Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Adaik iduik tolong manolong
Adaik mati janguak manjanguak
Adaik lai bari mambari
Adaik indak baselang tenggang
Janji nan biaso mungkie
Titian nan biaso lapuak
Pantang di anak minangkabau
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Tafsir Pantun Minang (1) : Kata Pengantar PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Monday, 28 November 2005
Article Index
Tafsir Pantun Minang (1) : Kata Pengantar
Page 2


PENDAHULUAN.

Pantun adalah satu bentuk kesenian yang berbentuk kelompok kalimat pendek dengan jumlah genap ( 4, 6, 8 kalimat), yang disusun berbaris kebawah. Kebanyakan terdiri dari 4 baris kalimat pendek, jarang yang 6 atau 8 baris, sebagai contoh:

Pulau Pandan jauh ditengah
Dibalik pulau Angsa Dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik terkenang jua.

Huruf akhir dari baris pertama sama dengan huruf akhir dari baris ketiga, dan huruf akhir dari baris kedua sama dengan huruf akhir dari baris keempat. Dua baris yang pertama disebut “sampiran”, dan dua baris yang terakhir adalah merupakan arti dari pantun tersebut. Dua baris pertama yang disebut sampiran itu bersifat alamiah, yang mengungkapkan apa yang ada dialam, atau yang terjadi dialam, atau berupa sifat dari alam. Seperti contoh pantun diatas:

Pulau Pandan jauh ditengah
Dibalik pulau Angsa Dua.

Adalah menginformasikan apa yang ada dialam. Dimana kalau kita berdiri dipantai Padang, memandang kearah lautan lepas, maka ada sebuah pulau yang namanya Pulau Pandan yang terletak jauh ditengah lautan , dibalik Pulau Angsadua. Artinya Pulau Pandan itu terletak lebih jauh ketengah lautan dibanding dengan Pulau Angsadua. Namun sebenarnya kedua pulau itu tidak terlihat dari pantai Padang,karena jauh. Itulah yang merupakan satu gambaran di-alam yang menjadi sampiran dari pantun ini.
Sementara baris ke-3 dan baris ke-4, yang berbunyi:

Hancur badan dikandung tanah
Budi baik terkenang jua.

Adalah merupakan isi, atau inti, atau hakikat dari pantun itu. Hubungannya dengan dua baris pertama hanyalah kesamaan bunyi akhir, yang disimpulkan dengan ab-ab. Sama sekali tidak ada hubungan atau sangkut paut pengertian, antara sampiran dan isi. Dua baris pertama merupakan satu kesatuan tersendiri dan dua baris terakhir merukan satu kesatuan yang tersendiri pula, tak ada hubungan pengertian.
Walaupundua baris yang terakhir itu adalah “arti” dari pantun tersebut, namun belum tentu pula semua orang akan langsung mengerti apa arti pantun itu, terutama generasi Minang yang sekarang ini. Sebab bahasanya sering dalam bentuk bahasa abstrak, kalimat kiasan, sindiran atau perumpamaan. Mengingat bahwa masyarakat sekarang ini memerlukan sesuatu yang tegas, jelas, tepat dan ringkas, maka kata-kata bersayap yang ada pada pantun itu tidak banyak lagi orang yang mengerti, apalagi yang sampai menghayati dan memahaminya. Generasi muda Minang saja payah mengertinya, apalagi orang lain. Kalau orang Minang tempo doeloe, mendengarkan lantunan irama pantun yang penuh dengan bahasa kiasan tersebut, dia tidak saja hanya mengerti maksudnya, akan tetapi lebih dari itu, dia akan menghayatinya dengan mendalam, hatinya terbuai, terenyuh, tersentuh sampai kelubuk hati yang mendalam. Seperti arti pantun tersebut diatas, bagi orang Minang tempo doeloe, akan dapat langsung dipahami dan dihayati apa maksudnya. Akan tetapi bagi anak muda Minang zaman sekarang, akan menilai bahwa pernyataan pantun tersebut diatas adalah sesuatu yang mustahil. Mana mungkin, orang mati yang badannya sudah hancur dalam tanah masih bisa mengingat budi baik orang lain, tidak masuk akal.
Arti dari pantun tersebut diatas, dinyatakan dalam bahasa abstrak, bahasa tidak langsung, yang menyatakan bagaimana tingginya nilai dari budi baik seseorang, sehingga tidak akan terlupakan, akan selalu dikenang. Seseorang yang memiliki budi pekerti yang baik, akan berbuat baik kepada siapapun, tidak hanya kepada seseorang saja, sehingga dia akan terkenal dilingkungan masyarakat disekitarnya sebagai “orang baik”. Kebaikannya itu sudah menjadi pengetahuan umum. Walaupun orang pertama yang merasakan kebaikannya sudah meninggal dunia, atau dia sendiri sudah meninggal dunia, namun budi baiknya itu akan tetap dikenang orang. Jadi “budi baik dikenang jua” itu artinya akan selalu dikenang orang, bahkan oleh banyak orang, tidak akan hilang.
Kalau ini dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam Surat Az-Zalzalah (99), 7 :
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun , niscaya dia akan melihat
balasannya. “
Maka budi baik, pekerjaan baik, atau amalan baik, itu walau bagaimanapun kecilnya, akan mendapat balasan oleh Allah SWT, nanti dialam akhirat, saat kita telah berada dalam kehidupan yang abadi. Jadi kalau berbuat sesuatu yang baik, yang dikaitkan dengan agama, artinya dikerjakan dengan “bismillah”, karena Allah SWT, maka balasannya tidak hanya akan didapatkan didunia, tapi juga diakhirat.
Kalau kita kupas pula yang terkait dengan agama ini, ceritanya akan panjang sekali, lebih baik distop saja dulu disini. Jadi sungguh mendalam dan luas hakikad tafsir dari pantun Minang itu . Kalau ada yang tertulis mengenai itu , tentu akan besar manfaatnya sebagai dokumen abadi. Umpamanya pada suatu waktu nanti pantun ini sudah menghilang dari masyarakat, dan ada yang ingin mengetahui risalah kesenian pantun sebagai bentuk kesenian Minang yang amat tinggi nilainya. Umpamanya pada suatu waktu nanti pantun ini sudah menghilang dari masyarakat, dan ada yang ingin mengetahui risalah kesenian pantun sebagai bentuk kesenian Minang yang amat tinggi nilainya, maka ada bahan tertulis yang akan dibaca.
Bagaimana pentingnya dokumen dalam bentuk buku itu diisyaratkan oleh pantun:

Daun sekat sarang elang
Temanggung mencari padi.
Tidak dapat berbunga lagi.

Dilihat surat sudah hilang.
Dijelang guru sudah mati
Kemana tempat bertanya lagi.


Pantun yang terdiri dari 6 baris diatas, mengisyaratkan bagaimana pentingnya sejarah itu dibukukan, untuk sewaktu-waktu dapat dibaca lagi bila diperlukan. Kalau hanya berupa informasi tertulis dalam lembaran-lembaran lepas, itu dapat hilang. Dan kalau hanya mengandalkan keterangan dari orang-orang tua, mereka akan mati. Kalau hanya mendengar cerita bersambut, makin lama keasliannya makin habis. Anehnya pantun Minang tersebut diatas kurang diikuti oleh orang Minang sendiri. Banyak sejarah , kesenian, budaya dan adat-adat Minang yang tidak tertulis, yang tak ada dokumennya.
Kalau ada yang tertulis seperti misalnya Hikayat Cindur Mato, isinya ada yang seperti dongeng, yang tidak masuk diakal dan tidak ada catatan-catatan mengenai waktu kapan terjadinya. Bahkan terakhir ada yang mengatakan bahwa pemeran sejarah terpenting di Minangkabau, seperti Bundo Kandung, Dang Tuanku, Dt.Perpatih nan Sebatang, Dt.Ketumanggungan dan sebagainya adalah merupakan produk dari legenda semata.
Wallahualam bissawab, kita tidak tahu bagaimana yang sebenarnya.
Selain dari pada pantun, banyak lagi bentuk kesenian Minang yang sudah mulai pudar, tidak lagi diminati oleh generasi yang sekarang ini, seperti sya’ir, gurindam, kaba, pepatah/petitih, lagu-lagu Minang dan sebagainya. Banyak cerita-cerita yang ditulis dalam bentuk sya’ir, gurindam atau kaba, yang dizaman dulu biasa dibaca bersama oleh 2 a 3 orang dengan suara keras dan didendangkan. Iramanya dapat pula bermacam-macam, yang umumnya berbeda menurut daerah. Biasanya banyak orang yang berkumpul mendengarkannya dengan asyik, sampai ada yang menetaskan air mata mendengarkan isi cerita dengan irama yang menarik itu
Jenis kesenian seperti inipun perlu juga ditafsirkan , agar dapat pula dimengerti oleh anak-anak muda sekarang ini, dengan tetap menjaga keasliannya. Jadi sedapat mungkin jangan sampai dirusak, dengan merobah kalimat atau gaya bahasa aslinya. Ada kecendrungan sebagian dari penulis kesusasteraan Minang sekarang ini, disadari atau tidak telah merusak keaslian kesenian Minang dengan cara merobah gaya bahasanya sesuai dengan selera orang sekarang, sehingga lama kelamaan bentuk aslinya bisa hilang.
Saya pernah membaca beberapa buku kaba orang Minang, seperti Rancak Dilabuah, Cindua Mato, Malin Deman, Sabai nan Aluih, dan lain-lain yang sudah rusak keasliannya. Bahasanya sudah campur aduk antara bahasa Indonesia dan bahasa Minang. Penyajiannyapun sudah banyak yang diringkas, tidak banyak lagi menggunakan kata-kata perumpamaan, tamsil, ibarat dan sejenisnya.
Sebaiknya bentuk yang aslinya itu tetap dipertahankan, lalu dibuat terjemahan dan tafsirnya. Coba diungkapkan nilai-nilai sejarah, petuah serta petunjuk yang amat tinggi yang terkandung didalamnya, yang amat berguna dijadikan pedoman hidup
Hal yang sama juga terjadi pada lagu-lagu Minang, yang pernah merajai khasanah lagu-lagu disetiap pelosok Indonesia ini. Lagu-lagu seperti Laruik Sanjo, Ayam den Lapeh, Gelang sipaku Gelang, Maninjau dan sebagainya pernah memasyarakat diseluruh Indonesia ini, tidak hanya dikalangan orang Minang. Saya sangat risau menyaksikan perkembangan nyanyian atau lagu-lagu Minang saat ini. Secara bertahap dan secara pasti, irama Minang itu sengaja dirobah untuk menyesuaikannya dengan selera orang sekarang. Kalau kecendrungan ini dibiarkan terus, tampa ada usaha untuk membendungnya, maka suatu waktu kelak irama lagu Khas Minang itu akan lenyap dari muka bumi ini.
Irama lagu Minang yang asli adalah irama lagu saluang dan rebab. Kalau mau “memodernisir” irama tersebut sesuai dengan perobahan zaman, boleh saja asalkan ciri khas Minangnya masih tetap dipertahankan. Misalnya seperti yang pernah dipopulerkan oleh Orkes Kumbang Cari dan Orkes Gumarang pada tahun 50-an. Walaupun istilahnya sudah lagu Minang Moderen, namun ciri Minangnya masih ada, masih enak kedengaran .Dan ternyata tidak hanya orang Minang yang menyukai lagu-lagu itu, tetapi sempat populer diseluruh Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia. Sampai sekarangpun masih ada pencipta-pencipta lagu Minang yang mempertahankan tradisi tersebut, yaitu menyesuaikan dengan perobahan zaman, namun tetap mempertahankan ciri khas irama Minang, seperti misalnya lagu ciptaan Dr.Agusli Thaher. Akan tetapi ada pula para pencipta lagu Minang, yang lebih tepat kalau dinamakan lagu berbahasa Minang, sedangkan iramanya sudah macam-macam, ada irama dangdut, irama pop, keroncong atau irama qasidah dan sebagainya.
Kalau kita lihat irama lagu-lagu Melayu, lagu India, lagu Keroncong, irama Timur Tengah dan sebagainya masih bisa bertahan dan tetap mereka pertahankan, dan sampai sekarang masih banyak peminatnya.
Hendaknya adalah semacam usaha untuk melestarikan irama Minang itu, sehingga makin lama peminatnya semakin banyak, atau makin populer. Jadi yang akan diusahakan bukanlah merusak irama lagu Minang untuk disesuaikan dengan perobahan selera, akan tetapi memasyarakatkan irama Minang itu sehingga makin banyak pencintanya. Contoh yang paling baik adalah irama lagu-lagu India yang tidak pernah terkena polusi irama Barat, malah sebaliknya semakin banyak orang Barat yang menyukai lagu India. Demikian juga dengan irama keroncong seperti lagu-lagu Bengawan Solo, Jembatan Merah dan sebagainya disukai diluar negeri.

 

 

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy

Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 7 guests and 13 members online
Generated in 2.40608 Seconds