Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Nan Buto pahambuih lasuang
Nan pakak palapeh badie
Nan lumpuah pauni rumah
Nan kuek paangkuik baban
Nan jangkuang jadi panjuluak
Nan randah panyaruduak
Nan Pandai tampek batanyo
Nan cadiak bakeh baiyo
Nan kayo tampek batenggang

Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Menggugat Adat Minangkabau (3)Pembusukan Adat Terjadi dari Dalam Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Admin   
Senin, 17 Oktober 2005
Masih segar dalam ingatan penulis, dalam acara Halal bi Halal Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) tahun 1978 di Istora Senayan, Jakarta, dalam sambutannya Buya Hamka – kini sudah almarhum – mengatakan bahwa orang Minangkabau akan dilaknat oleh Allah SWT, karena memakai adat yang bertentangan dengan agama Islam.
Orang Minangkabau berpegang kepada adat yang berbunyi “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Syarak mangato, adat mamakai”, yang artinya kira-kira adat berdasarkan syariat Islam. Segala sesuatunya diatur berdasar syariat Islam dan pelaksanaannya dilakukan oleh adat.


Namun pelaksanan adat yang berdasarkan syariat Islam itu tidak dipahami sepenuhnya oleh orang Minangkabau, karena memang sampai sekarang tidak pernah dibuat jabarannya. Kegalauan masyarakat Minangkabau terhadap adatnya terlihat dalam mem-berikan nama kepada anak keturunan mereka. Leonardi, Samual, John atau Johanes, David dan Adrian, itulah berapa nama yang disandang sejumlah kaum pria Nagari Minang generasi sekarang.

Di mengerti atau tidak, pemberian nama yang bukan islami tersebut mengindikasikan kegalauan orang Minang dalam mengimplementasikan adat . Dengan nama kebarat-baratan tersebut, mereka merasa lebih pede dalam alam modernisasi, terutama di perkotaan. Bahkan tidak jarang, di antara perantau Minangkabau, berganti nama setelah hidup menetap di ibu kota.

Masyarakat etnik Minangkabau yang menganut prinsip kultural matrilineal, yaitu keturunan berdasar garis ibu, seharusnya mamak, saudara lelaki dari ibu mencegah pemberian nama yang tidak islami terhadap kemenakannya.

Apalagi jika disimat dengan baik budaya Minangkabau yang menyebutkan “Anak dipangku, kemenakan dibimbing”. Setuju atau tidak, ternyata apa yang terkandung dalam kata “Anak dipangku, kemanakan dibimbing” itu, sudah hampir sirna dalam kehidupan sehari-hari di negeri yang penuh petuah tersebut.

Pada kenyataannya, kemenakan diperlakukan sebagai “anak bawang” yang hanya berguna untuk disuruh ke sana kemari. Mungkin saja seorang kemenakan sudah menjadi Doktor atau Profesor, tetap saja tidak akan diajak dalam berbagai rapat yang membicarakan masalah Nagari atau Desa/Lurah. Semua keputusan ditentukan oleh Ninik Mamak/Penghulu dan para pengekornya.

Masyarakat Minangkabau mereka klasifikasikan kedalam empat kategori yaitu; Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai dan Bundo Kanduang. Kaum perempuan atau Bundo Kanduang, boleh dikatakan tidak mendapat tempat dalam struktur organisasi kemasyarakatan di Minangkabau. Mereka hanya dianggap sebagai tenaga supporting seperti menjadi ibu rumah tangga dan melakukan pekerjaan yang menunjang kegiatan kaum lelaki.

Sedang golongan alim ulama dan cerdik pandai, lebih banyak diperlakukan sebagai “ketimun bungkuk” , masuk karung, tapi tidak masuk hitungan. Perlakukan yang sama juga dilaksanakan oleh mereka yang memegang kendali Adat terhadap anak Minang yang hidup di perantauan.

Tidak sedikit orang Minangkabau yang bermukim di kota-kota besar. Pada tahun 2000 tercatat penduduk Sumatera Barat sekitar 5.475.000 orang, sedang yang menetap hidup dirantau sekitar 40 persen. Pada waktu-waktu tertentu, biasanya perantau Minang ini didatangi oleh tokoh masyarakat kampung halaman mereka yang meminta sumbangan guna membantu biaya pembanguan di negerinya.

Setelah terkumpul sejumlah sumbangan, lalu mereka kembali ke kampung halaman tanpa berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Jangankan melaporkan untuk apa dana yang disumbangkan anak rantau digunakan, mengirimkan surat mengucapkan terima kasih pun tidak pernah dilakukan. “Mungkin saja dalam kamus orang Minangkabau, tidak ada kata terima kasih, “ komentar salah seorang putra daerah yang menetap di Jakarta.

Tentu saja kita tidak bisa menjeneralisasi bahwa seluruh pemangku Adat di Minangkabau berkarakter demikian. Tetapi indikasi serupa itu merupakan salah satu penyebab antipati perantau Minang terhadap para pemangku Adat Alam Minangkabau. Karenanya, tidak tertutup kemungkinan orang Minangkabau yang bermukim di rantau – apalagi anak keturunan mereka yang lahir di negeri orang kemudian setelah dewasa menikah dengan etnik lainnya di Indonesia - akan meninggalkan prinsip cultural matrilineal yang menjadi tradisi masyarakat Minangkabau, apalagi untuk mengakui bahwa mereka terikat kepada adat yang berlaku di negeri asalnya.

Tatanan sosial orang Minangkabau yang demikian rancu, seiring dengan para pemangku adat/Datuk yang tidak berkemampuan dalam segala hal, menyebabkan tidak dapat diberdayakannya potensi sumber daya manyusia yang ada. “Sukar untuk membantah bahwa salah satu faktor penyebab terhambatnya kemajuan masyarakat Minangkabau dalam kurun paska kemerdekaan adalah oleh karena keruwetan tatanan internalnya sendiri secara sistemik, “tulis DR. Saafroedin Bahar dalam bukunya yang berjudul “Masih ada Harapan – posisi sebuah etnik minoritas dalam hidup berbangsa dan bernegara”, yang diterbitkan oleh Yayasan Sepuluh Agustus, Jakarta, 2004.

Umumnya, mereka pergi merantau ketika masih berusia muda dan merupakan tenaga produktif. Akibatnya sumber daya manusia (SDM) yang menetap di kampung halaman sudah kurang produktif, sehingga banyak lahan pertanian potensial tidak lagi terkelola, yang pada akhirnya mengurangi pendapatan daerah dari hasil pertanian.

Indikasi ini dapat dilihat dari jumlah APBD Sumatera Barat pada tahun 2001 yang hanya berjumlah Rp 297 milyar atau mengalami negative fiscal sebesar Rp 564.000,- perkapita. Data ini menunjukkan suatu pertanda bahwa ekonomi masyarakat Minangkabau cenderung menurun, jika saja tidak ditopang oleh kiriman para perantau untuk membantu sanak famili yang menetap di kampung halaman yang bersifat sangat konsumtif.

Keadaan yang demikian menunjukan bahwa kemiskinan akhirnya melanda Ranah Minangkabau. Kompas tanggal 24 Maret 1999, memberitakan bahwa jumlah balita meninggal akibat kasus kurang gizi menjadi 20 orang, ujar kepada Dinas Kesehatan Tingkat I Sumatera Barat. Dikabarkan sedikitnya 87.878 (11 persen) anak-anak usia 7 – 19 tahun tidak bersekolah. Hal ini disebabkan faktor ekonomi keluarga, disamping minat anak yang sangat rendah untuk mengenyam pendidikan (Media Indonesia 1 Oktober 2002), dan ajaran Islam mengingatkan penganutnya bahwa Kefakiran menyebabkan kekufuran.

Sementara kemiskinan dan pembusukan Adat yang berlangsung terus menerus, gerakan kritenisasi pun mengancam propinsi orang Minangkabau ini. The Bethany Prayer Center, pada tahun 1997 membuat profil Minangkabau dengan data yang relatif lengkap berdasar statistik perkiraan The World Evangelization Research Center sebagai referensi dalam upaya mereka menjadikan Etnik ini sebagai sasaran Kristenisasi terencana. Disebutkannya, kemesoran adat lama dan meningkatkan perantauan ke kota-kota dapat merupakan jalan masuk bagi Injil kepada kelompok yang amat ketat ini. Diperlukan pekerja-pekerja Kristen yang peka terhadap budaya Islam, yang bersedia untuk tinggal dan bekerja di antara orang Minangkabau yang hidup dalam kegelapan kerohanian.

The Bethany Prayer Center menyebutkan ada delapan lembaga missi yang bekerja untuk menjadikan Etnik Minangkabau sebagai sasaran terencana. Jemaat Kristen lokal mencoba merayu 150.000 orang, sedang pendekatan dari luar Ranah Minangkabau yang dilakukan, sudah mencapai 1.693.500 orang dan jumlah orang Minangkabau yang sudah pernah mendengar pekabaran Injil mencapai 1.843.900 orang atau sekitar 37 persen.

Ada sekitar 1.000 orang Minakgkabau yang sudah berhasil di-Kristen-kan.

Etnik Minangkabau, adalah salah satu Etnik dalam Suku Melayu yang menjadi sasaran utama untuk di-Kristen-kan. The Bethany Prayer Center menyiapkan film Jesus, Siaran Radio dan Injil dalam Bahasa Minangkabau.

Dalam butir-butir doa mereka disebutkan ”Mintalah pada Tuhan agar ada orang yang mau datang ke Indonesia dan berbagi Kristus dengan Etnik Minangkabau”.

Kegalauan dan kerancuan tatanan sosio cultural Etnik Minangkabau memerlukan perbaikan untuk mewujudkan masyarakat baru Minangkabau. Berbagai aspek kehidupan yang multikompleks, memerlukan pembaharuan.

Sistem kekerabatan matrilineal perlu disesuaikan dengan ajaran Islam dan dengan norma hukum nasional, sehingga berkembang menjadi satu sistem kekerabatan parental plus, yaitu sistem kekerabatan yang selain mengakui seluruh mereka yang mempunyai pertalian darah, juga melindungi hak serta privillage kaum perempuan Minangkabau.

Memang ada upaya untuk membendung kristenisasi di ranah Minangkabau seperti yang dilakukan oleh LSM (lembaga sosial masyarakat) yang bernama “Paga Nagari”.

Namun tidak banyak yang diketahui tentang upaya “Paga Nagari” ini, mungkin karena kurang dikomunikasikan secara baik kepada perantau Minangkabau lainnya.

Padahal, gerakan kristenisasi merupakan ancaman besar terhadap etnik Minangkabau yang terkenal sangat Islami. Sebagai sesama Muslim, kita harus berjamaah dalam menghadapi musuh-musuh Islam. Bukan hanya berjamaah perintah Allah dan RasulNya, tapi sesungguhnya kita memerlukan kebersamaan. Allah berfiman “Sesungguhnya orang Muslim itu bersaudara” (QS al-Hujurat: 10)

Aswin Jusar adalah wartawan senior, tinggal di Depok, Jawa Barat

Sumber Padang ekspress

By adminpadek
Senin, 29-Agustus-2005, 02:49:28 271 clicks 
 

 

 

Komentar
1. Paga Nagari
Ditulis oleh ajomanih pada Senin, 17 Oktober 2005
Tarimokasih pado pak Aswin, dimano atas tulisannyo itu dunsanak awak kasadonyo tabukak mato hati, dimano adaik awak minangkabau jan sampai tajadi pambusuakan, marilah kito baliak ka dasar dimano adaik kito adolah basandi syarak,syarak basandi kitabullah, sabagai urang minang awak harus tau adaik awak tu nan sabananyo...
2. Labiah gadang dari nan nampak
Ditulis oleh RGuchi pada Selasa, 18 Oktober 2005
Taruih tarang... ambo alah pernah masuak ka situs "urang-urang", nan jadi sasaran indak hanyo urang minangkabau di indonesia sajo, tapi tamasuak juo urang-urang minang di nagari sambilan (malaysia) 
manuruik situs itu..tantangan paliang barek dalam proses "kristenisasi" urang minangkabau adolah karano urang minang (disabuik sabagai suni safii-di dalam situs tu) manganggap islam itu sabagai bagian dari hidup, singkeknyo.. urang minang baru disabuik sabagai urang minangkabau kalau urang tu baragamo islam.. 
baru-baru iko ado kawan ambo urang jawa batanyo ka ambo "setahu gue orang padang itu islam semua, kok kemaren gw ketemu sama orang padang yang katolik?", tanyato sasudah disalidiki, urang "padang" tadi tu nikah samo cewe/padusi/perempuan yang agamonyo katolik... naaaah.. 
yang jadi pertanyaan kini.. apo alah salamah itu bana pertahanan urang awak?..alah mulai bisa dimasuki oleh "urang-urang" tu, kok bisa gitu sajo "manggadaikan" agamo? 
di dalam suatu artikel ambo baco.. yang mambuek urang awak itu "kuat" adolah ke-otonoman urang awak itu, bisa bapikia secara logis.. dulu di surau-surau diajaan indak cuma agamo sajo.. tapi..urang diajak bapikia baa mangkonyo kito mamiliah islam sabagai agama nan kito anuik... 
kinipun mungkin masih..tapi pertanyaannyo..apo nan harus dilakukan untuk memperkuat diri urang awak tu? 
..taruih tarang ambo sangat sangat prihatin.. 
dan ambo yakin indak hanyo ambo sajo..banyak urang awak yang lainnyo
3. prihatin
Ditulis oleh deddeerika pada Rabu, 19 Oktober 2005
Ass.ww. Ambo prihatin sangaik. kawan karajo ambo yang b'agamo hindu babini jo urang awak, lubuak basuang katonyo, bininyo yang masuak agama hindu. kawan sapamainan ambo dl di pdg, ibunyo rang bukik, ayahnyo cino, dan mrk sakeluarga katolik 
sabananyo memang iko ndak baru2 ko sajo, waktu ambo kuliah di pdg pun itu alah ado, dan cukuik terang2an, tamasuak sikap dosen yang rada2 diskriminatif terhadap mahasiswa/i yang ikhwan/akhwat. Apolagi kiro2 bln november 2003 ambo pernah baco di salah satu majalah (gatra/tempo, ambo lupo), tentang upaya kristenisasi di kampus plg tuo di lua jawa tu dek sejumlah dosennyo sendiri! (so pasti yang non muslim) 
kini ko memang awak paralu mampakuek iman, dan bisa maagiah contoh nan baiak untuak yang lain. Adonyo situs paga nagari pasti bisa ikuik manunjang, awak2 nan lai ndak gaptek harus bisa manjadi urang nan mangkomunikasikan ka nan lain, semoga.... 
Wass.
4. Mencari jalan kalua
Ditulis oleh deny pada Selasa, 01 November 2005
5. Mencari jalan kalua
Ditulis oleh deny pada Selasa, 01 November 2005

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online MinangSaat ini Radio Cimbuak
sedang Offline
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Tamu ( 0 ) Tamu 0
  Total  0
 Angoota ( 7,356 ) Angoota  7,356


Statistik
Agg Baru  A2d
Hari Ini 0
Minggu Ini 85
Bulan Ini 401
Tahun ini 3,148
Online Sekarang
    Online Sekarang
    User Terbaru

    penyok

    Terdaftar pada
    2008-07-19 10:28:40

    Pengunjung: 3596815