Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Gunuang biaso timbunan kabuik
Lurah biaso timbunan aia
Lakuak biaso timbunan sampah
Lauik biaso timbunan ombak
Nan hitam tahan tapo
Nan putiah tahan sasah
Disasah bahabih asa
Dikikih bahabih basi
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Sensasi Benteng Alam Lembah Harau PDF Print E-mail
Written by Admin   
Wednesday, 19 October 2005

Image Lembah Harau di Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota, Sumbar, mempunyai tujuh air terjun (sarasah) yang memesona. Pagar tebing cadas yang curam dan lurus juga menantang untuk olahraga panjat tebing.

Payakumbuh: Seperti dalam benteng! Barangkali demikian yang dirasakan pengunjung Lembah Harau di Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota, Sumatra Barat. Memasuki Taman Wisata Lembah Harau, wisatawan serasa "dikepung" tebing kemerah-merahan setinggi 150 hingga 200 meter. Tebing itu tegak mengelilingi lembah.

Di dasar tebing, bentangan sawah dan pepohonan hijau lagi rimbun membuat pesona Lembah Harau makin memukau. Daerah Lembah Harau juga dihuni berbagai jenis hewan dan burung liar. Lembah ini juga makin memikat dengan tujuh air terjun atau sarasah yang mengalir deras. Di waktu musim hujan, air yang mengalir bertambah deras. Pemandangan sekitar lembah makin menakjubkan kala pelangi turun sehabis hujan.

Kawasan wisata yang dicapai sejam perjalanan dari Bukittinggi, Agam, ini dapat dinikmati dengan membayar tiket Rp 1.500 per orang. Untuk wisatawan yang berniat bermalam, tempat ini juga menyediakan pondok kecil dan rumah gadang di dasar lembah. Harga sewa kamar semalam bervariasi, mulai Rp 50 ribu hingga Rp 2 juta. Teras rumah yang terbuka membuat pengunjung dapat menikmati pemandangan lembah sepuasnya. Pengunjung juga dapat menikmati alunan saluang--alat musik tradisional Minangkabau--yang ditiup oleh anak nagari setempat buat menghibur wisatawan.

ImageLembah yang memanjakan hati dan mata ini mempunyai legenda sendiri. Menurut hikayat setempat, dulunya di atas tebing berdiri sebuah kerajaan. Sedangkan lembahnya merupakan lautan. Suatu hari, putri kerajaan memilih terjun ke laut karena tak diizinkan menikah dengan lelaki yang disukainya. Sang raja lalu memerintahkan rakyatnya mencari jasad sang putri. Namun hingga laut dikeringkan, jenazah sang putri tetap tak ditemukan. Laut yang menjadi daratan itu kini dikenal sebagai Lembah Harau dan menjadi tempat bermukim yang indah.

Pagar tebing cadas yang curam dan lurus itu juga menantang untuk olahraga panjat tebing. Sebuah organisasi pecinta tebing setempat secara rutin mengunjungi tempat ini sekali dalam setahun. Wisatawan yang berminat mungkin dapat mencoba untuk menguji olahraga yang satu ini. Peminat akan dipandu seorang instruktur.

Bila tak ada sepatu khusus pendaki, tanpa alas kaki pun jadi. Inti olahraga ini adalah mengatasi rasa takut. Pendaki juga diharuskan memakai harnest (alat pengaman tubuh) yang diikat simpul. Tali yang lain dipegang seseorang yang akan menahan tubuh pendaki bila terjatuh. Untuk mengurangi keringat saat mendaki, pendaki harus menyediakan bubuk magnesium karbonat. Bagi pemula, kesulitan terbesar antara lain mengalokasikan beban tubuh kepada tangan dan kaki secara seimbang. Kecederungan yang sering terjadi, beban tubuh hanya ditahan oleh tangan. Akibatnya energi lebih cepat terkuras. Apalagi tempat pijakan dan bergantung amat minim.

Sebagai daerah lembah, suara teriakan niscaya akan memantul lagi. Cobalah berteriak di titik nol (echo spot) yang telah ditandai pengelola khusus untuk pengunjung yang ingin mendengar gaung sempurna. Di tempat ini, suara pantulan terdengar lebih keras. Lumayanlah buat melepas stres dan beban hidup. Sekalian buat latihan vokal bagi yang berminat ikut kontes menyanyi!

Payakumbuh tak hanya memiliki Lembah Harau. Setengah jam dari tempat ini pengunjung bisa menikmati Ngalau Indah, sebuah gua yang dikenal memesona. Pengelola telah menyediakan lampu-lampu, tangga, dan jalan setapak buat menikmati pemandangan dalam gua. Cukup membayar Rp 2.000, nikmati sensasi gua yang juga dikenal sebagai tempat bersarangnya ribuan kelelawar. Dari mulut gua, suara ringkik kalong telah terdengar. Hawa busuk dari tahi sang kampret menambah "semerbak" suasana ngalau.

Dalam gua, berbagai aneka batuan menyambut pengunjung. Batuan diberi nama sesuai bentuknya. Misalnya batu kursi. Pengunjung yang lelah dapat berhenti sejenak untuk duduk. Ada lagi batu kelambu. Batu yang terbuat dari endapan kapur yang terjadi sekian lama ini memang mirip kelambu. Pada beberapa bagiannya, ada ruangan batu seperti kamar tidur beneran. Di samping itu ada batu tira yang berwarna putih gemerlapan. Batu ini makin indah terkena sorotan cahaya lampu. Inilah sensasi yang ditawarkan Ngalau Indah.

Namun Kota Payakumbuh tak hanya dikenal dengan Lembah Harau dan Ngalau Indah. Wisatawan bisa mencicipi galamai--sejenis dodol--yang khas rasanya. Selain itu, tentu saja sanjai, makanan khas daerah Sumbar. Keripik balado atau sanjai yang terbuat singkong ini tahan lama dan cocok untuk bepergian atau oleh-oleh. Rasanya juga unik dan khas: pedas dan kemanis-manisan.(MAK/Grace Natalie dan Effendi Kasah).

Sumber : http:/www.liputan6.com

Trackback(0)
Comments (1)add comment

Tamu said:

sanak apo bisa ambo mancaliak foto alam ranah minang
 
report abuse
vote down
vote up
May 11, 2006
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Wednesday, 19 October 2005 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 23 guests and 9 members online
Powered By PageCache
Generated in 1.09146 Seconds