|
Page 21 of 24
Pasa Mapun batu batindieh, Tampak nan dari Ampang Gadang. Kami sapantun aie didieh, Nasi masak badan tabuang. Artinya : Pasar Mapun Batu Bertindih, Kelihatan dari Ampang Gadang. Kami sepantun air didih, Nasi masak badan terbuang. Tafsir sampiran : Ada pasar Mapun dan ada pula Batu bertindih, keduanya adalah nama tempat yang berdekatan, yang bisa terlihat dari Ampang Gadang. Dan Ampang Gadang ini juga nama suatu desa, yang mungkin terletak dilokasi yang lebih tinggi, misalnya dikaki sebuah gunung. Biasa di Sumatera Barat, suatu wilayah yang berbukit-bukit, bergunung dan berlembah. Bila kita berdiri pada suatu tempat didesa yang terletak dikaki gunung, lalu melepas pandang arah kelembah dimana terbentang sawah yang luas, biasanya dipinggir-pinggir sawah itu ada beberapa desa, yang juga kelihatan.Merupakan pemandangan yang biasanya indah sekali untuk dinikmati. Tafsir isi pantun : Isi pantun ini juga berupa kiasan, dengan mengambil perumpamaan air didih, yaitu ruap air yang berupa buih kental, yang terdapat dalam periuk disebelah atas, pada waktu orang menanak nasi, dan sudah mulai mendidih. Setelah nasi hampir matang, maka diaduk dulu dengan sendok, lalu ditutup rapat dan dibiarkan beberapa waktu. Sementara itu buih tadi yang mulanya terlihat bergelembung-gelembung dan berbunyi- bunyi seperti berpesta pora dan bergembira ria, tiba-tiba hilang lenyap saja tidak ada lagi bekasnya sedikitpun juga. Keadaan ini diibaratkan kepada seseorang yang bernasib malang, yang pada mulanya dia ikut berperan dan malah banyak jasanya dalam suatu peristiwa atau acara tertentu. Misalnya dalam mengurus suatu pesta perkawinan, mengurus penyelesaian suatu masalah, mengerjakan suatu program atau pekerjaan tertentu dan sebagainya. Setelah semuanya itu selesai, dia sudah dilupakan saja , sama sekali tidak lagi diingat, diindahkan, apalagi dibalas jasanya.
|