|
Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian |
|
|
|
|
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati
|
|
Friday, 06 January 2006 |
|
Page 23 of 24 Hari Salasa pukuah satu, Urang malapeh laying-layang. Lai sarawa indak babaju, Jo-a dilawan dunie urang. Artinya :
Hari Selasa pukul satu, Orang melepas layang-layang. Ada celana tidak berbaju, Dengan apa dilawan dunia orang. Tafsir sampiran : Hari Selasa pukuah satu, urang malapeh layang-layang. Ini pengertiannya bahwa pada hari Selasa jam satu siang, banyak orang melepas layang-layang. Dikatakan jam satu siang sebab tak mungkin orang main laying-layang pada jam satu malam. Dan biasanya orang main layang-layang itu tidak hanya sendirian. Memang bermain layang –layang itu biasa dilakukan pada tengah hari, pada waktu ada gerakan udara yang cukup kuat. Lalu mengapa pada jam satu? Sebab pada jam 12,30 orang Minang biasanya shalat zuhur dulu, lalu makan, termasuk orang yang main layang-layang ini. Tafsir isi pantun : Lai sarawa tak babaju, joa dilawan dunie urang; pernyataan ini bukanlah arti yang sebenarnya, Cuma menyatakan orang ini miskin, sehingga dia tidak pantas berbaur dengan orang lain, karena ada kekurangannya. Dengan lain pengertian, pantun ini membuktikan adanya kelas dalam masyarakat. Ada golongan masyarakat yang lebih rendah derjadnya dari yang lain,sehingga sehingga tidak pantas berkumpul bersama. Akan tetapi pantun ini biasanya dialamatkan kepada seorang yang miskin, yang banyak kekurangannya, sehingga lebih memilih menyendiri dari pada bergaul dengan orang banyak. Bisa juga menggambarkan sifat cengeng sifat rendah diri dari orang lain dan lebih suka ber-iba hati.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
|