|
Sosoknya keibuan nan bersahaja, namun gurat keilmuan tak hendak lekang dari keyakinan sikap dan tuturnya. Di usia yang ke-70 pada 7 Oktober 2005, Aisjah Girindra terus bersemangat menahkodai Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Dunia internasional pun mengakui lembaga sertifikasi halal ini sebagai lembaga audit paling ketat.
Â
Pada tahun 1989 terjadi keresahan luar biasa di masyarakat akibat adanya pemberitaan media yang menghebohkan dari pernyataan Prof. Tri Susanto dari Malang yang mengeluarkan hasil penelitiannya bahwa ada beberapa produk makanan di Indonesia yang mengandung lemak babi.
Berita heboh ini menjadi polemik di masyarakat, serta menimbulkan ketakutan berbelanja sejumlah produk makanan, misal; susu, mentega, daging dan berbagai produk lain sejenis, yang kemudian tidak laku.
Melihat situasi sosial yang tak enak itu, pemerintah bertandang ke MUI untuk mencari solusi. Dari hasil diskusi antara pemerintah dan MUI, KH Hasan Basri sebagai Ketua MUI sejurus kemudian membentuk LPPOM yang tujuannya adalah menjaminan kehalalan produk-produk yang dikonsumsi masyarakat.
Tepat tanggal 1 Desember 1993, Prof. Dr. Aisjah Girindra diangkat sebagai Direktur LPPOM MUI menggantikan Dr. Amin Azis. Dua tahun sebelumnya, wanita kelahiran Buktitinggi ini mengaku cinta dengan tugasnya sebagai tenaga ahli di MUI ini, karena di sinilah terletak kesenangannya menelaah kehidupan dari sudut pengetahuan ilmiah. Dan di bidang ini pulalah keilmuannya dapat disumbangkan untuk kepentingan agama dan umat. Jika diketahui ada unsur yang tidak halal, maka menjadi kewajibannya untuk memberitahukan kepada orang lain. “Jika kamu tahu maka beritahukan ke orang lainâ€Â, ujarnya menirukan pesan ibundanya, Siti Marhamah.
Sebagai akademisi yang bergulat di dunia kampus dan penelitian ilmiah, Aisyah tak mau menikmatinya seorang diri. Ia berharap banyak lahir tenaga-tenaga peneliti muda tentang kehalalan sebuah produk. Maka direkrutlah anak-anak muda dan akademisi IPB yang mempunyai dasar keilmuan serta idealisme untuk melakukan audit kehalalan produk-produk. Di sinilai kemudian bergerak sebuah tim yang hidup dengan segenap idealisme dan pengabdian ketimbang pesona materi. Terasa sekali dalam keseharian, suasana kerja yang penuh kekeluargaan, di dalamnya terhimpuan ruh keilmuan dan pengabdian kepada agama. Argumentasi dan kritik menjadi hal yang wajar dan terbuka untuk kebaikan.
Diakuinya, menjadi nahkoda LPPOM MUI bukanlah hal yang ringan, Aisjah Girindra harus mengkoordinasi auditor-auditor, kemudian dari hasil rapat auditor dibuatkanlah rekomendasi untuk dieskalasi di tingkat sidang komisi fatwa MUI. "Proses audit oleh LPPOM MUI diakui paling ketat di dunia, karena memang melibatkan tenaga ahli paling tidak dari bidang keahlian biokimia, dokter hewan, teknologi pangan, teknologi industri, ahli pertanian."
Soal urusan sertifikasi halal, prosedurnya cukup berliku. Dalam hal ini perusahaan datang ke LPPOM mengajukan permintaan sertifikat halal, kemudian ditunjuk tim audit paling tidak tiga orang yang akan datang ke perusahaan tersebut melakukan investigasi hingga ke laboratorium. Hasil pemeriksaan tersebut disampaikan pada suatu rapat yang terdiri dari para tenaga ahli membicarakan laporan hasil audit, kemudian dihasilkan kesimpulan. Setelah itu diadakan audit memorandum ke perusahaan yang diperiksa.
Selanjutnya disampaikan ke tingkat komisi fatwa MUI. "Di komisi fatwa didiskusikan kembali dan diketok palu oleh ketua komisi fatwa, jika halal akan diterbitkan sertifikat halalnya yang ditandatangani Direktur LPPOM, Ketua Komisi Fatwa dan Ketua MUI," terangnya.
Aisyah menuturkan, kerja di dunia penelitian seperti ini bukannya tanpa godaan. Maklum saja sertifikasi halal ini terkait dengan dunia bisnis. Karena pula tak sedikit perusahaan yang ingin memberikan angpau ke Aisyah. "Tapi tindakan suap-menyuap itu tidak akan ditolerir di LPPOM, karena sebagai lembaga audit, harus senantiasa terjaga kebersihan dan kredibilitasnya, terlebih lagi ini adalah kerja untuk umat, untuk agama."
Kehati-hatian dan sikap tegas Aisjah nampak jelas. Sejak tahun 1989 LPPOM MUI berusaha menjadikan setiap produk makanan atau konsumsi di Indonesia ini dalam kondisi halal, walaupun belum sepenuhnya bisa selesai. Sebab Undang-Undang Pangan belum mencantumkan kewajiban demikian.
UU itu menyebutkan, papar Guru Besar Biokimia IPB ini, jika hendak memproduksi barang halal, dipersilahkan menuliskan halal dengan mempertanggungjawabkan sendiri apa yang dituliskan. "Kalau terbukti tidak halal, maka akan dikenakan UU Konsumen dalam konteks melakukan kebohongan publik. Jadi UU tidak bersifat memaksa," katanya.
Melihat kenyataan inilah, LPPOM MUI berharap dan berusaha agar lahir UU yang bisa melindungi umat dari produk haram atau samar-samar. Sebab, kenyataanya dengan konsumen yang mayoritas muslim (89%), banyak usaha makananan yang diproduksi oleh pihak-pihak yang diragukan kepeduliaanya menyajikan makanan halal.
Istiqamah Membela Produk Halal
Sewaktu menjadi narasumber dalam pembuatan Undang-Undang No. 7/1996 tentang Pangan, Aisjah Girindra melakukan walk-out. Waktu itu sudah dibentuk komisi kecil untuk kehalalan, dan sudah diputuskan oleh komisi bahwa semua orang harus memakan makanan halal, dan mengenai kehalalan tersebut harus diaudit terlebih dahulu.
"Eee....Ternyata setelah dibawa ke sidang pleno, ditolak," kisahnya. Sidang tersebut dihadiri oleh pihak legislatif, pemerintah dan tenaga ahli. Waktu itu Aisjah merasa sangat marah hingga menggigil, “Kalau kalian ndak ada takut sama sekali, kami atas nama MUI keluar dari ruangan ini. MUI tidak bertanggungjawab terhadap apa yang kalian putuskan," sambung ibu empat anak ini.
Langkah gentle Aisyah ini mendapat dukungan dari KH Hasan Basri. “Kami di belakang ibu. Apa yang telah ibu lakukan itulah sikap MUI!†katanya mengutip Ketua Umum MUI.
Jadi Presiden Dewan Halal Dunia
Sebagai Direktur LPPOM, Aisjah Girindra kerap menjadi nara sumber di acara seminar-seminar baik di dalam dan di luar negeri. Kesempatan itu dimanfaatkan baik-baik untuk menjelaskan dan mensosialisasikan sertifikasi halal dan menjalin persahabatan dengan lembaga serupa LPPOM di berbagai negara.
Dalam mengkampanyekan produk halal ini ada pengalaman menarik. Ketika ia melakukan perjalanan ke Amerika Serikat 1998, tercetus gagasan untuk membuat standarisasi proses audit sertifikasi halal, dikarenakan proses audit di negara lain tidak mempunyai bidang keahlian yang selengkap di Indonesia.
Gayung pun bersambut. Pada 1999 International Halal Certification Seminar diadakan di Jakarta. Pada saat itu Aisjah Girindra melontarkan gagasan untuk membuat suatu wadah kerja sama antarlembaga sertifikasi halal dunia, yang kemudian disepakati dengan berdirinya World Halal Council (WHC). Lembaga ini didirikan untuk menjalin komunikasi yang lebih mendalam serta menghasilkan suatu standar baku dalam audit halal. Dan Aisjah Girindra terpilih sebagai Presiden WHC. Dari sinilah ia sering diundang untuk memberikan presentasi mewakili LPPOM MUI di forum internasional, di antaranya, pada kegiatan International Muslim Food and Technology Exhibition di Malaysia.
Menjaga Kesehatan dengan Shalat
Di usianya yang semakin lanjut, Aisjah Girindra tetap berusaha menjaga kesehatannya dengan kebiasaannya jalan-jalan pagi, meski hanya kuat 10 sampai 15 menit. Demikian pula dengan sholat dhuha dan tahajjud. Setelah itu, Aisjah biasanya menulis hasil penelitiaannya. Tapi, saat ini kebiasaan itu berkurang seiring dengan kondisi fisik yang mulai menurun.
Kini sudah lebih dari 12 tahun Aisjah memimpin LPPOM MUI. Bersamanya telah diletakkan dasar-dasar sertifikasi halal yang akan senantiasa disempurnakan oleh penerusnya dimasa datang, kesemuanya demi ketentraman umat dalam mengkonsumsi produk halal.
Terlahir di surau di Bukittingi nan elok, Aisjah merupakan cucu dari Syaikh Banten yang diasingkan Belanda setelah kekalahan perang di Cilegon. Ibunya, Siti Marhamah seorang muslimah didikan surau yang sangat ketat dengan pendidikan agama. Sedang ayahnya Oemar Ali Sidi Maharaja adalah ambtenar di zaman Belanda yang sangat menanamkan pencapaian pendidikan tinggi untuk anak-anaknya. Akibatnya, Aisjah kecil harus menjalani sekolah pagi di sekolah Belanda dan sorenya sekolah di madrasah. Hal inilah yang pada gilirannya mengantarkan Aisjah menjadi akademisi yang senantiasa mentadabburi ayat-ayat Ilahi.
Pada 1952 Aisjah datang ke Jakarta untuk melanjutkan SMA di Budi Utomo, tak berselang lama pindah mengikuti kakaknya di Bogor dan menamatkan SMA di sana. Sang kakak yang sedang belajar di fakultas kedokteran mengajarinya kimia yang di kemudian hari mengantarkan Aisjah mendalami biokimia.
Setamat SMA, Aisjah melanjutkan kuliah ke Fakultas Kedokteran Hewan Universtias Indonesia yang kala itu berlokasi di Bogor.
Dari kampus ini pula pada 1963 Aisjah mengenal dan dipersunting oleh I Gusti Nyoman Girindra. Dari pernikahannya dengan seorang mualaf asal Singaraja Bali itu, terlahir empat putra yaitu Yuyung Syaheri Girindra, Indra Syahriza, Yaser Syaheri Girindra dan Brata Syahwira Girindra.
Takdir Allah pun datang, Pada 1984 Allah memanggil suami tercinta, dan sejak saat itu pula Aisjah membesarkan empat putranya sendiri. Dengan menerapkan apa yang pernah diperolehnya yaitu membekali anak-anaknya dengan ilmu agama sebaik-baiknya.
Doktor Wanita Pertama IPB
Selepas mendapat gelar dokter hewan pada 1962, Aisjah langsung mengabdi di almamaternya. Ia termasuk akademisi yang pandai memadukan antara antara ayat-ayat Al-Qur'an dengan ilmu yang ditekuninya, yakni, biokimia, khususnya bidang mineral metabolisme di N.C State University, USA pada 1964-1965.
"Kimia tak ubahnya kehidupan itu sendiri, di setetes darah ada kimia, di hembusan nafas, denyut nadi dan seluruh gerak tubuh adalah kimia," demikian di benaknya. Keilmuannya semakin mantap setelah berhasil memperoleh gelar Doktor Biokimia Pertanian dari Institut Pertanian Bogor pada 1973, yang sekaligus juga menjadikannya doktor wanita pertama debutan Pasca Sarjana IPB.
Selama mengabdi sebagai pendidik di IPB, Aisjah Girindra memegang amanah sebagai Ketua Jurusan Kimia FMIPA IPB serta merintis terbentuknya Program Studi Biokimia Jurusan Kimia FMIPA IPB dan Program Studi Bioteknologi Program Pasca Sarjana IPB. Lagi-lagi ia ditunjuk sebagai nahkodanya. Pengabdiannya di IPB seharusny berakhir 1 November 2000, akan tetapi diperpanjang selama 5 tahun hingga usia 70 tahun.
Sebagai akademisi, Aisjah Girindra telah menghasilkan berbagai publikasi. Tulisan-tulisannya enak baca. Karena ia menggunakan pendekatan pemahaman ajaran Islam dan dalam hubungannya keilmuan yang dikajinya. Wacana yang cukup populer masa itu adalah "Hubungan Puasa dan Biokimia" yang dimuat di majalah Panji Masyarakat, dan tema "Ada Apa di Balik Alkohol "yang disiarkan TVRI.
Source :www.eramuslim.com
Trackback(0)
|