Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Pisau gadang pisau tambatu
Dibaok urang ka taluak bayua
Di makan anak dari salido
Rumah gadang basandi batu
Adat basandi alua
Alua nan kaganti rajo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Kopi Buat Menantu PDF Print E-mail
Written by Leon Agusta   
Wednesday, 14 December 2005
Munah sedang asyik menyulam sarung bantal buat bayinya yang sudah segera akan lahir ketika ibunya tiba-tiba memegang lututnya dan duduk di hadapannya. Ia agak terkejut dan tak mendengar sedikitpun langkah ibunya. Pintu kamar pun sudah tertutup. Jahitannya jatuh di pelukannya. Ditatapnya ibunya yang juga menatapnya. Ia menangkap sesuatu yang mengejutkan dari pandangan ibunya hingga matanya sendiri terbeliak dan merasa sulit untuk bernafas. .

"Gunjingan orang-orang itu bukan sekadar desas-desus," kata ibunya setengah berbisik. Pikiran Munah cepat melayang kepada seorang perempuan yang selalu ikut bus suaminya pulang pergi dari Bukittinggi ke Pekanbaru. Menurut cerita yang sering di dengarnya, perempuan itu selalu duduk di samping suaminya yang jadi sopir.

Cerita lain yang lebih mengerikannya tentang mereka cepat menggemparkan hati dan jantungnya hingga dadanya menggigil. Konon mereka selalu menginap di hotel yang sama dan di tempat-tempat bus berhenti untuk makan. Mereka selalu terlihat seperti sepasang kekasih atau suami istri "Mereka akan kawin. Perempuan itu sudah hamil." Jahitan di pangkuannya terjatuh ke lantai mendengar ucapan ibunya itu. Tubuhnya berkeringat, pusing, akhirnya jatuh terkulai di pinggir tempat tidur. Ibunya cepat menolong. Dituntunnya Munah sampai ia bisa berbaring. "Lebih baik ibu yang mengatakan dari pada kau mendengar dari orang lain. Kalau dia pulang minggu depan, kau tidak akan terlalu kaget mendengar apa yang hendak diucapkannya. Kau harus kuat melalui cobaan ini. Ingatlah keselamatan anakmu. Jangan hal itu terlalu kau pikirkan sampai kau melahirkan. Mintalah kekuatan dengan lebih banyak berdoa kepada Tuhan, semoga kandunganmu dan kau sendiri diselamatkan-Nya," kata ibunya yang duduk di sampingnya. Munah mendengarkannya dengan mata terpejam. Ucapan ibunya terdengar seperti suara yang datang dari tempat yang sangat jauh. Sayup hingga ia merasa setengah bermimpi. Tubuhnya terasa sangat lemas dan ia tak dapat bergerak. Senja sudah merayap ke dinding-dinding rumah. Sebelum tertidur Munah masih mendengar ibunya menutupkan jendela dan menyalakan lampu di kamarnya. Sehabis sembahyang Isya, ayah Munah duduk berbincang-bincang dengan istrinya.

Dulunya ia juga seorang sopir antar kota. Segala cerita tentang menantunya tak ada yang asing sedikit pun baginya. Namun ia merasa sangat marah. "Ini adalah hukum karma," kata istrinya yang dulu juga pernah dimadu ketika Panduko kawin dengan orang kedai tempat bus selalu istirahat. Waktu itu Munah baru berumur tiga tahun. Untunglah Panduko cepat bercerai dan kembali kepadanya. Kemudian Panduko masih kawin dua kali lagi. Tapi segera pula istri-istrinya itu dicerai karena busnya pindah trayek ke kota-kota lain. Panduko tidak membantah istrinya meskipun marahnya tambah menyala. Ia duduk tersandar. Wajahnya kelihatan gelap dalam cahaya samar kamar yang hanya disinari lampu minyak.

Matanya nyalang terbuka tanpa memandang sesuatu kecuali pancaran dari pikiran perasaannya yang mengembara jauh bersama marahnya. "Ada persoalan laki-laki yang tak boleh dicampuradukkan dengan persoalan perempuan. Ini yang aku mau kau mendengarkannya sekarang. "Suara Panduko terdengar berat menggelegar. "Kau harus menjaga Munah lahir batin. Hatinya harus ditenangkan. Bayinya harus selamat. Ia harus menjaga diri dan keselamatannya. Lakukanlah apa saja untuk dia dan anaknya. Jangan segan-segan mengeluarkan uang kalau perlu," ia melanjutkan. Ia melirik istrinya seakan menyelidik apakah ucapannya didengarkan atau tidak. "Kalau anaknya sudah lahir, kau harus menanyai Munah. Apakah ia masih suka kepada suaminya atau tidak. Nanti bagaimana jawabannya kau beritahukan kepadaku. Agar aku bisa memikirkan apa yang harus aku lakukan. Kita harus menjaga jangan sampai kita menjadi bahan tertawaan orang kampung." Munah melahirkan dengan selamat. Meskipun bayinya lahir sedikit cepat dari perhitungannya satu atau dua minggu, namun bayi itu cukup sehat. Munah merasa lega seperti sehabis melintasi terowongan maut. Keasyikan dengan si bayi, laki-laki, membuat ia tak begitu marah pada suaminya yang masih belum pulang. Namun rasa resah dan getir sesekali hinggap juga dihadapannya. Dengan tenang dicobanya menghitung hari.

Seharusnya suaminya sudah pulang lima hari sebelum anaknya lahir. Dia akan istirahat di rumah selama tiga hari untuk kemudian pergi lagi selama dua minggu. Begitulah kebiasaannya. Ketika seminggu cucunya lahir menantunya belum juga pulang, Panduko bermaksud untuk pergi ke Bukittinggi. Ia mau menunggu dan memberitahukan bahwa Munah sudah melahirkan. Tapi sebelumnya ia ingin bicara lebih dahulu dengan istrinya. "Tampaknya ia sudah tak peduli dengan suaminya. 'Aku sudah tak menginginkannya, biarlah ia pergi. Enyah dari rumah ini,' begitu katanya. Kemudian ia meminta agar kunci bus diambil dan dibawa pulang karena bus itu dibeli dengan uang hasil perhiasannya," kata istrinya. Ucapan itu disimpulkan Panduko sebagai pernyataan ingin bercerai dari Munah. Ia tak keberatan tentang hal itu. Tapi orang yang tahu segala sifat orang-orang di kampungnya ia merasa perceraian saja bukanlah penyelesaian yang mencukupi. "Orang akan mengejek Munah dengan mengatakan suaminya direbut orang, seorang perempuan pedagang keliling lagi.

Itu akan sangat menyinggung perasaan. Terlalu pahit buat diterima. Bukan hanya oleh Munah tapi juga kita semua," kata Panduko. "Tidak baik kalau kita memaksa Munah untuk menerimanya begitu saja kembali," kata istrinya. Ia teringat segala penderitaan yang pernah dialaminya ketika suaminya kawin sekali lagi. Ia tak berdaya kecuali menerima begitu saja. Ia tak ingin Munah mengulangi penderitaannya. "Cukuplah aku saja yang makan seperti dulu. Itu akan lebih memalukan dan menyakitkan. Terutama bagi kaum perempuan," ia melanjutkan. "Bukan itu yang aku maksudkan," bentak Panduko. Lelaki itu harus mendapatkan hukuman lebih dari hanya sekedar perceraian." Mereka terdiam. Ucapan itu membawa mereka pada pikiran panjang dan berbelit-belit. Ada banyak jalan yang bisa ditempuh orang kampung bila mereka berhadapan dengan masalah seperti itu.

Besok paginya Panduko sudah naik bus dari desanya di pinggir danau Maninjau menuju Bukittinggi. Menurut perhitungannya hari itu, Mantari, menantunya, akan berada di Bukittinggi menunggu muatan pada hari pasar untuk dibawa ke Pekanbaru. Ia berusaha menikmati pemandangan di jalan mendaki berkelokan untuk menenangkan perasaannya. Danau yang memutih diselimuti kabut pagi tampak tidur dalam pelukan bukit-bukit hijau yang melingkarinya. "Anak sudah lahir hari Jumat yang lalu. Insya Allah anak dan ibunya selamat," kata Panduko. Mereka bertemu di kedai nasi dekat stasiun bus ketika Mantari sedang makan pagi. Ditunggunya sampai menantunya selesai makan untuk mulai bicara. Mantari sangat terkejut karena tak mengira pagi itu ia akan bertemu dengan mertuanya.

Ia kerja keras untuk menentramkan hatinya dan berusaha bersikap sewajar mungkin. Disuguhkannya sebatang rokok Commodore buat Panduko. Mereka merokok bersama-sama. Panduko menolak ketika ia dipersilakan makan. "Syukur Alhamdulillah," sahut Mantari. "Tapi kenapa Mak Panduko sendiri yang susah-susah datang memberitahukan? Kan bisa menyuruh orang lain," ia melanjutkan. Panduko tidak menyahut. Sikap diamnya itu membuat Mantari merasa kecut. Ia memang takut dengan mertuanya yang dulunya memang majikannya ketika masih menjadi kenek bus. Dari Panduko ia sudah mengenal segala seluk-beluk urusan bus sampai ia sendiri akhirnya diajar menjadi sopir. Waktu Panduko merasa sudah cukup tua untuk membawa busnya sendiri dan ia kawin dengan Munah, ia dibelikan bus baru dan diizinkan mengendalikan bus itu sebagai majikan. "Kalau Mantari pulang biarlah bus tidak jalan. Antarkan saja ke bengkel sambil memeriksa kerusakan-kerusakan kecil. Aku harus pulang sekarang juga," kata Panduko. Ia bangkit dari tempat duduknya sebelum Mantari sempat memberi jawaban. Otak Mantari berputar sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Ia tak dapat menduga apa sesungguhnya yang ada dalam kepala mertuanya. Ia teringat Munah yang baru saja melahirkan. Ia teringat Rusana yang baru saja dua minggu dinikahinya. Perempuan itu juga sudah hamil dan berhenti berdagang. Ia berjanji akan pulang ke tempat Rusana hari itu. Rumahnya di perbatasan luar kota. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah Rusana dan mengatakan ia terpaksa tak bisa menginap di rumah karena harus segera berangkat lagi ke Pekanbaru.

Bahwa bus sudah menerima muatan, dapat dijadikan alasan untuk membuat Rusana percaya. Kemudian dia akan pulang ke rumah Munah dan menemui anaknya. Pertengkaran ternyata tak dapat dielakkan dengan Rusana. Perempuan itu bersikeras untuk ikut ke Pekanbaru hari itu karena Mantari mengatakan tak akan menginap. Satu tamparan nyaris melayang di kepala Rusana sebelum perempuan itu bisa dijinakkan. Ia naik bus penghabisan dari Bukittinggi ke Maninjau. Sampai di rumah menjelang jam sembilam malam. Sebelum mengetuk pintu yang pertama didengarnya ialah tangis bayi. Tangis anaknya. Semua penghuni rumah masih bangun, belum ada yang tidur. Mantari mendapat sambutan sungguh diluar dugaannya.

Masakan istimewa terhidang penuh di meja makan. Malam itu berempat mereka makan bersama. Munah ikut makan sambil memomong anaknya di pangkuan. Satu panci besar sup yang masih panas, rendang hati dan limpa, pengat ikan gurame dengan asam pala dan singgang paha ayam membuat suasana di meja makan seperti suatu perhelatan. Mantari merasa seperti berada pada hari-hari minggu pertama perkawinannya dengan Munah. Perasaannya sangat lega. Ia yakin, semuanya itu adalah hasil kebijaksanaan Panduko. Mertuanya yang mengerti dan berpengalaman karena cukup lama hidup dalam dunia sopir-sopir trayek antar kota. Ia sangat menghormati kebijaksanaan mertuanya itu yang penuh pengertian. 'Ia pun dulunya juga seperti aku. Bahkan mungkin lebih gila lagi. Itu makanya ia tak bisa marah,' kata Mantari diam-diam dalam dirinya sendiri. Dengan lahapnya ia bersantap karena memang sangat lapar. Munah, meskipun dengan bayi di pangkuannya masih sempat melayani Mantari mengambilkan potongan singgang ayam dan rendang hati.

Mertuanya bergantian menyuguhkan satu sajian dan yang sebagaimana layaknya melayani menantu yang sangat disayangi. Sehabis makan Mantari disajikan secangkir kopi panas. "Kopi itu ibu sendiri yang merendang dan membuatnya tadi siang," kata Panduko sambil melirik istrinya. "Panen kopi kita kali tahun ini tampaknya akan lebih banyak dari biasanya. Buahnya sangat lebat. Kita beruntung karena harga kopi sekarang sedang tinggi di pasaran, "Panduko bercerita sesudah mereka selesai makan. Cerita menjelang mata mengantuk. Mantari merasa mendapat bujukan. 'Tentu begitu juga cara perempuan ini membujuk Panduko dulunya setiap dia kawin dengan perempuan lain' pikir Mantari lagi tanpa mengucapkannya. Ia menikmati pikirannya itu. Ia dapat merasakan kebenaran dari kebijaksanaan itu. Di rumah Rusana sendiri ia tak pernah mendapat perlakuan yang seperti itu.

Malam itu ia menemukan satu perasaan yang berbisik dari hatinya, bahwa perkawinan dengan Rusana hanyalah merupakan satu resiko dari keisengan yang tak akan bertahan lama. Besok paginya Mantari tak dapat bangun dari tempat tidurnya. Ia muntah darah dan batuk tak henti. Gumpalan darah hitam berhamburan dari mulutnya. Berserakan di lantai kamarnya. Kulit dan wajahnya membiru. Panduko yang datang menemuinya setelah diberi tahu Munah berusaha menolongnya dengan mengucapkan mantra-mantra. Ia menyuruh istrinya mencari ramuan obat-obatan berupa sekian jenis daun-daunan untuk diminumkan pada Mantari. Panduko tidak memanggil dokter karena semua sependapat penyakit Mantari itu tidak dapat ditolong oleh dokter, yang bagaimana pun pintarnya. Juga karena ia sendiri seorang dukun yang banyak tahu seluk-beluk penyakit di kampung-kampung. Selama menjadi sopir ia sudah berkenalan dan belajar banyak tentang itu. "Lain kali Mantari harus lebih hati-hati kalau mau makan atau minum di sepanjang perjalanan. Hidup kita sebagai sopir yang selalu dalam perjalanan tak akan selalu beruntung. Kita harus juga belajar melindungi diri sendiri.

Mana tahu, selalu saja ada orang yang tak senang atau iri hati terhadap kita. Apalagi sekarang Mantari punya bus model terbaru," kata Panduko ketika Mantari sedikit agak reda batuknya. Ketika meninggalkan kamar Mantari, Panduko disambut istrinya dengan senyum penuh pengertian. Ia sendiri pun tersenyum karena kopi yang disajikan istrinya malam itu, ia sendiri yang meramu bubuknya. Terbukti cukup mujarab sebagaimana diharapkan. Mantari tak pernah bangun lagi. Tiga hari kemudian dia meninggal dunia setelah memuntahkan bungkahan darah cukup banyak dari mulutnya. "Simpanlah bubuk itu. Kau bisa menggunakannya bila aku kawin lagi," kata Panduko sambil bergurau kepada istrinya. ***

Sumber http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=16999

Trackback(0)
Comments (1)add comment

benhur said:

nauzubilahi min zalik
 
report abuse
vote down
vote up
January 16, 2006
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Thursday, 15 December 2005 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 15 guests and 11 members online
Powered By PageCache
Generated in 1.57891 Seconds