|
Pituah |
Adat babarih babalabeh Baukua jo bajangko Tungku nan tigo sajarangan Patamo banamo alua jo patuik Kaduo banamo anggo tanggo Katigo banamo raso pareso |
|
|
Masjid di Pariaman Beratap Tumpang |
|
|
|
|
Written by St Trikariastoto
|
|
Saturday, 03 December 2005 |
Arsitektur masjid di Indonesia saat ini banyak didominasi atap kubah. Padahal, sebenarnya Indonesia memiliki keragaman bentuk atap masjid yang mencirikan arsitektur tradisional suatu daerah. Di Pariaman, daerah di pesisir barat Sumatera Barat, ternyata masih dapat ditemukan arsitektur masjid dengan bentuk atap khas dan berbeda dari arsitektur masjid di daerah lain Indonesia. Meskipun terletak di Sumatera Barat, jangan membayangkan arsitektur masjidnya bergaya arsitektur Minangkabau.
Masjid di Pariaman Beratap Tumpang St Trikariastoto Arsitektur masjid di Indonesia saat ini banyak didominasi atap kubah. Padahal, sebenarnya Indonesia memiliki keragaman bentuk atap masjid yang mencirikan arsitektur tradisional suatu daerah.
Di Pariaman, daerah di pesisir barat Sumatera Barat, ternyata masih dapat ditemukan arsitektur masjid dengan bentuk atap khas dan berbeda dari arsitektur masjid di daerah lain Indonesia. Meskipun terletak di Sumatera Barat, jangan membayangkan arsitektur masjidnya bergaya arsitektur Minangkabau. Jika berkunjung ke Jalan Lubuk Binturun, Kota Padang (daerah ini dulunya merupakan bagian dari Pariaman sebelum Kota Padang mengalami pemekaran), ada dua masjid lama yang masih kokoh berdiri, yaitu Masjid Raya Bungo Pasang dan Masjid Raya Ikur Koto. Keduanya diperkirakan dibangun tahun 1930-an.
Meskipun dibangun pada masa penjajahan Belanda dan mengadopsi berbagai bentuk arsitektur, menurut berbagai pihak, masih menampakkan ciri arsitektur masjid khas Pariaman, yaitu menggunakan atap tumpang bertumpuk tiga yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Dari sini timbul rasa penasaran, seperti apa sebenarnya arsitektur masjid khas Pariaman. Dalam arsitektur masjid, atap merupakan faktor penting karena menjadi perwujudan identitas dan nilai simbolisasi tertentu. Jika diperhatikan, atap tumpang pada kedua masjid tersebut hampir mirip dengan atap masjid kuno di Jawa Tengah seperti Masjid Kudus dan Masjid Demak, hanya saja proporsinya berbeda. Tampaknya penggunaan atap tumpang tidak terlepas dari sejarah panjang masa lalu daerah ini. Sebelum dikuasai Aceh dan menjadi pusat penyebaran agama Islam di Sumatera Barat pada abad ke-14, daerah ini dipengaruhi kuat oleh budaya Hindu. Jejaknya sampai sekarang masih tinggal, yaitu atap tumpang yang sebenarnya merupakan transformasi atap meru. Atap Masjid Raya Bungo Pasang pada dasarnya merupakan atap tumpang tiga lapis, namun lapis teratas ditinggikan dan diberi tambahan atap kubah. Demikian juga pada Masjid Raya Ikur Koto, pada puncak atapnya dimodifikasi menjadi bentuk segi delapan dan diberi hiasan khas Minangkabau. Simbol bulan sabit dan bintang seperti umumnya masjid justru diletakkan di atap bagian mihrab dan atau atap kecil lainnya. Atap kubah di kedua masjid itu tampaknya lebih sebagai kompromi terhadap meluasnya penggunaan atap kubah sekitar awal abad ke-20. Penggunaannya pun tidak terlalu dominan, yaitu hanya sebatas hiasan puncak atap atau atap kecil di atas mihrab atau bangunan lain. Kedua masjid itu memiliki struktur ruang yang terdiri dari tiga bagian, yaitu ruang utama, mihrab, dan bagian serambi depan. Struktur ruang ini tampak dari luar karena masing-masing memiliki atap sendiri-sendiri. Tidak ada penonjolan menara untuk mengumandangkan azan. Ciri khas ada pada serambi depan yang kadang dibuat bertingkat dan digunakan sebagai pengganti menara azan, meskipun sebenarnya juga tidak dapat dikatakan sebagai menara karena cenderung atapnya tidak ingin melebihi tinggi atap bangunan utamanya. Pada zaman dulu, rata-rata masjid besar di Pariaman memiliki kolam di depannya.
Pada Masjid Raya Bungo Pasang kolamnya masih ada, bahkan cukup luas dan di tengah kolam diletakkan bangunan seperti gazebo beratap kubah. Dalam perkembangannya, banyak kolam seperti ini mulai dihilangkan atau ditimbun menjadi halaman luas di depan masjid, seperti pada Masjid Raya Ikur Koto. Arsitektur vernakular Rasa penasaran untuk mencari bentuk asli atap tumpang khas Masjid Pariaman terjawab ketika penulis menjumpai masjid desa dengan atap tumpangnya yang khas di pinggir kota Pariaman dekat dengan pantai, yaitu di Desa Tanah Padang, Ulakan Tengah. Masjidnya sangat bersahaja, terletak di tengah himpunan pohon kelapa. Struktur ruangnya juga terdiri dari tiga bagian yang tampak dengan adanya tiga atap. Mihrab ada di sisi barat, ruang utama dikelilingi teras, dan serambi depan di sisi timur dibuat berlantai dua. Masing-masing bagian menggunakan atap tumpang berlapis tiga berbentuk piramida terpancung di atasnya. Atap bagian ruang utama lebih besar dan di puncaknya diletakkan hiasan mirip Masjid Ikur Koto maupun Bungo Pasang. Bangunan ini cukup bersahaja, tidak ada hiasan ukiran apa pun menghiasi bangunannya, namun demikian masjid ini sungguh menarik dan enak dipandang. Proporsi atap dan bangunannya sangat pas, baik pada pembagian ketiga ruangnya yang simetris horizontal maupun perbandingan antara badan bangunan dan atapnya secara vertikal. Pasti ada aturan tertentu untuk memperhitungkan pembagian lapis dan proporsi atapnya. Bahan atapnya sudah menggunakan seng, namun kata orang dahulunya menggunakan bahan atap rumbia. Sayangnya tidak ditemukan informasi pasti mengenai tahun pembuatan Masjid Ulakan Tengah ini. Berdasarkan elemen arsitektur dan bahan bangunannya, diperkirakan dibangun tahun 1980-an. Bentuk arsitektur masjid yang khas seperti ini menunjukkan masyarakat setempat masih mempertahankan tradisi lama pembangunan masjid dan menurut penduduk setempat secara gotong royong.
Dengan demikian, kekhasan ini dapat dikategorikan sebagai arsitektur vernakular Pariaman. Pengaruh perantau Di jalur jalan yang sama penulis juga menjumpai lagi dua masjid lain dengan tipologi atap yang sama, tetapi lebih besar dari Masjid Ulakan Tengah. Meskipun sudah mengalami perubahan, namun masih menampakkan keaslian bentuk atapnya. Masjid pertama terletak di Pantai Tiram, Nagari Ulakan. Atap pada bangunan utama dan mihrabnya masih menunjukkan keaslian. Sayangnya bagian serambi depannya sudah tidak ada, terpotong pelebaran jalan. Hal ini tampak pada terasnya yang persis berhadapan dengan jalan aspal. Meskipun kolom terasnya diganti beton cor berbentuk kolom Yunani, keanggunan bangunannya masih tampak dari atapnya yang tinggi dan muncul di sela-sela kerimbunan pepohonan.
Masjid lainnya ada di Desa Manggopoh Ujung, bentuknya lebih besar dan sedang dalam taraf pengembangan. Tampak masyarakat setempat cukup arif dalam pengembangan masjidnya, karena bagian yang dianggap penting yaitu bangunan utama dan mihrab tidak diubah sama sekali. Pengembangan hanya pada bagian jalan masuk. Bangunan baru sengaja dibuat agar ketinggian atapnya tidak menandingi tinggi atap bangunan utamanya. Meskipun dimensi ruangnya lebih luas, berlantai dua dan atap tumpangnya berlapis dua. Di masjid ini ditemukan penggunaan atap gonjong, namun hanya sebatas hiasan pada gerbang halaman masjid.
Masyarakat Pariaman rata-rata perantau dan biasanya untuk menunjukkan keberhasilannya, mereka akan membangun kembali desanya. Salah satunya adalah dengan membangun masjid desa. Kebiasaan ini turut memberi kontribusi pada hilang dan berubahnya masjid-masjid lama yang memiliki arsitektur khas Hal ini karena biasanya mereka membawa pula khazanah arsitektur masjid dari luar, sehingga saat ini arsitektur Masjid Pariaman dengan atapnya yang khas sudah jarang ditemui.
St Trikariastoto Pengajar di Jurusan Arsitektur FTSP Universitas Persada Indonesia YAI, Sumber kompas, foto koleksi cimbuak
Trackback(0)
|
|
Last Updated ( Wednesday, 07 December 2005 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Online Sekarang |
|
We have 7 guests and 13 members online |
|