Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Kok indak nan dihati
Nan tajadi
Cubolah sanang jo
Nan tajadi
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Friday, 06 January 2006
Article Index
Tafsir Pantun Minang (3) : Pantun Parasaian
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24


Urang Lolong kaiklah kapeh,
Sagagang hanyuik ka Muaro.
Urang kok condong lai batueh,
Awak kok condong karabah sajo

Artinya:

Orang Lolong kaitlah kapas,
Segagang hanyut ke Muara.
Orang kok condong ada yang menopang,
Kita kok condong akan rebah saja.

Tafsir sampiran :
Lolong adalah nama tempat di kota Padang, ditepi pantai. Sedangkan yang dimaksud dengan kapas dalam pantun ini adalah tanaman pohon penghasil serat yang dalam bahasa Indonesia disebut kapuk randu. Sedangkan tanaman kapas yang sebenarnya yang merupakan tanaman semusim, dalam bahasa Minang disebut “kapas jawa”. Kapas dalam pantun ini berbentuk pohon yang tinggi, dengan dahan dan ranting yang biasanya tumbuh mendatar. Pada musim berbuah, kelihatan buahnya bergelantungan , dan memanennya dikait dengan mempergunakan galah, atau dalam bahasa Minang disebut “panggalan”. Lalu pada baris kedua dikatakan bahwa satu gagang dari kapas yang dikait itu jatuh kesungai dan seterusnya hanyut ke muara.

Tafsir isi pantun :
Isi pantun ini menggambarkan nasib malang seseorang bila diabndingkan dengan orang lain. Secara kias dikatakan bahwa apabila orang lain “condong”, ada yang menopangnya, sehingga tidak jadi rebah. Tapi apabila dia yang condong, tak ada yang akan menopangnya dan akan rebah saja.
Yang dimaksud engan condong dalam pantun ini adalah mengalami musibah, atau peristiwa yang menyedihkan. Kalau dia mengalami musibah tidak ada orang yang akan menolong, dibiarkan orang saja, hanya dia sendirilah yang dapat menolong dirinya. Biasanya ini dialamatkan kepada orang yang tidak mempunyai famili dekat, yang bisa dijadikan tempat mengadu, bila mengalami bahaya atau bila ingin mengadakan sesuatu seperti selamatan, pesta kawin dan sebagainya. Karena tak ada famili dekat, maka semuanya terpaksa ditanggulangi sendiri.
Secara tidak langsung, pantun ini juga mengisyaratkan bagaimana perlunya menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar, terutama dengan para tetangga. Satu hal yang juga diharuskan oleh agama kita. “Hablum minan naas”, hubungan dengan manusia harus dibina, tidak hanya dengan famili dekat saja. Cuma dalam kebudayaan Minang semuanya dikemukakan dalam bahasa kias. Kalau hubungan dengan tetangga khususnya dan ummat sekitar umumnya adalah baik maka semua orang adalah famili adalah keluarga, yang tidak akan membiarkan kita rebah bila sedang condong.
Pantun ini juga mengisyaratkan bagaimana kalau seseorang mengisolir dirinya dari masyarakat sekitar, menyisihkan diri dari orang lain, sehingga apabila dia mengalami musibah, akan dibiarkan orang saja, tidak ada yang mau menolong. Disamping orang tidak tahu bahwa dia mendapat musibah, orang juga ragu-ragu untuk menolongnya, sebab jangan-jangan dia tidak suka, sebab selama ini memang tertutup. Seseorang yang selalu shalat berjamaah ke masjid, bersama mengikuti pengajian atau wiridan, selalu ikut menhadiri undangan perkawinan, khitanan, tahlilan dan sebagaionya pasti tidak akan mengalami hal seperti itu. Bila seorang anggota jamaah misalnya sudah beberapa kali tidak datang shalat bersama kemasjid, maka orang lainnya akan bertanya dan mencari tahu apa sebabnya, kalau sakit maka orfang akan datang melihat, kalau perlu pertolongan, maka orang akan berusaha membantu, dan sebagainya.

Rami pasanyo Ujuang Guguak,
Rami manjalang hari patang.
Padi jo apo ka di tumbuak,
Alu tu bana nan lah hilang.

Artinya:

Ramai pasarnya Ujung Guguk, Ramai menjelang hari petang. Padi dengan apa akan di tumbuk, Alu itu benar yang sudah hilang.

Tafsir sampiran :
Ujuang Guguak adalah nama desa yang banyak terdapat di Sumatera Barat, diantaranya adalah desa yang terletak sesudah Baso kalau menuju ke Payakumbuh. Tapi didesa itu tidak ada pasar. Dalam sampiran ini dikatakan bahwa pasar yang terdapat didesa Ujung Guguk itu ramai. Dan ramainya itu biasanya menjelang hari petang, lebih ramai dari pada diwaktu pagi atau tengah hari. Fenomena ini adalah merupakan ciri dari pada pasar zaman dulu, yang berbeda dengan pasar zaman sekarang.
Dizaman dulu funsi dari pasar itu selain dari untuk berjual-beli, juga untuk berkumpul beramai-ramai, saling bertemu satu sama lain, seperti pasar keramaian, saling berlagak mempertontonkan baju baru, termasuk sambil mencari-cari pacar atau berpacaran. Keadaan ini sangat berarti pagi penduduk dipedesaan yang sudah bekerja keras, kesawah, keladang atau kehutan selama 6 hari penuh, maka mereka perlu hiburan, untuk pelepas lelah.Jadi mereka pergi kepasar itu tidak selalu untuk berbelanja atau mau menjual sesuatu, akan tetapi untuk hiburan untuk releks. Dan waktu yang tepat untuk itu adalah disore hari, pada sat sengatan matahari sudah mulai berkurang. Maka pasar yang diadakan sekali dalam seminggu itu lebih ramai dipetang hari.

Tafsir isi pantun :
Padi jo apo ka di tumbuak; ini berita tentang orang menumbuk padi dalam artian secara harfiah. Untuk memproses padi menjadi beras, dizaman dulu orang menggunakan lesung, ada yang dibuat dari batu ada pula dari kayu yang dipahat. Setelah padi dijemur hingga kering, dimasukkan kedalam lesung, lalu ditumbuk dengan menggunakan alu, yang terbuat dari kayu. Biasanya pekerjaan menumbuk padi itu dikerjakan oleh kaum wanita. Biasanya dikerjakan oleh satu orang, tapi bisa juga dua atau tiga orang dalam satu lesung, dengan cara bergantian.
Waktu alu ditumbukkan kepadi yang ada dalam lesung itu, terdengar bunyi berdentum. Bila ada tiga orang yang melakukannya maka bunyi dentuman itu tidak sama keras, tergantung tenaga masing-masing. Maka terdengarlah semacam irama yang sedap didengarkan. Apalagi kalau diselibngi pula dengan menumbuk lesungnya, bukan padinya, maka iramanya semakin ramai. Dengan demikian maka pekerjaan itu dilakukan dengan rileks, malah diiringi dengan senda gurau, gelak tawa.
Dalam pantun ini dikatakan bahwa padi tersebut tidak bisa ditumbuk, karena alu yang diperlukan tidak ada, sudah hilang. Sedangkan alu ini adalah alat utama untuk menumbuk padi itu yang sangat dibutuhkan. Sudah tentu tafsiran tersebut diatas, hanyalah sebagai kiasan, sedangkan arti yang sebenarnya dari pantun ini bukanlah demikian. Orang Minang yang masih mengerti pantun, dan mendengarkan pantun ini, asosiasi pikirannya samasekali bukan pada orang yang sedang menumbuk padi, tetapi kepada makna tersirat dengan pantun ini, yang bisa bermacam persoalan pula.
Pada dasarnya pantun ini mengibaratkan segala sesuiatu yang akan dikerjakan, akan tetapi alat atau orang yang sangat diperlukan untuk mengerjakannya, hilang lenyap, tidak ada lagi. Akibatnya rencana atau pekerjaan itu tidak dapat dilaksanakan. Peranan dari alat atau orang yang hilang itu sangat menentukan, tidak bisa diganti dengan yang lain. Sebagai contoh untuk masa sekarang ini, umpamanya seseorang yang ingin mengambil uang di ATM, tetapi kartunya hilang, tak bisa diganti dengan yang lain, kartu itu harus ditemukan dulu atau diganti. Atau seseorang yang akan membuka pintu kamar yang terkunci, tapi kuncinya hilang, dan sebagainya.
Dizaman dahulu biasanya pantun ini mengibaratkan seseorang yang menjadi tulang punggung dalam satu keluarga, sudah tidak ada, sudah meninggal dunia. Sewaktu keluarga tersebut mempunyai hajat besar, katakanlah akan menyelenggarakan pernikahan anaknya, maka mereka akan terus teringat kepada “tulang punggung” yang telah tiada tersebut. Demikian terpukulnya mereka dengan kehilangannya maka seakan-akan pekerjaan tersebut tidak akan dapat dilaksanakan.




Last Updated ( Wednesday, 04 April 2007 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 1 guest and 14 members online
Generated in 9.40582 Seconds