|
Page 2 of 24
Bukik Tinggi Koto rang Agam, Mandaki janjang ampek puluah. Sakik sagadang bijo bayam, Tapi bak raso ka mambunuah. Artinya :
Bukit Tinggi kota orang Agam, Mendaki jenjang empat puluh. Sakit sebesar biji bayam, Tetapi rasa akan membunuh. Tafsir sampiran : Agam adalah salah satu kabupaten di Sumatera Barat, dan termasuk pusat dari daerah Minangkabau, bersama dengan Limapuluh Kota dan Tanah Datar, yang dinamakan “luhak”. Kota Bukit Tinggi terletak dijantung Luhak Agam dan merupakan kota terbesar didaerah Agam. Ada beberapa tempat yang bersejarah dikota Bukit Tinggi ini, antara lain benteng Ford de Cock, Ngarai Sianok, Pasar Atas , Pasar Bawah, Jam Gadang, Panorama, Kebun Binatang dan Jenjang Empatpuluh. Pasar Bawah dan Pasar Atas dihubungkan jalan tangga yang lebar dan berbelok. Dibagian atas dari tangga atau jenjang itu menanjak curam, dengan anak tangga kecil-kecil dan jumlahnya 40 buah. Jenjang atau tangga ini mulai dari Pasar Bawah sampai ke Pasar Atas secara keseluruhan terkenal dengan nama “Janjang Ampekpuluah:. Tafsir isi pantun : “Sakik sagadang bijo bayam” yang dimaksud dalam pantun ini, bukanlah berupa penyakit badan , misalnya luka, demam dan sebagainya. Sebab sakit badan secara fisik yang hanya kecil saja tidak akan sampai membunuh. Hanya penyakit berat atau luka parah yang berpeluang untuk membunuh. Yang dimaksud dengan “sakik” disini adalah semacam penyakit hati yang bisa membunuh. Dan biasanya disini adalah penyakit yang disebabkan oleh karena putus cinta, yang menimbulkan patah hati. Seseorang yang kehilangan kekasihnya apakah karena meninggal dunia, atau menyeleweng direbut orang lain, adakalanya sampai patah hati, berputus asa bahkan ada yang bunuh diri. Dapat pula sakit hati yang disebabkan oleh kata-kata sindiran orang lain, apalagi yang sampai mengungkapkan aib kita atau keluarga kita yang pernah ada dan sangat memalukan. Itu rasanya sangat berat, menimbulkan malu yang sangat besar, sehingga tak sanggup lagi melihat atau b ertemu dengan orang lain. Walaupun cara orang menyindir itu hanya dengan sepintas, dengan satu dua patah kata, namun sakitnya terasa amat besar terasa akan membunuh. Selain dari itu disini juga termasuk penyakit yang timbul karena mendapat kata-kata kasar, amarah, cacian. makian dan sebagainya yang sangat menusuk hati. Orang yang menerimanya akan sangat menderita, yang diibaratkan dalam pantun ini dengan “bak raso kamambunuah”, yang berarti amat berat rasanya. Orang tersebut bisa merana dan memendam hati, atau mau balas dendam dan untuk itu dia mau mati rasanya. Hal ini secara tidak langsung juga mengisyaratkan bahwa bagi orang Minang, kata-kata itu lebih tajam dan lebih kejam dibanding dengan senjata atau apapun. Ditikam dengan kata-kata dirasakan lebih sakit dibanding ditikam dengan pisau.
|