|
Page 3 of 24 Surantieh keloknyo dalam, Batangkapeh lubuak tampuruang. Kami nangko umpamo balam, Mato lapeh badan takuruang, Artinya:
Surantih keloknya dalam, Batangkapas lubuk tempurung. Kami ini umpama balam, Mata lepas badan terkurung. Tafsir sampiran : Surantih dan Batangkapas adalah nama dari dua buah kota kecil yang terletak di Kabupaten Pesisir Selatan, merupakan kota pantai dengan pemandangan yang sangat indah. Keindahan itu menimbulkan inspirasi untuk mengabadikannya dalam sebuah pantun. Surantih keloknyo dalam, menyatakan bahwa jalan menuju Surantih itu berkelok-kelok, atau berbelok-belok menelusuri pantai Barat Sumatera dengan ombaknya yang besar. Belok (tikungan) jalan itu dalam-dalam , ada yang melingkari sebuah teluk . Disamping itu kota Batangkapeh, yang juga terletak ditepi pantai, memiliki yang dinamakan “lubuk tempurung”. Yaitu air laut yang menjorok kedarat, dilingkari oleh daratan, sehingga kelihatan sebagai tempurung kelapa, dinamakan lubuk tempurung. Biasanya istilah lubuk itu digunakan untuk air tergenang yang didapatkan pada pada aliran sungai, tidak dilaut. Disini mungkin karena teluk itu hampir dilingkari oleh daratan, hanya sedikit yang terbuka kelaut, maka dinamakan lubuk. Tafsir isi pantun : Kami ini umpama balam: yaitu burung tekukur, yang selalu dikurung sendirian dalam sangkar. Masih untung dinding sangkar itu dibuat transparan, sehingga balam tersebut bisa melihat keluar. Kadang-kadang ada pula kebiasaan orang yang menutup sangkar itu dengan kain, sehingga gelap. Bagi yang punya burung yang penting adalah menikmati suara burung itu. Maka dengan mengurungnya ditempat yang gelap mungkin burung itu akan rajin berbunyi, kasihan burung itu. Pantun ini mengibaratkan penderitaan seseorang (biasanya wanita) yang sama dengan burung dalam sangkar, dikurung. Dia dimanjakan, segala kebutuhannya dipenuhi, istilah Minangnya adalah “dipingit”. Sehari-hari harus berada dirumah saja, tidak boleh keluar, kalau ada keperluan penting misalnya mau pergi mandi ke-tepian mandi, yang biasanya agak jauh dari rumah, harus ditemani orang lain. Wanita yang diperlakukan seperti itu adalah wanita yang sudah meningkat dewasa, sudah saatnya akan dicarikan jodoh. Biasanya kalau dalam satu rumahada wanita yang sedang dipingit, akan diketahui oleh banyak orang kampung. Sehingga kalau ada pemuda yang akan mencari pasangan, maka dilakukanlah pendekatan melalui famili lebih dulu. Terakhir setelah melalui proses yang panjang dan rumit, barulah dipertemukan orangnya. Kalau semua keluarga sudah sepakat, maka dizaman dulu, yang bersangkutan tidak bisa menolak, harus menerima saja sebagai satu anugerah. Tapi kalau dizaman sekarang yang menentukan adalah yang bersangkutan, keluarga paling menasehati. Bagi yang bersangkutan proses dipingit itu adalah suatu penderitaan, ibaratnya burung dalam sangkar, pandangannya lepas keluar , itupun dalam jarak yang sangat terbatas, sementara badannya dikurung, tidak bebas bergerak.
|