|
Page 5 of 24 Latiek – latiek tabang siang, Singgah manyasok bungo rayo. Aie satitiek dalam pinang, Sinan bamain ikan rayo. Artinya: Burung gelatik terbang siang, Singgah menghisap bunga raya. Air setitik dalam pinang, Disana bermain ikan raya. Tafsir sampiran : Latiek-latiek adalah nama sebangsa burung gelatik yang dalam sampiran pantun ini dikatakan sedang terbang. Dalam perjalanannya itu dia melewati bunga raya yang sedang kembang. Lalu dia singgah berhenti untuk menghisap madu bunga tersebut,kemudian melanjutkan perjalanannya. Tafsir isi pantun : Air setitik dalam pinang adalah merupakan kiasan yang secara harfiah menyatakan bahwa ada sedikit air dalam pinang. Tidak dikatakan apakah air itu ada dalam batang pinang atau dalam buah pinang. Walaupun air itu hanya sedikit, akan tetapi padanya sedang bermain ikan raya, yaitu sejenis ikan yang besar. Secara logika pernyataan ini sangat tidak mungkin. karena memang kiasan. Kiasan dari pantun ini sangat tajam sasarannya, bagi orang yang mengerti dan yang kena oleh sindiran pantun ini, akan sangat merasakannya. Dengan air setitik itu maksudnya sedikit kata-kata sindiran, mungkin hanya satu patah kata saja. Akan tetapi akibat bagi yang kena sindir sangat besar sekali. Sebagai contoh misalnya ada seorang anak orang kaya raya, sementara sudah menjadi pengetahuan umum bahwa harta kekayaan orang itu banyak tidak halalnya. Misalnya dia terkenal sebagai koruptor , sebagai perampok, lintah darat dan sebagainya. Kebetulan anak orang kaya tersebut bodoh disekolah, lalu ada yang menindirnya dengan mengatakan: “Itulah kalau dibesarkan dengan barang haram.” Kalau anak tersebut ada sedikit mempunyai hati nurani, tidak seperti bapaknya, maka sindiran tersebut akan dirasakan sangat berat dan memalukan. Selain dari pada itu kiasan dari pantun ini dapat pula mengarah kepada “nasehat”, petunjuk, pengajaran dan sejenisnya. Kata-kata nasehat dari orang tua atau dari orang yang disegani, mungkin kecil saja, hanya berupa satu perkataan atau satu kalimat, akan tetapi mengandung pengertian yang luas dan mendalam. Nasehat atau petunjuk tersebut sering berupa kata-kata mutiara, yang bisa pula ditafsirkan secara panjang lebar apa maksudnya. Siapa yang pernah membaca cerita kaba “Rancak Dilabuah”, akan mengetahui banyak sekali nasehat yang amat berharga dalam buku tersebut. Misalnya kalau seseorang akan pergi merantau, akan diberi nasehat oleh orang tua dengan mengatakan: “Kalau anak pergi merantau, induak cari dunsanak cari, induk semang cari dahulu”. Nasehat tersebut sangat dalam sekali artinya, yang pada intinya orang Minang yang pergi merantau disuruh menyatu dengan masyarakat setempat, secara bertahap dimulai lebih dulu dengan mencari induk semang. Ini terkait dengan kata mutiara lainny: “ Dimana langit dipijak, disana langit dijunjung” Yang dimaksud tentunya agar menyatu dengan adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat. Sebagai bukti bahwa orang Minang yang pergi merantau, selalu menuruti dan mempedomani nasehat tersebut, adalah kenyataan bahwa tidak ada “kampung Minang” dikota-kota lain di Indonesia ini, seperti halnya kampung Cina, kampung Jawa, Kampung Arab, kampung keling dan sebagainya. Ka hilie jalan ka Sumani, Sasimpang jalan ka Singkarak. Sa- ukua mangkonyo jadi, Sasuai mangkonyo rancak. Artinya: Ke hilir jalan ke Sumani, Sesimpang jalan ke Singkarak. Se ukuran makanya jadi, Sesuai makanya indah (rancak). Tafsir sampiran : Sumani adalah suatu desa yang terletak dekat danau Singkarak arah kekota Solok. Kalau kita berjalan dari Solok arah ke Singkarak, menghilirkan sebuah anak sungai yang mengalir kedanau (bukan jalan raya yang sekarang), maka sesampainya disuatu persimpangan jalan kita boleh memilih mau kemana. Kalau arah kehilir, menuju desa Sumani dan kalau bersimpang kekanan arah ke Danau Singkarak. Tafsir isi pantun : Isi pantun ini : seukuran makanya jadi, sesuai makanya rancak, secara harfiah artinya adalah mengenai pakaian yang diupahkan membuatnya kepada tukang jahit, ukurannya harus pas sehingga sesuai dengan ukuran badan yang punya pakaian itu, barulah orang yang itu akan rancak memakainya. Namun itu hanyalah berupa kiasan saja, arti yang sebenarnya adalah untuk menyatakan bagaimana pentingnya kesesuaian, keserasian, kesepakatan dan sejenisnya dalam segala hal yang menyangkut dengan kehidupan bermasyarakat. Bila tidak ada kesesuaian dan kesepatan, selalu bertengkar, saling cakar-cakaran, bahkan berkelahi satu sama lain, maka semua akan rusak , tidak rancak lagi. Apa yang dibuat atau yang direncanakan tidak akan berhasil. Termasuk negara kita ini, kalau mau rancak, bersepakatlah jangan berkelahi juga. Termasuk juga agama kita Islam, kalau mau maju dan agama ini bersyi’ar, bersatulah. “Sesungguhnya kaum muslimin itu bersaudara”. Bentuk persaudaraan itu adalah demikian rupa sehingga bila ada yang disakiti, yang lainnya akan ikut merasakan sakitnya.
|