|
Page 8 of 24 Badabua – dabua ombak Puruih, Baranti tantang Pariaman. Dimalah badan takkan kuruih, Anak nan tujuah den tangguangkan. Artinya:
Berdebur – debur ombak Purus, Berhenti tentang Pariaman. Dimanalah badan tidak akan kurus, Anak tujuh orang yang ditanggungkan. Tafsir sampiran : Purus adalah nama sebuah desa pantai dalam kota madya Padang. Ombak laut ditepi pantai ini memang besar; pada malam hari yang tenang, biasanya deburan ombak tersebut terdengar kehampir seluruh pelosok kota Padang. Demikian besarnya ombak pantai Padang ini, sehingga secara pelan selalu menguras pantai itu Ombak besar ini tidak hanya terjadi dipantai Padang, akan tetapi disepanjang pantai Barat, yang dalam pantun ini dikatakan berhenti tentang Pariaman. Tafsir isi pantun : Dimana badan tidakkan kurus, anak tujuh orang yang ditanggungkan. Orang ini menderita sampai menyebabkan badannya kurus, karena mempunyai tujuh orang anak yang menjadi tanggungannya. Jadi orang ini mempunyai keluarga besar dengan banyak anak. Biasanya antara satu anak dengan lainnya tidak terlalu jauh beda umurnya. Sehingga semuanya hampir sama besar. Mata pencahariannya tidak mencukupi untuk memenuhi keperluan keluarganya dengan tujuh anak tersebut. Pantun ini menyatakan bahwa penderitaan yang dialami oleh keluarga ini adalah disebabkan oleh karena anak yang banyak. Hal ini sebenarnya terbalik, kehidupan keluarga ini payah sebenarnya disebabkan oleh mata pencaharian atau pekerjaan mereka sedikit atau kecil, tidak mencukupi. Kalau mereka itu orang kaya maka anak yang tujuh itu tidak masalah, dapat dipenuhi kebutuhannya, bahkan mungkin dapat lagi membantu orang miskin lainnya. Jadi yang salah sebenarnya bukanlah anaknya yang banyak, tapi mata pencahariannya yang kecil. Pantun ini juga menasehatkan agar jangan cengeng, jangan suka ngelamun, tapi hartus cepat bertindak tegas. Sebab pantun ini mengindikasikan sifat cengeng dari sebagian orang; dengan anak yang banyak, dia seolah-olah tidak bisa hidup senang, tidak bisa bahagia dan sebagainya. Sehingga dia berputus asa, pasrah menerima apa adanya.
|