|
Sampai sekarang saya masih aras-arasen mengerjakan Managerialship karena artikelnya puanjang. Mboseni bagi yang motivasinya rendah. Apa perlu dibikin dangkal dan nggrambyang ? Paling tidak memberi gambaran. Katimbangane ôra.
Memenuhi permintaan beberapa kawan, dan dengan semangat 'katimbangane ôra' saya akan coba posting Managerialship secara sporadis, santai-santai, dan sak dhadhiné. Dengan resiko tersendat dan terhenti ditengah jalan karena kesibukan saya.
Jika kita ketikkan leadership/enterpreneurship ke google, maka akan muncul artikel-artikel brol-brolan. Begitu juga buku-buku tentang itu di-toko-toko buku. Coba ketikkan managerialship ke gugel, cuma ada sedikit dan tidak memberi gambaran apa itu. Di toko buku, samasekali tidak ada buku tentang managerialship.
Yang kita maksud dengan managerialship adalah sifat-sifat dan sikap-sikap yang dibutuhkan bagi mereka yang ingin atau keblasôk (tersesat) kejajaran manajemen menengah keatas. Managerialship, misalnya membutuhkan sifat kepemimpinan sehingga kita terpaksa bicara tentang leadership. Jika kita berada pada posisi puncak manajemen, yang bertanggung jawab pada laba, maka kita terkadang harus melakukan fungsi-fungsi enterpreneural. Selain itu, leadership & enterpreneurship akan saya pergunakan sebagai iluminasi agar sosok manajer lebih kentara. Akibatnya, artikel jadi puanjang. Lebih panjang lagi karena tiap kali kita harus mendefinisikan karena tidak semua pembaca punya latar belakang manajemen & psikologi. Let's start.
Barusan kita mendapat postingan tentang Bodoh & Pintar yang saya lampirankan. Artikel itu bercerita tentang orang pintar yang dipekerjakan sibodoh. Yang dimaksud dengan sipintar adalah manajer, dan sibodoh adalah enterpreneur. Artikel ini menyatakan kebenaran, sekaligus beberapa kekeliruan. Kita mulai sesi ini dengan membedakan enterpreneur vs manajer.
Si Manajer harus orang pintar, ini benar ! Ini syarat kedua yang harus dimiliki manajer selain bisa memimpin. Bukan dalam arti pintar secara akademis tetapi pintar dalam hal melaksanakan tugas-tugas manajerial semisal menganalisa, merencanakan, menyimpulkan, membaca situasi. Termasuk pintar berinteraksi, negosiasi, membujuk, memaksa, menekan, berkelit, ndhobos, dll. Ini sudah saya bicarakan dalam postingan yang dulu tentang meniti karir. Artikel itu adalah sifat-sifat dasar bagi siapapun yang bekerja. Di manajemen kek, sebagai dosen kek, dll.
Jangan dibalik, yang pintar pasti bisa ke manajemen. Tidak. Ada watak-watak & sikap-sikap lain yang harus dimiliki. Banyak yang pintar tidak sukses dimanajemen. Ada yang kepintarannya tidak sesuai dengan bidang manajemennya. Mereka yang tersesat atau memang niat ke manajemen menengah keatas dituntut memiliki kecepatan belajar yang tinggi. Tiba-tiba seorang geolog harus bicara tentang perpajakan, misalnya. Ia harus dengan cepat walau hanya grambyangan dan dangkal menangkap istilah-istilah perpajakan. Atau seorang SH menjadi manajer rumah sakit. Tiba-tiba ia harus mempelajari berbagai obat, alat-alat kedokteran, penyakit-penyakit, dll. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Kepandaian lain yang harus dimiliki antara lain putting the right man behind the gun. Menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat. Karena, manajemen esensinya adalah getting things done thru others. Melaksanakan pekerjaan melalui orang lain.
Sikap ini mencolok pada enterpreneurs sehingga artikel pintar vs bodoh pas untuk menggambarkan sosok enterpreneur. Dalam konotasi buruk, enterpreneur piawai 'memanfaatkan' orang. Orang adalah salah satu sumberdaya (suday). Jika kita perluas, Enterpreneur pandai memanfaatkan suday. Kita perluas lagi, menjadi pandai mendayagunakan, menghimpun, menggalang, memanfaatkan, menggunakan (termasuk menyalah gunakan), mengumpulkan, menggerakkan, mengexploitasi, mengorganisir, memanipulasi, mengkonsolodasikan, dll, suday. Inikedigdayaan Enterpreneur.
Perbedaannya, Manajer yang mengelola suday yang disediakan. Enterpreneur memulai, Manajer yang menjalankan.
Apa lagi beda Manajer dengan Enterpreneur ? Yang dicari ! Yang satu cari laba, satunya cari gaji. Perbedaan berikut, Enterpreneur memikul resiko, Manajer tidak.
" Leaders rule the waves, Enterpreneurs use the waves, Manajers measure the waves "
Ada yang bisa jelaskan ?
Lampiran : Pintar vs Bodoh
1. Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya dia bisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar. Walhasil Bosnya orang pintar adalah orang bodoh.
2. Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
3. Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
4. Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.
5. Orang Bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH). Oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.
6. Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tetapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tetapi toh saat itu orang bodoh sudah ada diatas.
7. Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, walhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang bodoh.
8. Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang bekerja. Tetapi orang-orang pintar DEMO, Walhasil orang-orang pintar "meratap-ratap" kepada orang bodoh agar tetap dberikan pekerjaan.
9. Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
10. Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan. Bill Gates (Microsoft), Dell, Hendri (Ford), Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Lim Siu Liong (BCA group) adalah orang-orang Bodoh (tidak pernah dapat S1) yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.
PERTANYAAN: 1. Jadi mending jadi orang pinter atau orang bodoh?
2. Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh?
3. Mulia mana antara orang pinter atau orang bodoh?
4. Susah mana antara orang pinter atau orang bodoh?
Kesimpulan :
1. Jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
2. Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.
3. Kata kunci nya adalah "resiko" dan "berusaha", karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.
4. Orang pinter perpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut. Dan mengabdi pada orang bodoh.
Diposting di mailing list UGM Disadur oleh : Dewis Natra
Trackback(0)
|