|
Pituah |
Bajalan ba nan tuo Balatia ba nakhodo Bakato ba nan pandai |
|
|
Written by Taufiq Rasyid
|
|
Thursday, 20 October 2005 |
|
Page 5 of 9
V. Terpaksa membayar orang untuk melempar Jumrah Karena kacaunya sistim Taradudi/ Shutle Service yang menimpa Kloter kami. Saudara-saudara dari Propinsi lain yang sampai belakangan di Muzdalifah menyerobot maju naik kesetiap bus yang datang Ini mungkin juga karena rendahnya kemampuan lobby ketua Kloter pada petugas yang mengatur setiap keberangkatan bus. Sehingga keberangkatan setiap kami jadi amburadul, masing-masing hanya menyelamatkan diri sendiri dengan rebutan dan berjejalan didalam setiap bus. Bahkan ruangan untuk berdiripun habis di bus ini. Mungkin penyelenggara telah meraup untung yang lumayan disini, karena bus yang dipakai jadi berkurang jumlahnya. Kami yang telah berada di Muzdalifah sebelum Isya, baru sampai di Mina menjelang Subuh. Ini disebabkan oleh karena bus-bus yang ada telah diserbu jamaah dari Sulawesi, KaIimantan dan Pulau Jawa sehingga kami tidak kebagian. Disini cukup banyak jemaah yang kehilangan tas tentengan yang berisi pakaian untuk beberapa hari perjalanan serta berbagai barang lain., sewaktu diangkat kuli dari bus ketenda.  Termasuk kami yang kehilangan tas berisi batu yang dicari di Muzdalifah serta beberapa barang kecil lain. Tampak sekali kurangnya usaha Ketua Kloter untuk mencari solusinya, karena setelah beberapa hari ditanyakan, pemilik maktab mengaku tidak tahu adanya kehilangan ini.  Dalam keadaan belum tidur semalaman, kami diminta petugas TPIHI untuk segera melempar jumrah pagi itu Walaupun sudah ada himbauan dari panitia haji Indonesia untuk tidak melakukan pelemparan jumrah antara pukul 06.00 – 12,00 tapi masih banyak dilanggar . Bahkan petugas kloter kami yang saya ingatkan dengan kondisi ini dengan enteng menjawab “ Ditunggupun sampai sore bakal ramai terus, jadi tak perlu ditunggu†Jamaah diminta segera bersiap karena bakal ada guide yang akan memandu perjalanan ketempat melempar jumrah. Dalam suasana yang kurang kondusif ini, kami melihat rombongan dari Bontang yang berada disebelah tenda kami cukup tertata dengan baik. Sehingga saya dan beberapa teman ikut dengan rombongan ini ketempat melempar jumrah. Konon kabarnya guide yang ditunggu kloter kami tidak pernah muncul, sehingga para jamaah akhirnya mencari jalan sendiri-sendiri. Mendekati tempat melempar jumrah rombongan Bontang ini dibagi-bagi. Sekitar sepuluh orang di bawa kearah jumrah Aqabah, sisanya menunggu didekat tiang. Sebelum mencapai tempat melempar ini kami berpapasan dengan sekelompok warga kulit hitam yang telah selesai melempar, sementara dibelakang kami orang Turki terus mendesak, herannya sang guide terus berteriak “Majuuuâ€. Kami yang melihat gelagat yang kurang baik berusaha untuk menepi dan keluar dari kerumunan ini. Tapi sudah terlambat, kami ikut tergencet, terombang-ambing dan tidak lagi menginjak tanah. Walau hanya beberapa menit, rasanya lama sekali kami terjepit ini.  Akhirnya kami dapat melepaskan diri dan terduduk kehabisan tenaga. Setelah menunggu cukup lama dan keadaan masih belum norma,l kami merasa tidak bisa lagi melempar jumrah. Lagi pula karena banyak batu yang dibawa telah hilang waktu kegencet tadi. Kami terpaksa pulang dengan dengan sisa-sisa tenaga yang minim, umtuk perjalanan pulang ini kami terpaksa berhenti sampai 4 kali karena kehabisan tenaga. Dengan dua kali kehilangan batu dan tenaga telah terkuras habis, kami merasa was-was dan tidak mampu lagi untuk mengulangi melaksanakan pelemparan jumrah, sementara hari telah lewat Lohor. Kami terpaksa menghubungi petugas maktab dan membayar kepada mereka untuk tugas melempar jumrah ini. Sementara ini salah seorang teman kami belum kembali, dia baru sampai di tenda sehabis Isya diantar petugas, dengan kondisi kaki yang mungkin terkilir dan bengkak. Mungkin karena terinjak-imjak orang ramai   Besoknya baru kami mengetahui dalam kelompok Bontang yang kami ikuti kemaren, terdapat 3 anggotanya yang tidak pernah kembali. Kelompok lain yang banyak jadi korban berasal dari Sum-Sel dan Sul-Sel .  Tragisnya lagi petugas Arab Saudi hanya main lempar dan tumpuk saja dalam menangani korban ini, Sehingga setelah sampai di Rumah Sakit ditemukan beberapa korban yang masih bernapas dan bisa diselamatkan .
|
|
Last Updated ( Thursday, 20 October 2005 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Donasi Terakhir |

| Dari | Jumlah | | Harmailis | Rp. 200.007,-- | | Ajo Duta / Mak Uncu | Rp. 1.000.000,-- | | Inyiak Jangkuang | Rp. 56.789,-- | | Dave, Melbourne | Rp. 300.000,-- | Balance Sementara
| Rp. 1.116.796,-- | |
|
Online Sekarang |
|
We have 17 guests and 18 members online |
|