|
Page 13 of 24 Mangkonyo bari-ak aie dikolam, Karano udang bacampua limbek. Laku bak lonjak labu dibanam, Umpamo kacang diabuih ciek. Artinya: Makanya ber-riak air dikolam, Karena udang dicampur dengan limbat. Kelakuan seperti labu dibenam, Umpama kacang direbus satu. Tafsir sampiran : Air tergenang yang ada dikolam terlihat bergelombang, menimbulkan riak atau bergoyang-goyang tidak tenang. Ini desebabkan oleh karena dalam kolam itu dilepaskan udang yang dicampur dengan limbek (sejenis ikan yang menyerupai ikan lele, akan tetapi lebih putih dan bersih, karena biasa hidup diair yang bersih). Limbek itu termasuk ikan yang ganas, yang suka memakan ikan lain, termasuk udamg. Jadi ikan limbek ini mengejar udang, mungkin untuk dimakannya, sehingga menimbulkan riak dipermukaan air kolam tersebut. Fenomena atau keadaan itu dijadikan sampiran dalam pantun ini, yang sama sekali tidak ada hubungan pengertian dengan isi pantun. Tafsir isi pantun : Labu adalah sebangsa buah-buahan yang bentuknya agak bulat besar, dan ringan. Tumbuhan labu itu menjalar, dan buahnya terletak diatas tanah, daunnya bisa untuk sayur, sehingga digolongkan juga sebagai tumbuhan sayuran. Buah labu ini ringan, akan merapung dipermukaan air. Apabila dalam satu kolam yang penuh berisi air, dibenamkan satu buah labu yang agak besar, maka labu itu akan segera bergerak naik kembali sampai kepermukaan air. Kalau itu dilakukan berulang-ulang maka terlihat buah labu itu akan turun-naik atau melonjak-lonjak. Sama halnya dengan apa yang disebut pada baris keempat: “Umpama kacang direbus satu”. Apabila dalam satu periuk besar direbus satu butir kacang dengan menggunakan air yang banyak, maka setelah air itu mendidih, kacang yang satu butir itu akan melonjak-lonjak keatas kebawah, kekiri dan kekanan tergantung gerakan air yang sedang mendidih. Kedua hal tersebut diatas, buah labu dan butiran kacang yang “menari-nari” dalam air diibaratkan sebagai tingkah laku seseorang yang kegirangan secara berlebihan, karena mendapatkan satu keberuntungan. Kegirangan itu sudah diekspresikan demikian rupa sehingga sudah masuk kepada kategori mempamerkan kepada orang lain dengan sombong. Sehingga kelakuannya itu sudah menjadi cemoohan orang banyak, maka pantun diatas itu adalah semacam sindiran yang ditujukan kepada orang itu.
|