|
Page 19 of 24
Manggulai patai lah dahulu, Garamnyo dipiriek-piriek Kok pandai indak baguru, Bak manyalam tak sampai kakasiek. Artinya: Menggulai petai lah dahulu, Garamnya dipijit-pijit. Kalau pandai tampa berguru, Bak menyelam tak sampai kedasar. Tafsir sampiran : Petai termasuk makanan khas Minang khususnya dan Indonesia umumnya, statusnya sama dengan jengkol. Rasanya spesifik yang dapat merangsang selera untuk makan. Manggulai patai, artinya membuat gulai yang dicampur dengan petai, jadi fungsi petai hanya sebagai campuran penyedap rasa petai. Garamnya dipiriek-piriek, artinya garam yang akan dimasukkan kegulai itu dihaluskan lebih dulu dengan menggunakan jari-jari tangan. Garam dizaman dulu biasanya berbentuk kepingan yang keras, dulu tak ada garam halus. Jadi supaya cepat hancur dan meresap dalam gulai, dipiriek dulu. Tafsir isi pantun : Ada orang yang pandai secara alamiah, tampa berguru atau tampa belajar, itu diibaratkan dalam pantun ini sebagai orang yang menyelam, akan tetapi tidak sampai kedasar. Jadi kira-kira samalah dengan pantun yang terdahulu yaitu: “berguru kepalang ajar.” Pantun ini mengisyaratkan bahwa kepandaian yang didapat secara alamiah saja, belum cukup meyakinkan, masih diperlukan berguru kepada orang-orang pandai, atau masuk sekolah sampai selesai, mendapatkan ijazah atau diploma. Ini membuktikan bagaimana orang Minang itu mementingkan dan menghargai pendidikan, dan memang kenyataannya demikian. Satali pambali kumayan, Sakupang pambali pitulo. Sakali lancuang kaujian Salamo hiduik urang tak picayo Artinya:
Setali pembeli kumayan. Satu kupang pembeli pitulo. Sekali kebohongan ke- ujian, Selama hidup orang tak percaya. Tafsir sampiran : Setali dan sekupang adalah nama mata uang zaman dulu, dizaman pemerentah Belanda. Setali itu adalah 25 sen dan sekupang adalah 50 sen. Kumayan adalah getah kayu hutan, yang sudah kering, bila dibakar akan menimbulkan asap yang baunya harum.Oleh nenek moyang zaman dulu sebelum masuknya Islam , kumayan itu dipakai dalam upacara ritual, berdo’a dan sebagainya. Namun sebagian dari masyarakat sekarang, walaupun sudah memeluk agama Islam, waktu acara berdo’a bersama masih menggunakan asap kemenyan itu. Sementara pitulo adalah sebangsa buah-buahan untuk sayur, yang dalam pantun ini dikatakan dibeli seharga sekupang. Tafsir isi pantun : Lancung adalah sejenis bohong atau tipuan yang dilakukan oleh seseorang. Kadang-kadang demikian pintarnya seseorang berbohong, sehingga tidak diketahui, tidak disadari oleh orang yang dibohongi itu. Biasanya ini adalah merupakan satu kehlian dari orang-orang yang pintar “berpolitik”. Akan tetapi apabila sekali waktu ketahuan bahwa orang itu berbohong atau menipu, maka seumur hidup orang tidak akan percaya lagi padanya. Dengan perkataan lain, bagaimanapun dia berusaha merobah sifatnya itu, berusaha meyakinkan orang bahwa dia tidak berbohong lagi, namun sulit, orang tidak akan lagi mempercayainya. Pantun ini berfungsi juga sebagai nasehat agar jangan sampai berbohong, berdusta atau menipu, sebab akibatnya sangat buruk, malah kalau menurut pantun ini, tidak mungkin lagi diperbaiki.
|