Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 06 January 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24


Dek ameh sagalo kameh,
Dek padi mangko manjadi.
Hiduik dirantau taraso lameh,
Dek marasai satiok hari.

Artinya:

Karena emas semuanya kemas (beres)
Karena padi semuanya jadi.
Hidup dirantau terasa lemas,
Karena merana setiap hari.

Tafsir sampiran :
Karena ada emas yang cukup, maka apa saja yang direncanakan dapat dikerjakan dengan baik . Demikian pula karena banyak memiliki padi maka semua pekerjaan menjadi. Emas dan padi memang merupakan dua macam harta yang sangat berharga bagi masyarakat Minang. Kalau kedua benda itu ada tersimpan dirumah, maka tenanglah pikiran. Seorang dikatakan kaya kalau padinya banyak tersimpan didalam lumbung dan banyak simpanan emasnya dalam peti. Orang Minang zaman dulu biasanya menabung dalam bentuk emas.

Tafsir isi pantun :
Orang Minang memang suka merantau, pada umumnya merteka berhasil dirantau dalam menemukan mata pencaharian yang baik. Namun sebelumnya tidak sedikit penderitaan yang mereka tanggungkan, sebab orang Minang merantau itu sifatnya memang untung untungan,biasanya mereka tidak mambawa modal yang cukup untuk pergi merantau, baik modal uang maupun modal kepandaian. Mereka pergi merantau dengan tujuan untuk mencari kepandaian melaluji pengalaman dan mencari uang untuk bekal hidup. Yang merekan bawa hanyalah akal atau kelihaian, bahkan kadang-kadang tempat yang akan dituju dirantau itupun belum jelas. Ini dapat dilihat dari lagu berikut :

Di Taluak Bayua den tamanuang,
Den lapeh pandang bakulilieng,
Tabayang rantau nan kadi jalang,
Dimakoh beko badan manompang.

Jadi tempat menompang saja belum pasti setiba di Jakartta nanti, yang jelas merantau, berangkat saja dulu, nanti setiba dirantau dipikirkan pula. Sungguh suatu keberanian yang luar biasa. Itulah yang menyebabkan para perantau Minang itu mengalami penderitaan yang berat pada saat-saat permulaan itu. Tetapi berkat kegigihan dan malu kalau gagal, maka umumnya meraka berhasil survive. Tentu ada juga beberapa pengecualian, ada yang bernasib sial, sehingga terpaksa pulang kampung dalam keadaan gagal, untuk ongkos pulang saja terpaksa dikirimi dari kampung.
Yang dituju dalam pantun ini adalah perantau yang bernasib malang, yang tidak atau belum berhasil, dia sudah merasa bosan tinggal dirantau karena merana setiap hari. Mungkin berbagai cara telah diusahakannya, namun belum berhasil juga, atau anak ini termasuk yang cengeng tidak tabah, cepat berputus asa.



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >




Generated in 11.84612 Seconds