|
Written by Buletin Sungai Puar
|
|
Friday, 20 August 2004 |
Dimano disalai palito Dibaliak telong nan batali Dimano mandapek niniak kito Di lereng gunuang barapi
Gunung barapi yang dimaksud dalam gurindam adat Minangkabau, adalah gunung yang disebut Gunung Merapi.
Menurut Tambo Minangkabau, orang Minangkabau turun dari gunung tersebut. Kisahnya sewaktu Iskandar Zulkarnaini dengan ketiga puteranya mengarungi lautan samudera selagi ada air bah besar, maka putera bungsunya, Maharaja Diraja berlayar ke sebelah selatan belahan bumi. Ia berlabuh pada sesuatu yang kelihatan terapung-apung dalam air bah, yang kemudian ternyata puncak Gunung Merapi. Maharaja Diraja dan pengikut-pengikutnya turun dari kapal, lalu beristirahat dan sebagian menetap dan mendirikan taratak, beberapa orang anak buah kapalnya beserta nakhodanya yang turun dari kapal, membuat tenda di darat, bekerja dan memperbaiki perkakas yang diperlukan. Nakhoda langsung memimpin pekerjaan dalam pertukangan itu, sampai sekarang termashurlah panggilan kepala tukang itu "Nankodoh" (Nahkoda). Daerah yang ditempati itu seperti muara batang air sungai yang di kiri kanannya bertumbuhan batang "puar". Konon daerah tempat itulah dulunya sampai sekarang bernama "Ampuah" (tempa yang pertama ditempuh). Lama kelamaan air makin susut juga dan batang pua saja yang semakin banyak tumbuh dan yang tampak, maka terkenallah taratak yang pertama itu menjadi "Sungai Pua". Sedangkan bakat berpandai besi sejak dari dahulu sampai sekarang hanyalah disekitar batang pua itu, yaitu di Limo Suku sungai Pua. Limo Suku berasal dari orang-orang apar besi itu, terdiri dari 5 orang (lima suku). Sampai sekarang setiap pekerjaan di Apar Besi yang sempurna harus 5 orang. Lama-lama berkembang juga, sehingga menjadi sebutan : Lima jurai Sungai Pua. Wallahu a'lam bisshawab !
Disadur Oleh : Erwin Moechtar Sumber : BSP 15 Juni 1986
Trackback(0)
|
|
Last Updated ( Saturday, 21 August 2004 )
|