Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 06 January 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24


Putuih tasentak tali balam,
Putuih digigik samuik api.
Tasintak lalok tangah malam,
Diambiek banta ditangisi.

Artinya:

Putus tersentak tali balam,
Putus digigit semut api.
Tersintak tidur tengah malam,
Diambil bantal ditangisi.

Tafsir sampiran :
Balam adalah termasuk jenis burung yang suka dipelihara orang, karena bunyinya yang merdu. Dalam sampiran pantun ini, burung balam itu bukan dikurung dalam sangkar, akan tetapi diikat kakinya engan tali. Kemudian tali itu putus, tentunya burung tersebut akan terbang bebas. Yang menyebabkan tali itu putus ternyata karena digigit oleh semut api.

Tafsir isi pantun :
Tasintak lalok tangah malam, diambiek banta ditangisi. Menggambarkan seseorang yang sedang susah, ditimpa musibah, menderita. Dia hidup seorang diri, biasanya bersedih karena berpisah dengan kekasihnya, dapat pula seorang duda yang teringat kembali segala kebaikan bekas isterinya, tapi dia sudah kawin lagi dengan orang lain, atau berbagai macam musibah lainnya yang tidak terkait dengan percintaan. Semuanya itu membuat dia gelisah, tidak ada selera makan, tidur tidak enak , tak ada nafsu untuk bekerja dan sebagainya.
Pada suatu kali ditengah malam, tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya, seterusnya pikirannya kembali diganggu oleh persoalan yang dihadapinya, yang sangat rumit dan menyedihkan. Matanya tidak mau lagi dipejamkan, mau mengobrol untuk membagi kesedihan, tak ada teman, dia tinggal seorang diri. Satu-satunya yang dapat dia kerjakan adalah memeluk bantal, lalu menangis.



Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >




Generated in 9.55086 Seconds