Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 06 January 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24

Gunuang Talang baula nago,
Buluah rapek rambahlah rumpunnyo.
Muluik manih bicaro duto samato,
Tapadayo malah den kironyo.

Artinya:

Gunung Talang ber-ular Naga, Buluh rapat rambahlah rumpunnya.
Mulut manis bicara dusta semata. Terpedaya malah saya kiranya.

Tafsir sampiran :
Gunung Talang adalah sebuah gunung yang terletak antara Solok dan Alahan Panjang. Dikaki gunung ini terletak desa Koto Anau, yang pernah terkenal sebagai sentra produksi cengkeh di Indonesia, juga terletak danau kembar, Danau Diatas dan Danau Dibawah, tempat wisata yang indah. Terletak pula dikaki gunung ini desa Sukarami dimana berdiri sebuah institusi Penelitian Pertanian semenjak tahun l952. Bersebelahan dengan Sukarami terletak desa Kayu Aro yang terkenal dengan restoran dendeng batokok. Kantor Bupati Solok yang baru sekarang ini berlokasi pada kedua desa ini. Dan daerah ini sekarang sedang tumbuh menjadi kota pegunungan dengan nama Arosuka.
Dalam pantun ini dikatakan bahwa digunung Talang ini terdapat ular yang besar, yang disebut Ular Naga. Juga diberitakan bahwa pada beberapa tempat dikaki gunung ini terdapat banyak pohon bambu, yang dalam pantun ini disebut dengan buluh. Bambu itu bila tumbuh ditanah yang subur dan lembab (banyak hujan), maka anakannya akan berkembang biak dengan cepat, dengan tumbuh rapat disekitar rumpun bambu itu. Kalau dibiarkan maka lokasi itu akan penuh ditumbuhi bambu. Maka dalam pantun ini dianjurkan agar rumpun bambu itu dirambah, atau dipotongi.

Tafsir isi pantun :
Mulut manis bicara dusta semata, maksudnya lain dimulut lain dihati, yang dikatakan dari mulutnya kebanyakan adalah bohong, dengan maksud tertentu. Orang yang dibohongi itu tidak manyadarinya dan langsung percaya saja, sehingga dia menjadi terpedaya dan menderita karenanya. Biasanya digambarkan bahwa tokoh yang biasanya bermulut manis itu adalah pria, sedangkan yang menderita karena kepalsuan itu adalah seorang wanita. Seorang pria yang ingin mendapatkan cinta dari seorang wanita, telah melakukan segala cara untuk mencapai maksudnya itu. Terutama dengan bermulut manis mengatakan segala yang baik-baik saja tentang dirinya, pada itu semua tidak benar.Agar apa yang dikatakannya itu dapat dipercaya,maka dia berusaha berpenampilan dan bertingkah laku yang meyakinkan.
Dia tidak saja memberikan keterangan yang salah tentang dirinya, tetapi juga suka mengobral janji-janji bohong, kalau sigadis mau menjadi isterinya maka dia akan memanjakannya, membelikan ini, itu dan sebagainya. Sampai pada akhirnya siwanita sampai jatuh hati dan mau diajak untuk membentuk rumah tangga. Setelah berumah tangga, barulah semuanya terbuka, karena tak bisa disembunyikan lagi, sehingga perkawinan itu berakhir dengan perceraian. Ini juga dimaksudkan sebagai nasehat agar selalu berhati-hati dalam hal apa saja, jangan mudah terpedaya dengan rayuan gombal, harus diselidiki lebih dulu dengan cermat.
Penderitaan yang dialami oleh wanita yang kena tipu dalam memilih pasangan hidup,termasuk penderitaan berat, karena hidupnya sudah cacat, dia sudah menjadi janda, apalagi kalau sudah mendapatkan anak. Dia akan sulit mendapatkan suami lagi, beda dengan sipria yang masih bisa menjual rayuan gombalnya pada wanita lain. Dalam hal ini dan dalam beberapa hal lainnya wanita memang tidak bisa disamakan dengan pria.
Disamping itu, mulut manis, rayuan gombal atau kebohongan tidak hanya terjadi pada hubungan percintaan, bisa juga dalam banyak hal yang lain, seperti dalam dunia perdagangan, dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Pantun ini juga memberi peringatan untuk selalu berhati-hati dalam memutuskan sesuatu , apalagi dalam hal yang amat penting dan berskala besar, dalam segala hal.



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >




Powered By PageCache
Generated in 10.46927 Seconds