|
Page 4 of 24
Aie Bangih jalan ka Tiku, Basimpang jalan ka Sintuak. Buah manih, baun katuju, Sayang didalam batimbuluak. Artinya : Air Bangis jalan ke Tiku, Bersimpang jalan ke Sintuk. Buah manis, baunya harum, Sayang banyak ulatnya. Tafsir sampiran : Air Bangis dan Tiku adalah dua kota buah kecil yang terletak dipantai Barat Minangkabau. Kota Air Bangis letaknya lebih dekat dengan perbatasan Sumatera Barat dan Sumatera Utara, sementara Tiku lebih dekat ke Pariaman. Kalau melihat letak kedua kota ini dan gerakan lalu lintas penduduk, maka mestinya bunyi dari baris pertama adalah: Tiku jalan ke Air Bangis, bukan bukan sebaliknya. Akan tetapi seperti telah diterangkan, yang penting dalam pantun ini adalah persamaan bunyi huruf akhir. Dalam hal pantun diatas, bunyi huruf terakhir dari baris pertama harusnya “u” , dari itu maka kata Tiku diletakkan terakhir. Sintuk juga sebuah kota kecil atau kampung yang terletak agak kedalam, dari jalan lurus ditepi pantai disebelah Tenggara Tiku , bersimpang jalan ke Sintuk, ada jalan bersimpang arah ke Sintuk, yang terletak di Kabupaten Padang Pariaman. Air Bangis terletak di Kabupaten Pasaman dan Tiku di Kabupaten Agam. Tafsir arti pantun : Arti dari pantun tersebut yang dinyatakan dalam dua baris terakhir, adalah dalam bentuk kata kiasan, yang aslinya adal;ah sebagai berikut: Ada buah, mungkin buah mangga, buah durian atau buah lainnya yang rasanya manis dan baunya harum, pokoknya merangsang selera untuk mencicipinya. Akan tetapi setelah dibuka, ternyata buah itu busuk didalamnya, tidak bisa dimakan. “Sayang didalam batimbuluak”, artinya sayang sekali buah yang harum dan manis tersebut ternyata dibagian dalamnya batimbuluak (sejenis ulat buah). Jadi buah tersebut pada bagian luarnya terlihat bagus, baunya harum dan bila dimakan bagian yang baik rasanya manis. Akan tetapi bagian terbesar dari isi buah itu sudah busuk dimakan ulat , sehingga secara keseluruhan buah itu tidak ada nilainya. Tentu banyak yang dapat dikiaskan oleh pantun ini, antara lain ini mengibaratkan seseorang yang manis dimulut, akan tetapi dihatinya busuk atau jahat. Cukup banyak manusia yang seperti itu, dan cukup banyak pula orang yang terpedaya karena mulut manisnya itu. Bisa pula diibaratkan dengan cerita “rancak dilabuah”, seseorang yang penampilannya didepan umum (dilabuah) sangat meyakinkan, parlente, pakaiannya necis sekali, tahunya pakaian dipinjam, sementara dirumahnya dia sebenarnya adalah orang miskin yang tak punya apa-apa. Atau meng-umpamakan serang wanita muda yang setelah berpakaian dan berhias ternyata nampak seksi sekali, menggiurkan , tapi aslinya tidak demikian. Banyak lagi yang dapat “terkena” oleh pantun diatas, yang biasanya orang tidak tega menilainya atau mengatakannya secara terus terang, cukup berpantun saja sebagai sindiran halus.
Pisau Sirauik panjang hulu, Pa- ukie surau di Barangan. Diam di lauik lah dahulu, Salamo pulau balarangan. Artinya: Pisau Siraut panjang hulu, Untuk mengukir surau di Barangan. Diam dilaut-lah dahulu, Selama pulau berlarangan. Tafsir sampiran : Pisau yang bernama Siraut, diberi hulu atau tangkai yang panjang, maka bernamalah dia pisau siraut panjang hulu. Diberi nama siraut, karena memang biasa dipergunakan untuk meraut (meruncing) sesuatu. Pisau tersebut dipergunakan untuk meng-ukir surau yang terletak didesa Barangan. Tafsir isi pantun : Isi dari pantun ini adalah dalam bentuk kiasan, yang secara hsrfiah artinya seseorang atau mungkin juga beberapa orang bermaksud akan menuju suatu pulau, lalu dia atau mereka berlayar menuju pulau tersebut. Kemudian ternyata pulau itu berlarangan, artinya dilarang masuk. Akan tetapi niatnya untuk mendarat dipulau itu sudah bulat, dia pantang mundur. Untuk itu dia tidak kembali kepangkalan tempatnya mula-mula berangkat, dan tidak pula mau mengalihkan tujuannnya kepulau lain. Dia memutuskan untuk menunggu saja dilaut sampai larangan memasuki pulau itu dicabut. Biasanya ini dikiaskan kepada seorang pria atau anak muda, yang jatuh hati kepada seorang anak gadis. Dia sangat mencintai gadis itu dan sudah bertekad untuk mendapatkannya dan berbagai usa dia lakukan untuk itu. Akan tetapi cinta sipemuda itu belum berbalas. Anak gadis itu belum mau berpacaran, masih takut dengan laki-laki,mungkin karena masih belum dewasa. Demikian pula dengan orang tua anak itu belum berniat untuk mencarikan pasangan anaknya. Namun sipemuda tadi bersabar menunggu, dia tidak mau menarik cintanya, juga tidak mau mencari gadis lain, dia sabar menunggu sampai “larangan” itu dicabut. Tentu banyak lagi yang di-kiaskan oleh pantun ini, yang mengisahkan bagaimana kekerasan hati atau ketabahan seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang ditujunya,yang telah direncanakannya atau yang diidamkannya. Untuk itu dia tidak mudah berputus asa,apalagi patah hati, dia sabar menunggu sambil terus berusaha dan berdo’ a.
|