|
Page 3 of 9
III. Logistik di Kampung Orang Cukup banyak diantara kita yang tidak begitu peduli untuk urusan kampung tengah ini, apalagi katanya kita kesana tujuannya adalah mau ibadah. Jadi supaya ibadahnya tidak terganggu dan seluruh waktunya hanya disediakan untuk beribadah, maka untuk makanan ini dapat dibeli kapan saja dan dimana saja. Apalagi berbagai makanan siap saji dengan berbagai rasa dan harga cukup banyak dijual.  Sebetulnya untuk soal makanan ini , kalau kurang tepat jenis dan komposisinya akan berpengaruh juga pada kesehatan dan stamina kita. Padahal  ibadah disini umumnya merupakan ibadah fisik yang akan menguras tenaga kita dan lagi pula kita akan cukup lama berada di Arab Saudi ini. Walaupun saya orang Minang tapi saya tidak terlalu fanatik dengan masakan Padang, hanya tastenya harus tepat. baik untuk masakan Padang ini maupun masakan lain. Tetapi khusus untuk beras, lidah saya hanya bisa menerima jenis yang biasa kita temui di restoran Padang, sehingga beras yang beraroma wangi seperti Cianjur atau Ramos kurang bisa saya konsumsi.  Kebetulan isteri saya termasuk yang suka masak apalagi mendengar advis dari temannya mengenai kondisi disana. Teman ini juga membekali kami dengan berbagai bumbu yang telah diolahnya sehingga cukup awet selama di Makah-Madinah. Disamping itu dia juga telah menyiapkan untuk kami berbagai bahan makanan yang laik untuk dibawa.. Selain yang kami siapkan berupa rendang paru yang empuk, dendeng kering,ikan salai, kerupuk kulit serta bumbu pecal serta makanan kering lain untuk perbekalan . Beberapa bahan makanan ada yang tidak diperkenankan oleh pihak penerbangan untuk dibawa misalnya yang terdiri dari bahan cair seperti kecap, yang mudah busuk, yang aromanya terlalu keras sehingga mengganggu orang lain, dan sebagainya  Tapi kalau lagi apes katanya ada saja alasan petugas Arab Saudi itu menolak bawaan kita. Syukur sekali kloter kami tidak dibongkar barang bawaannya sewaktu sampai di Air Port Jeddah Untuk menghindari resiko ada yang hilang maupun terlambat kita terima sebaiknya masing2 barang ini dibagi dua pada koper kita dan isteri. Pihak penerbangan memberi kesempatan kepada kita untuk membawa bagasi maximum. 35 kilogram jadi kalau mau berangkat cukup banyak yang bisa dibawa. Persiapan makanan yang kita bawa ini rasanya sangat membantu selama masa ARMINA ( Arafah-Musdalifah –Mina) sekitar 5-6 hari. Karena disini kita diberikan box makanan oleh pihak Maktab yang belum tentu sesuai dengan cita rasa kita. .Sedangkan pilihan makanan yang bisa dibeli disini tidak begitu menarik. Kalau mau coba makanan orang sana ada juga yang lumayan enak dan cocok juga dengan selera kita. Roti mereka yang seluas nampan bisa dimakan dengan saus yang sudah menjadi pasangannya,.bisa juga direkayasa dengan cita rasa kita sendiri. Sementara nasi mereka yang dimasak dengan berbagai bumbu bagi saya bisa ditelan karena aroma wanginya sudah dinetralkan. Biasanya nasi ini lauknya ayam bakar yang sizenya lumayan besar. Nasi kotak ala Arab ini sering dibagikan untuk jemaah haji oleh para dermawan disana. Begitu juga hampir setiap hari ada pembagian aqua maupun snack kotak dibeberapa tempat sesudah shalat zuhur dan isya. Bahkan sering juga yang langsung diantar kesetiap maktab oleh para dermawan itu. Sewaktu baru datang di Jedah kita juga diberi snack kotak , sedang nasi kotak diberikan sesampainya di Makah. Selama di Madinah kita katanya diberi nasi sekali sehari, Cuma bagi kloter kami tidak setiap hari dibagikan, apalagi waktu pengantarannya kadang-kadang kurang pas. Kalau diantar sebelum jam 11..30 siang bisa dinikmati sebelum berangkat shalat zuhur, tapi kalau terlambat terpaksa dimakan setelah kita kembali dari shalat isya mengingat jauhnya lokasi tempat tinggal dari masjid. Karena makanan ini sudah sangat dingin, banyak juga yang dibuang saja oleh para jamaah sehingga mubazir. Kabarnya tahun ini makan selama di Madinah akan ditanggung pemerintah, hendaknya waktu pengantarannya itu harus diperhatikan supaya makanan itu dapat dinikmati dengan baik tidak terbuang percuma    Untuk pakaian yang akan dibawa cukup yang ringkas saja misalnya 3-4 potong baju koko dan celana batik untuk pria. Disamping pakaian biasa , untuk digunakan kalau ada acara wisata misalnya ke Jedah, selain itu diperlukan juga kaos putih yang punya kantong dan risleting didada untuk menyimpan uang dan barang berharga lain.. Seandainya lagi musim dingin mungkin perlu ditambah jaket/baju dingin serta topi sebo yang ala Ninja itu. Kalau mau pulang kuota bagasi yang 35 kilogram ini mungkin sudah penuh dijejali berbagai cindera-mata untuk para kerabat di Tanah Air. Khusus bagi kami berdua sewaktu berangkat bagasinya hanya 17 dan 19 kilogram, sedangkan waktu pulang hanya 24 dan 26 kilogram. Ini karena kami cukup selektif kalau mau membeli barang-barang disini, karena barang-barang tersebut cukup banyak juga yang tersedia baik di Pasar Bawah Pekan baru maupun tempat lain di Indonesia.      Lagi pula isi kantong kami terbatas he….he…..  Sebaiknya kita perhatikan betul mutu dan jenisnya kalau mau beli carpet atau sajadah serta barang lain seperti jam. lalu bandingkan dengan harga di Indonesia. Begitu juga kaum ibu yang suka memborong semacam cerek kuning untuk tempat air zam-zam khas Arab yang dibuat di Korea, jangan-jangan sampai di Indonesia nanti cereknya telah sakit pinggang alias penyok karena dibanting diperjalanan. Tapi kalau untuk sepatu/sandal maupun tas wanita kwalitas sedang dari Cina memang lebih murah dari Indonesia. Begitu juga parfum non-alkohol biasa-biasa saja Â
|