|
Page 23 of 24 Kok nak tahu diladang padi, Ka Panti jalan ka Sasak. Kok nak tahu dihati kami, Lieklah api makan dadak. Artinya: Kalau ingin tahu diladang padi. Ke Panti, jalan ke Sasak. Kalau ingin tahu dihati kami, Lihatlah api makan dedak. Tafsir sampiran : Kok nak tahu diladang padi, ka Panti jalan ka Sasak. Kota Sasak terletak dekat Air Bangis ditepi pantai Kabupaten Pasaman. Kalau ingin pergi ke Sasak dari arah Bukittinggi, melalui jalan arah ke Medan lebih dulu, sampai kekota kecil Panti, kurang lebih 100 Km dari Bukittinggi. Di Panti itu ada simpang jalan arah kekiri, melalui Talu, Simpang Empat dan terus ke Sasak. Antara Panti dan Talu, memang banyak terdapat hutan, dikiri kanan jalan, dimana sering orang berladang padi dengan sistem ladang berpindah. Itu gambaran keadaan dulu, sebelum ada jalan tembus dari Lubuk Alung. Tafsir isi pantun : Kalau ada tumpukan dedak (sekam padi), ditempat penggilingan padi, atau dimana saja, dan ada orang yang tampa sengaja membuang puntung rokok yang masih nyala kedalamnya. Maka dedak itu akan terbakar , api menjalar kedalam dedak itu secara pelan tapi tidak mau padam. Api akan terus membakar dedak itu dengan berangsur-angsur sampai habis semuanya. Hal itu hanya bisa terjadi didalam dedak, karena tumpukan dedak itu tidak padat, ada ronga-rongganya, jadi ada udara didalamnya yang memungkinkan api bisa hidup. Hidupnya api itu tidak pula bisa terus menyala besar dalam waktu yang singkat, hanya terbatas sesuai dengan ketersediaan udara (oksigen) yang ada dalam dedak itu. Sekali lagi ini adalah suatu kiasan atau perumpamaan, yang biasanya ditujukan kepada dua orang pemuda pemudi yang sedang bercintaan, namun untuk sampai pada tangga perkawinan, mereka masih sedang mempelajari keteguhan hati masing-masing. Maka salah satunya mengatakan (biasanya yang pria) dengan kata-kta kiasan : kalau ingin tahu dihati kami, lihatlah api dalam sekam. Yang artinya cintanya itu tidak akan pernah padam, selalu menyala dan hidup terus.
|