|
Page 14 of 24
Buah kuini buah ambacang, Jan diruruik padonyo jatuah. Bunyi kecek marandang kacang, Bunyi muluik mambaka buluah. Artinya : Buah kuini, buah ambacang, Jangan dirurut padanya jatuh. Bunyi kata marandang kacang, Bunyi mulut membakar buluh. Tafsir sampiran : Kuini adalah sebangsa mangga,namun dengan aroma yang agak kuat, sedangkan ambacang juga sebangsa mangga, tetapi tumbuh liar, belum ada yang dibudi dayakan. Buah mangga itu lebih besar, agak bulat dengan serat yang banyak dan rasanya agak asam. Pada sampiran ini dinyatakan bahwa buah kuini dan buah ambacang itu “jangan dirurut padanya jatuh”, artinya : jangan digoyang-goyang dahannya, supaya buahnya tidak jatuh. Kebiasaan petani dipedesaan dalam memanen buah adalah dengan memanjat batangnya , berdiri didahan dan menggoyang-goyang dahan itu. Dengan cara itu buah yang sudah tua dan yang sudah masak akan berjatuhan. Tafsir isi pantun : Bunyi kecek dan bunyi mulut, artinya sama, yaitu bunyi suara orang yang sedang berbicara, keduanya dipakai disini hanya untuk lebih menguatkan saja. Demikian juga dengan marandang kacang dan membakar buluh artinya juga sama , yang satu memperkuat yang lain. Apabila ada orang yang merandang kacang pada sebuah kuali besar, maka akan terdengar suara ribut dari letupan-letupan kacang yang kepanasan. Demikian pula bila ada setumpuk buluh (bambu) yang dibakar, maka akan terjadilah letupan-letupan yang keras. Baik suara kacang yang dirandang, maupun suara buluh yang dibakar menggambar suara ribut yang keras, tidak teratur. Keadaan tersebut diibaratkan kepada seseorang (biasanya wanita) yang cerewet, kalau ngomong suaranya keras dan sulit berhenti, ada saja yang akan dikatakannya. Dia tidak sabar mendengar orang lain berbicara, belum selesai orang berbicara, dia sudah pula mulai ngomong. Apa yang dibicarakan orang lain tidak diperhatikannya, sebab waktu orang berbicara, dia sedang memikirkan apa yang akan dibicarakannya. Disamping itu dapat pula hal itu dimisalkan kepada seorang yang tiba-tiba mendapat keberuntungan , maka keberuntungannya itu diekspresikan dengan mengoceh macam-macam tidak berhenti.
|