|
Page 4 of 9
IV. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Masjidil Haram terletak dikota Makah, sementara Masjid Nabawi terletak di kota Madinah. Walaupun begitu di Madinah ini kita sering juga mendengar masyarakat disana dan sopir angkot menyebut Mesjid Nabawi sebagai Haramain.  Masjidil Haram Saat ini kita tidak bisa lagi menemukan lokasi sumur Zam-Zam di Masjidil Haram, karena areal ini telah tertutup rata dan menjadi tempat untuk melaksanakan tawaf yang diperluas.  Selain pelataran ini lantai 2 dan 3 Masjidil Haram juga digunakan untuk melakukan tawaf terutama bagi yang tidak mau berdesakan dipelataran serta jamaah yang didorong dengan kursi roda. Cuma jarak tempuh dilantai 2 dan 3 ini cukup jauh dibutuhkan sekitar 10-15 menit untuk satu putaran. Jadi untuk 7 putaran butuh waktu lebih dari satu jam. Sedang kalau kita lakukan tawaf dipelataran bawah dekat Ka’bah waktunya mudah-mudahan tidak sampai 30 menit. Untuk melakukan tawaf ini kami melakukannya dengan cara sebagai berikut : • Setelah kita start dari garis coklat sambil bergerak memutar searah jarum jam itu, kita juga terus merapat/mendekat kearah Ka’bah • Melewati Hijir Ismail dan menjelang Rukun Yamani kerumunan massa agak banyak sehingga demi keselamatan kita harus agak menjauhi Ka’bah. Begitu juga menjelang garis coklat kerumunan ini semakin bertambah. Berjalan dalam kerumunan ini sebaiknya kita tidak terus menekur tapi sesekali agak menengadah keatas supaya tidak kekurangan oksigen dan tidak terpengaruh berbagai aroma yang kadang-kadang kurang enak. • Setelah melewati garis coklat kita kembali mendekati Ka’bah, dan seterusnya sampai kita selesai melakukan tawaf  7 putaran. • Dengan cara ini jarak tempuh kita tidak akan begitu jauh dan waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama. Setelah selesai tawaf kita bisa merapat ke Multazam untuk berdoa. .Selesai di Multazam saya sering ditawari pemuda kita untuk mencium Hajarul Aswad yang berjarak kurang dari 2 meter lagi dari Multazam ini, tapi terpaksa ditampik karena untuk mencapai Batu yang satu ini kita harus merogoh kantong untuk sekian Real ( Ibadah kok bayar he..he,,,). Resiko akan terjatuh dan terhimpit sewaktu mencium itu juga menjadi pertimbangan saya, tapi istri saya pernah bisa mencium Hajrul Aswad ini menjelang subuh, sampai-sampai bajunya berlepotan parfum yang dioleskan pada batu itu.  Tampak juga wajah-wajah Indonesia diantara antrian untuk mencium Hajarul Aswad ini yang dimulai dari sekitar Rukun Yamani. • Karena beresiko dengan kerumunan jamaah disekitar Multazam ini sebaiknya kita lebih dahulu ke Hijir Ismail untuk berdoa kalau bisa Sholat juga . Sesudah itu baru sholat dan berdoa dibelakang maqom Ibrahim. Kalau kerumunan terlalu padat terpaksa mutar lagi sekeliling karena cukup berbahaya kalau melawan arus. Tapi saya ada juga menemukan warga Indonesia yang cukup nekat melawan arus ini bahkan ada juga yang wanitanya.. Dari dialeknya saya pastikan mereka bukan orang Sumatra. • Bisa juga sebelum ke maqom Ibrahim ini kita istirahat dulu sambil minum zam-zam yang tersedia dalam igloo yang berada dipinggir areal tawaf.
Dibeberapa tempat didalam masjid ini juga tersedia air yang bisa dipakai untuk wudu, misalnya dipinggir lapangan tempat tawaf sebelum kita naik ke tempat shalat, begitu juga didinding bagian belakang mesjid, cuma kalau butuh toilet kita harus keluar, sekeliling masjid cukup banyak terdapat toilet ini walau sering harus antri dengan waktu yang cukup lama . Tapi kalau mau cepat dan agak lebih bersih, terpaksa kita berjalan ke toilet yang ada di Mall/ Hilton Hotel atau numpang di hotel lain yang ada disekitar masjid .. Menjelang hari Arafah suasana masjid semakin ramai, bahkan jamaah yang mau sholat tidak tertampung lagi dipelataran luar masjid , sehingga meluber sampai kejalan raya. Suasana khidmat didalam masjid sering terganggu oleh batuk jamaah yang bersahut-sahutan.. Walau mesjid ini cukup bersih dan mewah disertai AC yang lumayan dingin. Tampaknya perlu diusulkan pada pemerintah Arab Saudi untuk pengadaan pembersih udara demi kesehatan jamaah , sprinkler yang menyemprotkan kabut halus yang mengandung anti septik dengan interval waktu tertentu mungkin bisa membantu untuk memusnahkan microorganisme yang mengganggu kesehatan ini, karena filter udara biasa tidak akan bisa menyaring bakteri yang menyebabkan batuk serta virus influenza ini . Setelah tawaf dan kalau perlu, kita bisa beristirahat,atau kita bisa lansung melakukan Sa’i, Sayangnya dalam melakukan Sa’i ini banyak juga jamaah yang mengganggu ketertiban dengan masuk ke jalur yang diperuntukkan bagi para pengguna kursi roda. Tampaknya pelanggaran ini didominasi warga Turki, sedikit kulit hitam dan Pakistan/India, tapi wajah Indonesia yang dulunya dikenal cukup santun juga ada ditemukan diareal ini. Sewaktu Sa’i ini yang agak berkesan bagi saya , saya melihat wanita Pakistan yang dengan enaknya menjunjung botol Coca Cola besar penuh berisi ,tanpa memegangnya. Jadi dia enak saja melenggang ,yang bagi kita kadang-kadang untuk berjalan biasa saja sulit ditengah keramaian. Dalam melaksanakan ibadah Sa’i ini kita harus berhati-hati juga, jangan sampai memaksakan diri untuk mencapai puncak Safa yang tidak begitu luas itu. Cukup melampaui lintasan kereta dorong, lalu naik sedikit, langsung berputar dan berbalik arah, karena kalau berusaha naik terus bisa menyebabkan kita kegencet bangsa lain yang lebih perkasa. Mereka kadang-kadang berebutan untuk mencapai puncak ini . Dalam musim haji tahun ini juga ada korban jiwa yang kegencet disini.
Masjid Nabawi Kalau Masjidil Haram terbuka 24 jam sehingga kita dapat beribadat disana sepanjang waktu, hanya keluar untuk keperluan makan-minum dan ketoilet. Masjid Madinah hanya terbuka dari menjelang Subuh sampai selesai waktu Isya sekitar jam 10.00 malam waktu setempat. Setelah waktu ini pintu Masjid Nabawi ini akan dikunci oleh para petugasnya. Kedua Masjid ini kebersihannya dijaga oleh BIN LADEN Group yang konon telah memenangkan tender fantastis seharga 1 (satu) Riyal untuk pekerjaan tersebut. Jadi dapat dibayangkan subsidi yang dihabiskan kelompok usaha ini dalam usahanya menjaga kebersihan tempat tersebut. Diantara tenaga janitor disini juga ada warga RI sekitar 250 orang, mereka hanya digaji sekitar 400 Riyal sebulan untuk masa kerja selama 5 bulan, plus pemondokan tanpa makan untuk kerja 8 jam/hari. Bisa dibandingkan dengan janitor di maktab kami yang bergaji 1500 Riyal/bulan walau mereka bekerja dari pagi sampai jam 8 malam. Padahal untuk memperoleh pekerjaan ini mereka telah membayar kepada perusahaan pengerah tenaga kerja di Indonesia sebanyak Rp 13,5 juta. Tapi selama pelaksanaan ibadah haji mereka dikutkan perusahaan untuk berhaji, mereka diboyong ke Mekah untuk Tawaf dan Sa’i , wukuf di Arafah, melempar jumrah baru kerja lagi. Jadi walau gaji kecil , motivasi mereka kesini hanya untuk bisa menunaikan ibadah haji. “Mana bisa jadi haji kalau uangnya kurang dari 15 juta†kata seorang janitor asal Sukabumi di Madinah. Di Madinah ini saya juga cukup akrab dengan Janitor dari Balikpapan, yang sering ngobrol mengenai kondisi di Madinah. Di Madinah ini kelihatan kerja mereka lebih santai dari di Makah, karena umat yang berkunjung pada suatu waktu tertentu disini tidak sebanyak di Makah.  Berangsur-angsur tidak langsung menumpuk dan waktunya terbatas hanya 8 hari tidak selama waktu kita di makkah Bangunan Masjid Nabawi yang berukuran 400 x 400 meter ini, ditempat tertentu dilapisi ornamen keemasan. Ini menjadikannya terlihat lebih mewah dari Masjidil Haram. Begitu juga atapnya yang kadang kala terbuka telah menimbulkan perasaan lain pada teman saya se-kloter. Mungkin dia mengira saat itu telah terjadi keajaiban oleh kekuasaan Allah. Sehingga waktu atap ini terbuka dia berteriak sekerasnya membaca asma Allah , ini membuat orang-orang sekitarnya tersenyum simpul . Fasilitas toilet di Masjid Nabawi ini lebih melegakan dari di Makah karena tidak begitu ramai peminatnya, toilet ini terdiri dari dua lantai dibawah tanah. Kalau mau belanja, toko-toko yang baru dibangun lebih banyak di diseputar Masjid Nabawi- Madinah, tapi toko-toko di lantai bawah Hilton-Hotel Makah memiliki koleksi barang lebih mewah. Non- alcohol perfume di Makah rasanya lebih keras dan menusuk baunya dari di Medinah yang agak soft.   Cuma kalau mau cari kemeja dan kaos stock di Jeddah lebih bagus, tapi variasinya tidak begitu banyak. Khusus untuk T-Shirt ini rasanya lebih lumayan beli di Bandung. Jeddah yang kota Internasional ini tampaknya ditata dengan baik, hampir disetiap persimpangan juga dibangun taman-taman yang asri . Tugu-tugu juga banyak dibangun disini, yang terkenal diantaranya Sepeda raksasa yang disebut sebagai sepeda Nabi Adam. Sedangkan di suatu kuburan umum yang diclaim sebagai kuburan Siti Hawa. Sewaktu dikonfirmasi pada penjaga komplek pemakaman itu mengenai keberadaan kuburan Siti Hawa hanya beroleh jawaban : “Wallahuallamâ€. Disini juga terdapat Mesjid Qisas tempat dilakukan hukuman potong tangan bahkan hukuman mati bagi yang sudah divonis untuk itu. Pantainya yang merupakan pantai Laut Merah juga telah ditata dengan apik. Secara umum topografi Jeddah yang datar dan berada dipinggir pantai ini berbeda dengan Makah yang berbukit batu sehingga agak sulit dikembangkanÂ
|