|
Page 7 of 24
Palupuah ikannyo banyak, Dibaliek aua nan baduri. Hati rusuah bimbang kok banyak, dima karajo kamanjadi. Artinya:
Palupuh ikannya banyak, Dibalik aur yang berduri. Hati rusuh bimbang kok banyak, Dimanalah kerja akan menjadi. Tafsir Sampiran : Palupuh adalah sebuah desa yang terletak 25 Km dari Bukittinggi pada jalan menuju Medan dan adalah kampung penulis sendiri. Lokasi desa ini persis pada pertemuan dua buah sungai, Dizaman dulu sungai ini banyak ikannya, sehingga kedai nasi dipasar Palupuh itu terkenal dengan gulai ikannya. Kendaraan yang meliwati jalan raya Bukittinggi – Medan biasanya singgah disini untuk makan gulai ikan sungai (namanya ikan garieng). Pada sebuah lubuk yang cukup besar, ikannya dilarang diambil, dibiarkan saja berkembang biak, sehingga jumlahnya sudah sangat banyak dan besar-besar. Lubuk ini terletak dipinggir jalan dan menjadi semacam tempat wisata yang banyak dikunjungi orang. Sebagian dari pinggiran lubuk tersebut ditumbuhi oleh tumbuhan aur (sebangsa bambu yang berduri). Pada zaman Jepang, ikan yang ada dilubuk tersebut mulai habis, karena ditembaki dan digranat oleh tentara Jepang. Sekarang ini ikan dilubuk itu dan ikan disungai pada umumnya hampir tidak ada lagi artinya, semenjak intensifikasi penanaman padi sawah, yang banyak menggunakan racun, juga telah meracuni sungai. Tafsir isi pantun : Isi dari pantun ini juga menyangkut dengan penderitaan atau parasaian, yang selalu berhati rusuh (sedih). Kesedihan itu bila diiringi dengan bimbang atau ragu-ragu dalam bertindak, akan menyebabkan pekerjaannya atau usahanya tidak akan berhasil. Dan kegagalan usahanya itu akan menambah kesedihan atau penderitaannya. Pantun ini juga menasehatkan agar jangan ragu-ragu dalam bertindak, harus tegas dan bersungguh sungguh. Suatu rencana pekerjaan yang telah dipersiapkan dengan matang, terperinci dengan dasar pemikiran yang kuat, harus dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh, tidak boleh ragu atau bimbang. Hal ini lebih diutamakan lagi kepada orang yang kehidupannya tidak terlalu baik. Dia harus memikirkan apa yan g akan dilakukannya yang realistis, sesuai dengan kesanggupannya, dan melaksanakannya tampa ragu. Biasanya orang yang kehidupannya payah, akan lebih suka bermenung dan berangan-angan, dengan memikirkan sesuatu yang muluk-muluk yang tidak akan mungkin bisa didapatnya. Berusahalah mulai dari yang kecil dulu sesuai kemampuan, lalu secara bertahap, dengan ketekunan tampa bimbang, mulai diperbesar.
|