|
Page 13 of 24 Luruih jalan ka kampuang Jati, Basimpang jalan ka Tangah Sawah. Iduik sapantun roda padati, Sakali ka-ateh sakali ke bawah. Artinya:
Lurus jalan ke kampung Jati, Bersimpang jalan ke Tengah Sawah. Hidup sepantun roda pedati, Sekali keatas sekali kebawah. Tafsir sampiran : Kampung Jati dengan Tangah Sawah sebenarnya tidak ada hubungannya. Kedua kata ini adalah nama dari tempat atau desa. Kampung Jati ada dikota Padang, sedangkan kampung Tengah Sawah ada di Bukittinggi, jadi jauh sekali. Disini terbukti lagi bahwa yang diutamakan dari pantun ini adalah persamaan bunyi akhir antara sampiran dan isi, serta kandungan yang memang sangat dalam pada isi pantun. Tafsir isi pantun : Hidup sepantun roda pedati, sekali keatas, sekali kebawah. Tentunya yang dimaksud adalah pedati yang sedang berjalan, sehingga rodanya selalu bergerak. Gerakan roda pedati itu menimbulkan inspirasi pengarang untuk menjadikannya pantun. Pedati adalah sejenis kendaraan pengangkut barang dizaman dulu yang digerakkan dengan tenaga kerbau. Kalau didaerah lain pedati ada juga yang digerakkan dengan tenaga sapi atau kuda, kalau di Sumatera Barat, umumnya dengan kerbau. Pada waktu kosong saja pedati itu sudah sangat berat, apalagi kalau penuh berisi barang. Bayangkan kalau bagian dari roda sedang berada dibawah sekali, berapa berat beban yang dipikulnya. Namun hal itu tidak lama , sebentar posisinya akan digantikan oleh bagian lainnya dari roda itu. Dan pada saat bagian roda tadi sedang berada pada tempat paling atas dari gerakan melingkar itu, maka pada waktu itu dia merasa sangat senang, berada dibagian atas dan tampa beban sama sekali. Hal itu berlangsung terus menerus, selagi roda pedati itu masih bergerak. Walaupun tidak persis seperti itu, namun itulah gambaran dari kehidupan manusia didunia ini, yang dalam pantun ini dikatakan: “hidup seperti roda padati”. Kalau ini disadari sepenuhnya maka hidup ini akan tenang, tidak gelisah, dari itu janganlah berputus asa selagi berada dibawah, dan janganlah sombong bila sedang berada diatas. Berputus asa dan sombong itu adalah dua hal yang dilarang dalam agam Islam, jadi memang ada relevansinya antara adat dan agama.
|