|
Page 16 of 24
Dek ameh sagalo kameh, Dek padi mangko manjadi. Hiduik dirantau taraso lameh, Dek marasai satiok hari. Artinya:
Karena emas semuanya kemas (beres) Karena padi semuanya jadi. Hidup dirantau terasa lemas, Karena merana setiap hari. Tafsir sampiran : Karena ada emas yang cukup, maka apa saja yang direncanakan dapat dikerjakan dengan baik . Demikian pula karena banyak memiliki padi maka semua pekerjaan menjadi. Emas dan padi memang merupakan dua macam harta yang sangat berharga bagi masyarakat Minang. Kalau kedua benda itu ada tersimpan dirumah, maka tenanglah pikiran. Seorang dikatakan kaya kalau padinya banyak tersimpan didalam lumbung dan banyak simpanan emasnya dalam peti. Orang Minang zaman dulu biasanya menabung dalam bentuk emas. Tafsir isi pantun : Orang Minang memang suka merantau, pada umumnya merteka berhasil dirantau dalam menemukan mata pencaharian yang baik. Namun sebelumnya tidak sedikit penderitaan yang mereka tanggungkan, sebab orang Minang merantau itu sifatnya memang untung untungan,biasanya mereka tidak mambawa modal yang cukup untuk pergi merantau, baik modal uang maupun modal kepandaian. Mereka pergi merantau dengan tujuan untuk mencari kepandaian melaluji pengalaman dan mencari uang untuk bekal hidup. Yang merekan bawa hanyalah akal atau kelihaian, bahkan kadang-kadang tempat yang akan dituju dirantau itupun belum jelas. Ini dapat dilihat dari lagu berikut :
Di Taluak Bayua den tamanuang, Den lapeh pandang bakulilieng, Tabayang rantau nan kadi jalang, Dimakoh beko badan manompang.
Jadi tempat menompang saja belum pasti setiba di Jakartta nanti, yang jelas merantau, berangkat saja dulu, nanti setiba dirantau dipikirkan pula. Sungguh suatu keberanian yang luar biasa. Itulah yang menyebabkan para perantau Minang itu mengalami penderitaan yang berat pada saat-saat permulaan itu. Tetapi berkat kegigihan dan malu kalau gagal, maka umumnya meraka berhasil survive. Tentu ada juga beberapa pengecualian, ada yang bernasib sial, sehingga terpaksa pulang kampung dalam keadaan gagal, untuk ongkos pulang saja terpaksa dikirimi dari kampung. Yang dituju dalam pantun ini adalah perantau yang bernasib malang, yang tidak atau belum berhasil, dia sudah merasa bosan tinggal dirantau karena merana setiap hari. Mungkin berbagai cara telah diusahakannya, namun belum berhasil juga, atau anak ini termasuk yang cengeng tidak tabah, cepat berputus asa.
|