Tafsir Pantun Minang (2) : Pantun Kiasan PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 02 December 2005
Article Index
Tafsir Pantun Minang (2) : Pantun Kiasan
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24


Dalam aie dapek di ajuak,
Dalam hati siapo tahu.
Sungguah kawek nan dibantuak,
Ikan di aie nan di tuju.

 

Artinya :

Dalamnya air dapat diukur,
Yang didalam hati siapa tahu.
Sungguhpun kawat yang dibentuk,
Ikan di air yang di tuju.

Tafsir sampiran :
Kalau ingin mengetahui berapa dalamnya air yang tergenang, disumur, ditelaga, didanau atau dilaut, dapat diukur dengan menggunakan meteran atau sejenisnya. Akan tetapi apa yang ada didalam hati seseorang, tak ada orang lain yang mengetahinya, hanya dia sendirilah yang mengetahui. Ini menyatakan bagaimana sulitnya mengetahui apa yang sebenarnya maksud yang terkandung dalam hati seseorang. Sementara berapapun dalamnya air yang ada ditengah lautan, dapat diukur.
Tafsir isi pantun:
Secara harfiah isi pantun ini menyatakan bahwa walaupun yang dibentuk itu adalah kawat, tapi yang dituju adalah ikan dilautan. Maksudnya sepotong kawat dibentuk sehingga menjadi sebuah pancing (kail). Tentu dengan cara meruncingnya , memotongnya dan membengkokkannya, sampai menjadi pancing. Dengan pancing itu dia akan memancing ikan dilaut. Itu adalah arti harfiahnya, namun yang dimaksud oleh pantun ini bukanlah itu. Pernyataan itu hanya sebagai kiasan saja.
Pantun ini menggambarkan bahwa orang Minang itu tidak suka tembak langsung, atau tembak duabelas pas, mereka lebih menyukai jalan melereng, jalan melengkung atau menyamping, tidak langsung kepada sasaran. Seperti dinyatakan dalam pantun ini, tujuannya yang sebenarnya adalah untuk menangkap ikan dilaut, tetapi dia tidak langsung pergi kelaut itu dengan membawa pancing, jaring atau alat penangkap ikan lainnya. Dia ambil kawat (biasanya jari-jari sepeda), dia runcingkan ujungnya dengan kikir, dibengkokkan, dipotong, sehingga terbentuklah sebuah pancing. Kemudian barulah dia pergi kelaut untuk memancing ikan.
Demikian pula misalnya kalau ada seorang pemuda yang jatuh hati pada seorang gadis, dia bermaksud akan mempesunting gadis itu menjadi isterinya. Dia tidak langsung mendatangi gadis itu merayunya dan melamarnya. Dia dekati dulu kalau ada kakak gadis itu, kemudian orang tuanya dan familinya yang lain. Kalau semua sudah akrab, dan dia merasakan bahwa permintaannya tidak akan ditolak, barulah dia menyhampaikan maksud hatinya yang sebenarnya, melamar gadis itu.

 



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >




Generated in 9.86434 Seconds