Tafsir Pantun Minang (2) : Pantun Kiasan PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 02 December 2005
Article Index
Tafsir Pantun Minang (2) : Pantun Kiasan
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24


alah bakarih samparono,
Bingkisan Rajo Majopahit.
Tuah basabab bakarano,
Pandai batenggang dinan sampik.

 

Artinya:

Sudah berkeris yang sempurna,
Bingkisan Raja Majapahit.
Didapat tuah ada sebabnya,
Pandai bertenggang diwaktu sempit.

Tafsir sampiran :
Pada masa dahulu pakaian seorang laki-laki baru dianggap lengkap dan sempurna bila ada kerisnya. Pakai celana longgar, baju semacam baju koko, pakai selempang kain dan pakai destar, lalu keris diselipkan dipinggang bagian depan. Biasanya yang jadi masalah adalah keris itu, tidak semua orang memiliki keris, biasanya yang mempunyai keris itu hanyalah para bangsawan, sang pangeran atau putra mahkota. Pada sampiran pantun diatas disebutkan bahwa keris sudah ada yang berasal dari Raja Majapahit, yang dikirimkan dalam bentuk bingkisan.

Tafsir isi pantun :
“Didapat tuah ada sebabnya”: maksudnya bahwa ada seseorang yang mendapatkan tuah, dan itu ada sebab karenanya. Tuah itu adalah ketenaran, kemasyhuran, kepopuleran dan sejenisnya. Menurut pantun ini, “tuah” itu didapatnya karena “pandai batenggang diwaktu sempit”. Memang seseorang yang berhasil menjadi “juru selamat” pada waktu sempit, pada waktu krisis, disebabkan oleh ide, saran maupun programnya, masyarakat bisa terhindar dari krisis. Krisis atau situasi “sempit” itu dapat dalam berbagai bentuk, misalnya krisis ekonomi (negara atau rumah tangga), krisis kepemimpinan, krisis akhlak, krisis sakit, krisis persatuan dan kebangsaan dan banyak lagi macamnya krisis itu.
Pantun ini juga mengisyaratkan bahwa “tuah” itu tidak bisa didapatkan dengan gratis, tapi harus ada usaha yang menonjol yang akibat baiknya dapat dirasakan oleh orang banyak. Tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri, tetapi bermanfaat untuk masyarakat, untuk orang banyak, bahkan untuk alam sekitar. Sesuai dengan ajaran agama kita berusahalah menjadi: “Rahmatan lil-alamin”, membawa rahmat untuk seluruh alam ini. Hendaknya tuah didapatkan dengan cara itu, bukan dengan kekuasaan yang tak terbatas sepertri halnya Fir’aun.

Bali kipeh sarato pahek,
Latak di kaki padupoan.
Putieh kapeh dapek dili-ek,
Putieh hati baka-adaan.

Artinya:

Beli kipas beserta pahat,
Letakkan dikaki pedupaan.
Putih kapas dapat dilihat,
Putih hati berkeadaan (ada buktinya).

Tafsir sampiran :
Antara kipas dan pahat itu sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali; pemakaian kedua kata itu disini hanya untuk mengambil bunyi yang sama dengan arti pantun. Kipas dan pahat itu dibeli, lalu diletakkan dikaki pedupaan. Pemakaian kata pedupaan disini juga hanya sekedar mendapatkan akhiran yang sama , apalagi benda yang namanya “dupa”, tak ada sama sekali hubungannya dengan masyarakat Minang yang didominasi oleh ummat Islam.

Tafsir isi pantun :
Putih kapas dapat dilihat, itu artinya menyatakan bahwa kalau ada yang mengatakan bahwa kapas itu putih, memang dapat dilihat dengan mata kepala. Kapas itu memang putih, kalau warna lain itu bukan kapas namanya. Tapi kalau ada yang mengatakan bahwa hati si Anu adalah putih bersih (suci), tidak akan dapat dilihat dengan mata, atau tidak dapat dilihat secara fisik. Apabila dikatakan bahwa hati seseorang putih bersih suci, harus dapat dilihat dari tindakannya, sifatnya atau perbuatannya. Pokoknya harus ada bukti yang menyatakan bahwa orang itu hatinya baik.

 



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >




Generated in 10.30345 Seconds