|
Page 20 of 24
Batang pua batang kincuang, Ambiak umbuiknyo dek baguno. Disapuah bana ameh lancuang, Kilek tambago nampak juo. Artinya: Batang pua , batang kincung, Ambil umbutnya, sebab ada gunanya. Disapuh benar, emas lancung Kilat tembaga tampak juga. Tafsir sampiran : Pua dan kincuang adalah dua jenis tumbuhan liar yang hampir sama bentuknya, tumbuhan semak tidak berkayu, daunnya panjang-panjang seperti daun pisang, tapi tidak lebar. Buah pua yang telah masak, dapat dimakan langsung dengan rasa manis keasam-asaman; sedangkan buah kincung tidak bisa dimakan mentah, dipergunakan untuk penyedap masakan dengan rasa spesifik. Tidak semua orang menyukai rasa kincung itu, akan tetapi bagi sebagian orang rasa kincung itu sangat disukai. Umbut dari pua dan kincuang itu terletak pada bagian dalam dari batang, umbut itu enak rasanya, dapat dimakan, terutama yang terletak diujung batang. Umbut ini sering diambil orang, selain untuk dimakan, juga untuk ramuan obat. Tafsir isi pantun : Emas lancung adalah emas palsu, yang biasanya terbuat dari tembaga, yang pada bagian luarnya disapuh / dilapisi dengan emas benaran. Akan tetapi biasanya sepuhan itu tidak bisa bertahan lama, sebentar juga luntur, pudar dan mmperlihatkan warna aslinya. Setelah warnanya pudar, maka disepuh lagi dengan emas, demikianlah seterusnya. Ada tukang emas dipasar, yang keahliannya hanya menyepuh emas lancung tersebut. Ini menandakan bahwa cukup banyak orang yang memakai emas palsu itu. Pantun ini mengatakan bahwa bagaimanapun disepuh “emas lancung” itu namun warna aslinya, yaitu warna tembaga akan terlihat jua.Kias dari pantun ini ditujukan kepada orang yang terlalu berlebihan make-up-nya, yang digunakan untuk menutupi aslinya yang tidak terlalu baik, atau ada cacat tertentu. Bagaimanapun memolesnya, apakah pakai lipstik, pakai bedak, minyak wangi, serta benda untuk memperindah potongan tubuh, dan sebagainya lagi, namun tidak akan bisa menutupi secara keseluruhan bagaimana yang aslinya.
|