|
Tafsir Pantun Minang (2) : Pantun Kiasan |
|
|
|
|
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati
|
|
Friday, 02 December 2005 |
|
Page 12 of 24
Tagendeng biduak nak rang Nareh, Dilantak biduak rang Taluak Bayua. Geleng bak cando Tuanku Lareh, Indak takana ditampuak layua, Artinya : Termiring biduk anak orang Naras, Ditabrak biduk orang Teluk Bayur. Lagak seperti Tuanku Laras, Tak sadar tampuk sudah layur. Tafsir sampiran : Nareh adalah nama sebuah kota kecil dipantai Barat dekat Pariaman, demikian juga dengan Teluk Bayur, yang sudah sama-sama diketahui. Kebanyakan dari penduduk disektar ini bekerja sebagai nelayan, menangkap ikan dilaut dengan menggunakan sampan atau biduk. Dalam pantun ini digambarkan bahwa biduk orang dari Naras, sampai miring, karena ditabrak oleh biduk orang Teluk Bayur. Tafsir isi pantun : Lagak seperti Tuanku Laras, maksudnya seseorang berlagak, bergaya atau berpenampilan seperti Tuanku Laras, sedangkan dia hanyalah orang biasa saja bahkan kedaan ekonominya termasuk orang miskin, yang digambarkan dengan tampuk yang layur. Pantun ini mengkiaskan seseorang yang “tidak tahu diuntung”, lagaknya bukan main, ngomongnya selalu meninggi saja sepertri orang kaya. Pada hal dia sendiri sebenarnya adalah orang miskin. Tuanku Laras dizaman Belanda dulu adalah satu jabatan yang terhormat, sangat berkuasa dan ditakuti rakyat. Jabatan ini setingkat diatas “kepala Nagari”, jadi setingkat dengan camat sekarang ini. Kendaraannya biasanya bendi bugis, yang ditarik oleh seekor kuda dengan kapasitas penumpang dua orang dan terbuka.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
|