Kenang-kenangan Haji PDF Print E-mail
Written by Taufiq Rasyid   
Thursday, 20 October 2005
Article Index
Kenang-kenangan Haji
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9

VII. Air Mata di Tanah Suci
Sejak  ditanah air kami telah mengetahui para jamaah akan mudah sekali tersentuh perasaannya sehingga mereka sering bercucuran air mata ditanah suci ini.
Ada yang mengaku sejak dia mengenal dirinya tidak pernah keluar air mata, bahkan sewaktu ibunya meninggalpun dia tidak menangis. Tapi begitu melihat Ka’bah dia langsung tersungkur, tak bisa berdiri, terisak dan bercucuran air mata. Hal yang sama juga terjadi sewaktu dia pertama kali sampai didekat makam Nabi di Madinah. 
Bagi kami sendiri setelah selesai tawaf, sewaktu melakukan umrah selamat datang,  kami merasa kondisi yang biasa saja.. Mungkin karena waktu itu kurang khusuk disebabkan  harus menggandeng dan melindungi isteri.
Hari selanjutnya sewaktu tawaf tanpa didampingi isteri, baru bisa merasa khusuk sekali dan air mata mulai menetes sewaktu berdoa di Multazam maupun Hijir Ismail.
Hari-hari selanjutnya tempat favorit saya menunaikan shalat adalah diarah  Hijir Ismail waktu Lohor dan Asyar. Di arah Multazam untuk Magrib –Isya karena kalau siang hari  disini sinar matahari terasa agak menyengat.  Kalau suasana sudah begitu khusuk air mata juga langsung  berderai
Banyak pula yang mengatakan sewaktu wukuf di Arafah air mata bakal tumpah bergelas-gelas, karena perasaan kita begitu tersentuh sewaktu menyampaikan do’a-do’a disana . Anehnya saya menjalani wukuf ini  juga dengan perasaan biasa-biasa saja. Walau sudah diusahakan suasananya sekhusuk mungkin dalam berdoa, namun suasana sedihdan air mata itu tidak kunjung muncul. 
Berhubung suhu ruangan didalam tenda mulai agak panas dan pengap sehingga tidak begitu nyaman lagi, saya pergi keluar tenda .Seterusnya saya mencoba untuk menyendiri sampai keluar pagar, jauh terpisah dari kelompok yang masih berada didalam tenda.
 Saya mulai lagi berdoa dan bersimpuh sendirian  dibawah pohon Sukarno yang mulai  rindang. Pohonnya disebut begitu karena ditanam atas anjuran Presiden Pertama RI tersebut. Bahkan konon kabarnya tanah untuk menanam pohon ini mula-mula juga didatangkan dari Indonesia.
 Tapi rasanya masih biasa saja, berdoa tanpa air mata. Kalau sekarang diingat-ingat, mungkin sewaktu duduk bersila dengan pakaian ihram ini saya bisa terlihat seperti Budha lagi bertapa dibawah  pohon Bodhi ya.  He…he….heee.
Akhirnya melihat suasana yang cukup adem disini, beberapa teman ikut bergabung, sehingga suasana sakralnya mulai berkurang . Mungkin karena masing-masing telah cukup lama berdoa ditenda, ada saja yang mulai bosan sehingga mereka ada yang  ngobrol dan merokok
Tapi sewaktu melakukan shalat sunat Ihram untuk memulai umrah di Ja’runa, dimana umrah ini saya hadiahkan pahalanya untuk ibunda, air mata saya keluar dan terisak tanpa sadar
Begitu juga di Masjid Nabawi dihari-hari pertama saya merasa biasa saja, tapi setelah berada di Rawdah baru lain rasanya dan air mata jatuh tak terbendung lagi  sewaktu memanjatkan do’a



Last Updated ( Thursday, 20 October 2005 )
 
< Prev




Generated in 10.20841 Seconds