Tafsir Pantun Minang (2) : Pantun Kiasan PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 02 December 2005
Article Index
Tafsir Pantun Minang (2) : Pantun Kiasan
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24


Kamunieng batangnyo kokoh,
Ditutuah batambah tinggi.
Barundieng jo urang bodoh,
Bak alu pancukie duri.

 

Artinya:

Kemuning batangnya kuat,
Dipangkas bertambah tinggi.
Berunding dengan orang bodoh,
Seperti alu pencongkel duri.

Tafsir sampiran :
Kemuning adalah nama sebangsa pohon, dalam pantun ini dikatakan bahwa batang pohon itu kuat atau kokoh. Setelah dipangkas pohon kemuning itu bertambah tinggi. Lagi-lagi disini pemakaian kata tinggi adalah untuk mendapatkan persamaan bunyi. Sebab kalau satu pohon dipangkas, tak mungkin dia akan bertambah tinggi. Kal;au dikatakan bertambah rimbun mungkin cocok, tapi bunyinya lain.

Tafsir isi pantun :
Apabila kita berunding atau berdiskusi dengan orang yang bodoh, atau katakanlah orang yang kurang pintar, maka ibaratnya sama dengan alu pencongkel duri.
Alu adalah satu alat dari kayu yang dipergunakan untuk menumbuk padi. Orang dulu menumbuk padi untuk dijadikan beras, menggunakan lesung dan ditumbuk dengan alu.
Alu itu besar dan berat, panjangnya kira-kira 1,5 meter, ujung pangkalnya dibuat tumpul, karena akan digunakan untuk menumbuk padi.
Kalau seseorang kena duri apakah telapak kakinya atau tangannya, maka untuk mencongkelnya, biasa digunakan jarum yang halus. Sangat tidak mungkin mencongkel duri itu dengan menggunakan alu. Kalau dipaksakan juga maka duri itu tidak akan keluar, bahkan mungkin akan tertekan dan semakin masuk kedalam daging. Ini mengibaratkan bahwa berunding dengan orang bodoh itu adalah sesuatu yang tidak mungkin, tidak akan nyambung dan tak ada gunanya.

 



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >




Powered By PageCache
Generated in 0.07892 Seconds