Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Bundo kanduang
Limpapeh rumah nan gadang
Amban puruak pegangan kunci
Amban puruak aluang bunian
Pusek Jalo kumpulan tali
Hiasan dalam nagari
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Tafsir Pantun Minang (2) : Pantun Kiasan PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 02 December 2005
Article Index
Tafsir Pantun Minang (2) : Pantun Kiasan
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24


alun bakilek lah bakalam,
Bulan lah langkok tigo puluah.
Alun tasirek, lah takalam,
Raso lah tibo dalam tubuah.

 

Artinya :

Belum berkilat sudah kelam (gelap),
Bulan sudah cukup tigapuluh hari.
Belum tersirat, sudah terkalam (tertulis),
Rasanya sudah sampai kedalam tubuh.

Tafsir sampiran :
Kilat adalah satu fenomena alam yang diiringi dengan cahaya dan bunyi gemuruh.
Kalau kilat itu terjadi pada malam hari percikan cahayanya akan jelas sekali kelihatan, terang benderang. Akan tetapi terjadinya hanya sesaat saja kemudian gelap (kelam). Disini dikatakan bahwa kelam itu lebih dulu datangnya dari pada kilat. Bulan lah langkok tigopuluah, maksudnya sudah pas pada akhir bulan, besoknya sudah bulan baru. Walaupun dalam satu bulan ada yang 28, 29 dan 31 hari tapi yang lebih terkenal satu bulan itu adalah 30 hari.

Tafsir arti pantun :
Belum tersirat, apalagi terkatakan, tersirat saja belum, tetapi sudah tertuliskan. Rasanya sudah sampai kedalam tubuh, seumpama seseorang akan dipukul, belum dilakukan tapi rasa sakitnya sudah dirasakan. Ini juga merupakan satu perumpamaan yang menyatakan bahwa daya tangkap orang Minang itu sangat cepat, belum selesai seseorang menerangkan sesuatu, dia sudah mengerti maksudnya. Ini juga diungkapkan dengan kata mutiara: “Tahu dihereng dengan gendeng”
Orang-orang Minang tempo doeloe, memang sering berkomunikasi dengan bahasa kiasan, tidak dengan bahasa langsung seperti sekarang ini. Orang yang paling pintar, akan cepat sekali menangkap apa sebenarnya yang dimaksud oleh lawan bicaranya,walaupun itu disampaikan dalam bahasa kiasan yang rumit. Lalu dia akan menjawab dengan segera juga dengan bahasa kiasan, bahkan yang lebih rumit lagi Hal ini atau percakapan seperti ini biasa kita temukan pada upacara-upacara adat, pesta perkawinan dan sebagainya, suatu metoda komunikasi yang disebut dengan “pasambahan”. Sekarang ini tidak terlalu banyak lagi orang yang bisa melakukannya,walaupun dia sudah bergelar Datoek/kepala kaum.

 



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 12 guests and 16 members online
Generated in 9.43031 Seconds