , dari airport Sukarno-Hatta, kekota saja, harus melalui 3 buah gerbang toll. Pada hal jalan itu sering setiap hari dilalui oleh para tamu mancanegara, sehingga menjadi cemoohan bagi mereka.
122. Tempat Qishash Objek ziarah pertama yang kami kunjungi di Jedah adalah tempat pelaksanaan hukuman mati (qishash). Ternyata tempat itu hanya berupa bangunan lantai putih yang agak ditinggikan, mungkin ukurannya 6 x 6 meter. Dikelilingi oleh lapangan terbuka dan tempat parkir. Katanya orang yang menjalani hukuman mati dibawa keatas lantai itu dengan disaksikan oleh orang banyak disekitarnya, lalu kepalanya dipancung. Dengan demikian maka orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu akan jera dan takut akan melakukan kejahatan serupa. Kalau di Indonesia ini nanti terbentuk Pemerintah yang kuat, saya rasa metoda ini baik dicontoh. Para pelaku kejahatan sadis, seperti memperkosa lalu membunuh dengan kejam, menghabisi nyawa satu keluarga, pengedar narkoba , koruptor kakap, dijatuhi hukuman mati melalui pengadilan dan pelaksanaannya didepan umum, supaya yang lain jera melakukan.
123. Makam Siti Hawa Tempat ziarah berikutnya adalah makam Siti Hawa. Menurut riwayatnya, Siti Hawa meninggal di Jeddah dan dimakamkan disana. Sedangkan dimana makam Nabi Adam tidak pernah diketahui. Makam Siti Hawa itu luas sekali , merupakan satu block jalan ditengah-tengah kota yan g dipagar tinggi dengan beton sekelilingnya. Sayangnya para pengunjung tidak diperkenalkan masuk, hanya boleh berkeliling saja diluar. Kabarnya didalamnya sudah tidak ada lagi tanda-tanda makam. Sebab kuburan yang hanya dari tanah, dan umurnya entah berapa ribu tahun, tentu sudah hancur. Saya memperkirakan bahwa kuburan itu panjang, sebab ada keterangan yang mengatakan bahwa Nabi Adam itu tingginya 9 meter. Tentu Siti Hawa ada sekitar 8 meter atau lebih tingginya.
124. Risiko Rombongan Besar Rombongan kami memang cukup besar, terdiri dari 5 buah bus. Kira-kira jam 5,00 sore bus kami berhenti pada satu tempat perbelanjaan terkenal di Jeddah. Sebelum turun, ketua rombongan telah mengumumkan: Kita akan berhenti pada sebuah pusat perbelanjaan, para jemaah dipersilakan turun untuk melihat-lihat, ketoilet, beli makanan atau berbelanja oleh-oleh, dipersilakan. Tetapi nanti hendaknya tepat pada jam 6 kurang 15 sudah berada kembali di bus. Yang pertama kali kami cari adalah toilet, setelah itu mencari-cari kalau ada yang akan dimakan. Saya menemukan sesuatu yang menarik selera, yaitu pisang goreng, pada sebuah kafetaria. Harganya 6 Rial sepotong. Tetapi setelah meliohat penampilan pisang goreng itu dengan harga yang bila dirupiahkan sama dengan Rp.15.000,- sepotong, selera saya jadi surut. Â Â Â Sesuai dengan pengumuman, tepat pada jam 6 kurang 15, saya dan isteri saya sudah kembali duduk diatas bus. Tapi belum semua kursi yang terisi, masih banyak yan g belum datang. Kami harus menunggu orang terakhir yang datang, kira-kira setengah jam kemudian. Tetapi bus kami masih belum bisa berangkat, karena harus menunggu bus-bus yang lain dulu. Kendaraan baru boleh bergerak setelah dipastikan bahwa tak ada penumpang yang ketinggalan. Akhirnya setelah jam 7,00 baru kendaraan kami mulai bergerak kearah pinggir laut Merah. Begitulah resiko yang akan dialami oleh rombongan yang terlalu besar, gerakannya tidak lincah.
125. Menyaksikan Air Mancur Dari Jauh Dalam perjalanan menuju Laut Merah, matahari sudah terbenam, lampu-lampu jalan dan lampu bangunan yang sudah bersinar, kelihatan meriah. Dari jauh kami menyaksikan satu air mancur yang airnya menjulang tinggi keudara. Pada jarak bisa mengambil photo, kami diberi kesempatan turun selama 10 menit. Memang indah pemandangannya, setelah mengabadikan beberapa buah photo kenangan, kami kembali ke buis. Tidak tanggung-tanggung kota Jeddah berbenah diri menjadi kota internasional. Pohon-pohon yang tumbuh teratur dijalan-jalan dan diboulevart, dipelihara dengan baik seperti di Washington saja layaknya. Taman-taman bunga seperti yan g ada di Paris dan kota lainnya di Eropa, disini juga ada. Lalu sekarang air mancur yang menjulang tinggi, yang setahu saya ada di Wina dan menjadi kebanggan kota internasional yang terkenal itu, sekarang sudah ada pula di Jeddah. Hebat!
126. Sepeda Nabi Adam Menurut kisahnya , ada yang menemukan fosil sepeda Nabi Adam, sebab sepeda itu setelah direkonstruksi, ternyata sepeda itu besar dan tinggi sekali. Yang cocok mengendarai sepeda itu hanyalah orang yang tingginya 9 meter dan itu adalah Nabi Adam. Setelah diperbaiki seperlunya, maka sepeda itu sekarang dijadikan monumen dipamerkan dipinggir jalan menuju Laut Merah. Kami tidak berhenti disitu, bus hanya berjalan pelan mengelilingi monument tersebut dan kami hanya dapat mengambil photo dari atas bus. Kelihatannya memang seperti sepeda biasa, tapi dengan ukuran yang jauh lebih besar.
127. Mesjid Ar-Rahmah Akhirnya kira-kiran jam 8,00 malam, kami sampai ditempat perhentian bus dipinggiran Laut Merah, yang sebenarnya menjadi tujuan utama dari ziarah kami waktu itu. Namun mana dia Laut Merah yang terkenal itu, yang terlihat hanya alam yang gelap, yang terdengar hanya desiran air yang sampai dipantai. Hampir semuanya kami ingin menyaksikan laut yang pernah dibelah oleh tongkat Nabi Musa AS, waktu dikejar-kejar oleh Fir’aun. Namun apa hendak dikata, hari sudah malam. Didekat perhentian kami itu ada sebuah mesjid yang letaknya menjorok kelaut, masjid Ar-Rahmah. Saya kira kami akan shalat disitu, tapi ada pengumuman bahwa shalat magrib dan isya nanti akan diqashar, jamak takkhir dimaktab masing-masing.
128. Tak Ada Makan Malam Karena sudah jam 8,30 saya mengharapkan akan ada pengumuman makan malam. Tapi tidak ada, yang ada hanya pemberi tahuan agar segera naik bus, karena rombongan akan segera berangkat kembali ke Mekah.Setelah duduk diatas bus pun saya masih mengharapkan akan ada pembagian nasi kotak atau makanan apapun. Ternyata tidak ada, aqua saja tidak.Jadi saya harus mempersiapkan diri untuk kurang lebih dua jam lagi baru akan dapat makan di Mekah. Kalau anda nanti akan mengikuti suatu acara apapun yang diadakan oleh KBIH anda, lebih baik tanya dulu acaranya apa, berikut dengan waktunya, disediakan makan atau tidak,apakah harus membawa bekal sendiri-sendiri atau bagaimana, agar sampai teraniaya.
129. Air Dari Lereng Batu Kota Jeddah benar-benar hendak mengikis, suasana yang menggambarkan bahwa kota itu terletak digurun pasir dan bukit batu yang gersang. Beberapa kali saya memperhatikan air yang mencurat dari bukit-bukit batu dipinggiran jalan. Dan disebelah atasnya juga ditanami dengan berbagai tumbuh-tumbuhan, yang menggambarkan seolah-olah air itu berasal dari gunung, seperti didaerah tropia. Pemandangan yang sama setahu saya ada di Lembah Anai dipinggiran jalan Padang – Bukittinggi. Yang saya maksud bukanlah air terjun besar yang ada di Lembah Anai itu. Pinggiran jalan yang menanjak disiti ada yang terdiri dari din ding batu yang disebelah atasnya ditumbuhi hutan. Dari atas dinding batu itu ada saja air yang mengalir dengan menyebar kesaluran air pinggir jalan. Ini semua terjadi secara alami, kalau yang di Jeddah itu tentu sudah mamanfaatkan teknologi pompa
130. Kota Internasional Kalau menurut hemat saya, kota Jeddah itu sekarang benar-benar telah kena pollusi globalisasi. Kota itu telah go international, membuka diri dalam perdagangan bebas. Perusahaan apa saja yang mempunyai jaringan-jaringan internasional sudqah ada disitu, terutama yang dari Amerika. Sudah pula kelihatan perusahaan Jepang dan Kore Selatan. Mungkin tak lama lagi China juga akan ikut menyerbu Jeddah. Saya khawatir Pemerintah Arab Saudi ini sudah begitu yakin akan keberhasilan system ekonomi yang kapitalistis didunia ini. Mereka tidak saja ikut terlibat didalamnya, tetapi ikut jadi pemain yang aktif,berkat kekuatan petrodollar yang mereka miliki. Pada hal kelemahan dari system ekonomi yang kapitalistis saat ini sudah mulai menonjol kepermukaan. Terutama sekali adalah dalam hal dominasi dunia perbankan dan kemampuan pengendalian oleh yang memiliki kapital paling kuat. Seharusnya pemerintah Arab Saudi mulai mempersiapkan dan mempelopori satu sisitem ekonomi baru yan g bernafaskan Islam, secara pelan tapi pasti. Sebab yang paling mungkin melakukan hal itu diantara neghara-neghara Islam adalah Arab Saudi. Saya kira system ekonomi yang kapitalistis yang sekarang ini satu waktu nanti akan hancur, mengikuti jejak system ekonomi yang komunistis yang sudah lama hancur. Ummat Islam harus bersiap-siap dengan penggantinya.
|